Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 45 : Perpisahan


__ADS_3

Sebuah pesta diadakan untuk merayakan kembalinya kota Sandria, Ardhi berdiri di belakang Anastasia yang berjongkok selagi melihat para semut yang berjajar di bawah kakinya.


Ia dengan sengaja melemparkan remah-remah roti untuk mereka.


"Jadi ini yang dinamakan semut."


"Kamu terlihat bersenang-senang di sana."


"Hehe aku selalu ingin bisa melihat dan rasanya aku benar-benar bersyukur."


"Begitu."


Ardhi menjelaskan apa yang akan dilakukannya sekarang tentu bagian di mana soal Dewi Naya ia hilangkan. Singkatnya ia ingin merekrut Anastasia untuk menjadi bagian dari kelompoknya.


"Aku menolaknya, aku akan kembali ke guild Lost Carnival, bagiku itu rumahku sendiri."


"Begitu."


"Tapi, jika Ardhi butuh bantuan kamu bisa menghubungiku, aku akan selalu membantumu."


Ardhi tersenyum hangat ke arahnya, terlepas dari reputasi buruk yang melekat pada guild tersebut sepertinya mereka memperlakukan anggotanya dengan baik.


Latifa yang sudah mabuk merangkul Ardhi dari samping.


"Ayo minum Ardhi, kita bisa menghabiskan waktu bersama."


Sedangkan Risa memeluk kaki Ardhi.


"Benar desu, cobalah minuman ini."

__ADS_1


"Kalian berdua."


"Kau tidak minum?" tanya Anastasia.


"Aku tidak ingin berurusan dengan alkohol atau sebagainya."


"Itu sangat jarang, aku juga berpikir kenapa orang mau meminum sesuatu yang membuatnya hilang kesadaran."


Ardhi hanya tersenyum ragu sebelum menyeret keduanya untuk duduk di meja yang disediakan. Anastasia mengikuti di sebelah saat Nisa berdiri di atas meja mengangkat birnya sedangkan yang lain mengangkat perasan jus buah.


"Untuk kota ini, bersulang nyan."


"Bersulang."


Hari itu ditutup dengan kegembiraan dan keesokan paginya kelompok Ardhi maupun Anastasia berpisah, dari kejauhan mereka bisa melihat bagaimana ia telah berjalan semakin jauh lalu menghilang saat debu pasir menutupinya.


"Kita juga."


Sebelum mereka menuju kuil mereka menyempatkan diri untuk mandi di bawah air terjun dan beristirahat sebentar di sana.


"Aku sangat lega bahwa kita tidak lagi melihat pasir nyan."


"Aku juga berpikiran begitu desu."


"Yah, kau banyak digendong jadi tidak sepantasnya mengeluh."


"Aku juga kepanasan."


Mery hanya fokus selagi membersihkan rambutnya, saat purin masuk ke dalam kolam semua orang diam untuk melihatnya.

__ADS_1


"Kenapa kalian diam begitu?"


Purin tidak menyembunyikan dirinya lagi sekarang ia memiliki telinga dan ekor di tubuhnya dengan rambut pirang mempesona.


"Ternyata dadamu besar juga Purin, biarkan aku menyentuhnya."


"Tidak, aku tidak mau."


"Cuma sebentar, kalian tangkap dia."


"Tidak ini pelecehan, Ardhi selamat aku.. aku akan diperkosa."


Ardhi yang memperhatikan dengan sendok sayur di tangannya hanya menghela nafas panjang. Baginya para anggotanya benar-benar liar.


Dia memasukan beberapa potong ikan serta bumbu ke dalam kuali kemudian mengaduknya untuk beberapa saat sampai aroma harum tercium darinya.


(Aku juga ingin mencoba masakanmu, ketika keluar aku akan segera mencobanya)


(Bukannya Anda akan kembali ke alam dewi)


(Aku ini dewi bermasalah, aku rasa aku tidak ingin kembali ke sana dan memutuskan tinggal di sini lalu menetap di rumah yang sama dengan Ardhi dengan beberapa anak kita)


Ardhi tak tahu harus mengatakan apa, dewi ini kemungkinan besar sedang mabuk atau apapun itu.


Ketika rekannya selesai membersihkan diri serta mengenakan pakaian kembali, mereka mendapatkan semangkuk sup untuk menghangatkan diri.


"Dari sini kita akan pergi ke kuil tapi aku akan mengatakan apa yang sebenarnya akan kita lawan di sana."


"Sepertinya itu bukan lawan yang mudah bukan?" atas pernyataan Latifa, Adhi mengiyakan.

__ADS_1


Dibandingkan laba-laba sebelumnya, Guardian of Goddess yang menjaga kunci lebih kuat.


__ADS_2