
Dibandingkan memikirkan mereka, Ardhi memutuskan untuk pergi ke ladang yang sebelumnya telah dia bajak sebelumnya.
Itu cukup luas karena itulah ia meminta anggota partynya dan juga para pelayannya untuk membantu.
"Hari ini kita akan menanam benih lobak, kalian sudah siap."
"Yeeh, aku akan berjuang tuan," teriak Carmen .
"Lila juga."
Ardhi mengangguk puas, pertama ia menunjukan bagaimana caranya, selanjutnya semua orang mengikuti di masing-masing lahan yang telah diputuskan.
Mery tidak mengenakan baju besinya, sekarang dia hanya mengenakan gaun sederhana seperti yang lainnya.
"Ternyata dada Mery besar juga."
"Aku juga baru tahu hal tersebut."
Ardhi memilih untuk mengabaikan perkataan menyesatkan tersebut.
Saat pertama kali menanam lobak semua orang sangat menyukai buahnya karena itulah Arhdi mencoba untuk memperbesar lahannya.
Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan tapi semua itu bisa dilakukan secara bertahap, jika Ardhi gagal mengelola tanah ini bukan hal mustahil tiga kerajaan akan kembali berperang.
Benar, ketika Ardhi lelah dia akan memberikan dorongan untuk dirinya bahwa semuanya demi kedamaian dunia
Setelah mereka selesai menanam, mereka mulai menyirami ladang dengan air.
"Kerja bagus desu, dibandingkan tempat manapun yang aku kenal, di sini lebih terasa hidup."
"Syukurlah kalau Risa berpikir demikian."
"Aku yakin kau tidak cocok jadi petualang desu, kau cocok jadi petani?"
__ADS_1
"Aku anggap itu pujian," balas Ardhi tersenyum masam.
Dia berteriak ke arah Dryad yang masih giat dengan pekerjaannya.
"Kita sudah selesai, sebaiknya kamu segera berhenti."
"Eh? Padahal aku masih ingin melakukannya."
"Besok bisa dilanjutkan."
"Baik."
"Dia terlihat sangat menikmatinya nyan."
Dari dulu Dryad ingin melakukan ini, sayangnya dia tidak tahu harus melakukan apa, Ardhi merasa senang bahwa dirinya juga sedikit membantu.
"Kalau begitu kalian mandi saja duluan, aku akan menunggu nanti."
"Apanya yang nanti, kita bisa mandi bersama."
"Benar yang dikatakan Carmen, apa para perwakilan mau ikut juga?"
"Aku tidak masalah."
"Begitu juga aku."
Pemandian air panas memang muat untuk semua orang meski begitu, ini terlalu berlebihan.
Ardhi hanya bisa melihat pemandangan semua orang yang telanjang.
"Ini tidak baik untuk mentalku."
Dia berfikir untuk membuat pemandian satu lagi untuknya.
__ADS_1
Beberapa bulan berikutnya para ras kucing telah mendapatkan kediaman mereka dan mereka mulai bekerja di ladang.
Beberapa buah sudah siap dipanen dan mereka bertugas untuk memetiknya.
"Bukannya mereka tumbuh sedikit lebih cepat?" tanya Ardhi pada Dyrad yang berdiri di sampingnya.
"Wilayah pohon besar memang memiliki kemampuan seperti itu selain mengusir para monster untuk masuk, apa ini bagus tuan?"
"Iya, jika begini kita bisa mempersiapkan untuk musim dingin dan juga mengirimkan banyak persediaan ke tiga kerajaan."
"Aku senang mendengarnya, Sebelumnya tempat ini sangat sepi tapi sekarang berubah pesat, oh yah ada sebuah hadiah yang ingin kuberikan pada tuan?"
"Apa itu?"
"Tolong sedikit menunduk."
"Hmm."
Ardhi melakukan apa yang diminta Dryad padanya, dia bertanya-tanya apa itu hingga ia merasakan sebuah bibir lembut menyentuh pipinya.
"Dryad?"
"Ini hadiahmu, entah kenapa kalau sekarang aku bisa jatuh cinta dan membuang kesucianku."
"Itu perkataan yang menakutkan loh."
Dryad meletakkan jari tangannya di bibir seolah sedang menggoda dengan senyuman nakal.
"Benarkah?"
Beberapa hari berikutnya sekitar 50 kereta dari ketiga kerajaan telah berkumpul, mereka mengambil bagian mereka sendiri lalu meletakkannya ke dalam kereta sebelum izin untuk kembali ke negaranya.
Seluruh persediaan ini akan diberikan pada daerah-daerah yang terdampak peperangan sebelumnya dan dengan itu kedamaian dari tiga kerajaan akan terus terjaga sampai kapan pun.
__ADS_1