Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 39 : Mata Air Penyembuh Yang Mengering


__ADS_3

Sama seperti kebanyakan kota yang membangun tembok yang mengelilinginya, di kota ini juga menerapkan hal sama, hanya saja tidak setinggi kota lainnya, itu sekitar 10 meter dan jelas jika seseorang memanjatnya bukan sesuatu yang sulit.


Ada beberapa penjaga yang ditempatkan di luar gerbang utama yang dengan cekatan menanyai kelompok Ardhi.


"Jadi kalian petualang, tidak banyak orang yang datang berkunjung belakangan ini.. tapi semoga kalian bisa bersenang-senang di kota sederhana kami."


"Terima kasih."


Ardhi pikir kata 'sederhana' tidak cocok dengan tempat ini dan alasan kenapa tidak banyak orang berkunjung karena kemunculan monster namun hal itu telah diatasi sebelumnya.


Latifa secara sukarela menjelaskan keadaan kota pada Anastasia. Dia menceritakan bagaimana semua bangunan dibuat dengan baik, di sekitar jalan utama banyak pedagang yang menarik pembeli serta bagaimana pembayaran yang mereka lakukan.


Di sini hal seperti barter masih dilakukan, mereka juga masih mau menerima koin emas sementara koin perak dan tembaga mereka menolaknya.


"Satu koin emas itu berlebihan nyan."


Yang dikatakan Nisa adalah hal yang sama yang dirasakan semua orang, emas terlalu berharga untuk ditukar dengan satu barang.


"Mari gunakan material kalajengking untuk barter," Ardhi memberikan usulan yang tepat.

__ADS_1


Mereka bisa membeli makanan serta penutup tubuh yang berupa kain coklat bertudung, para gadis hanya mengenakan bra karena itulah ini sangat dibutuhkan untuk menyembunyikan tubuh mereka.


Anastasia berkata.


"Aku diminta Dewi Naya untuk datang ke tempat suci di tempat ini, tempatnya sendiri aku sama sekali tidak tahu."


"Kalau begitu mari kita tanya seseorang desu."


Risa melompat turun lalu berjalan ke dekat satu wanita yang baru selesai berbelanja.


"Ugh, apa kau anak hilang?" begitulah tanggapannya akan dirinya.


"Ah, kalian pasti dari luar... tempat suci itu ada di alun-alun kota, kalian akan menemukannya saat pergi ke sana."


Mereka bergegas untuk pergi ke tempat yang dimaksud yang merupakan sebuah air mancur raksasa yang telah mengering, di tengahnya dan patung Dewi Naya yang dibuat dengan baik walaupun Ardhi yakin bahwa wajahnya tidak seperti itu.


Dia memiliki bentuk langsing dengan pahatan gaun panjang serta rambut yang diikat satu ke belakang. Di tangannya memegang bola yang di dalamnya berupa ukiran dua ikan.


"Dewi Naya terlihat sangat cantik," ucap Purin dengan jujur, lalu mengambil waktu sejenak untuk melanjutkan dengan bertanya ke arah Ardhi.

__ADS_1


"Apa dia terlihat seperti ini?"


"Tidak, dia jauh lebih cantik."


"Aku tidak bisa membayangkannya."


Mery memotong dengan mengatakan bahwa ada seseorang yang mendekat pada mereka, dia adalah seorang pria tua dengan jenggot putih.


"Kalian semua terlihat sangat tertarik dengan Dewi Naya, apa ada sesuatu yang bisa aku bantu?"


Dia memperkenalkan diri sebagai pemilik tanah di kota ini.


"Kami kebetulan lewat dan hanya penasaran dengan tempat suci ini."


Ardhi menjawab dengan semestinya.


"Ah begitu, sayang sekali tapi tempat suci tidak seperti tempat suci sesungguhnya. Itu pasti membuat kalian kecewa."


"Sesungguhnya?"

__ADS_1


"Berbeda dari sekarang tempat ini sangatlah ramai di masa lalu terlebih saat kolamnya diisi oleh air yang bisa menyembuhkan segala penyakit."


__ADS_2