
"Kalau begitu, mohon untuk kembali dengan selamat semuanya."
"Iya "
"Dadah nyan."
Keempat pelayan ditambah seorang guild master dan hantu mengantar kepergian mereka. Ardhi duduk di bagian depan mengendari kereta bersama Latifa sementara Purin, Nisa dan juga Mery berada di belakang bersama barang bawaan mereka.
"Aku selalu menantikan perjalanan ini, aku tidak sabar untuk melihat kampung halamanku lagi."
Latifa menyela dengan wajah lelah.
"Aku tidak mau kau kecewa tapi kita tidak akan datang begitu saja ke sana, kita akan muncul secara sembunyi-sembunyi."
"Kenapa begitu?"
"Sudah jelas kan, dalam kondisi perang seperti ini, coba bayangkan jika ada manusia datang membawa putri mereka, mereka jelas akan langsung menyerang kita."
"Benar juga."
"Yah aku tidak tahu, tapi selagi aku bisa menebas mereka dan bertarung aku tidak masalah nyan."
"Aku iri bagaimana kamu bisa berfikiran sesimpel itu."
"Mery juga pasti merasakan hal sama denganku."
Mery mengacungkan jempolnya.
"Kalian berdua memang penggila pertarungan."
Ardhi menjelaskan rincian perjalanan mereka.
"Sebelum ke ibukota kita akan berkunjung ke kuil air jadi kita akan mengambil sedikit jalan memutar."
__ADS_1
"Aku tidak keberatan sih, tapi seingatku kuil air sudah tidak beroperasi lagi, apa Ardhi punya tujuan lain?" tanya Purin sedikit penasaran.
"Aku belum tahu apa yang harus dilakukan hanya saja aku perlu ke sana."
"Jika kau bilang begitu, kurasa aku akan tahu saat kita di sana."
Setelah meninggalkan kota pemandangan padang rumput landai menyambut mereka, di sisinya terdapat danau yang dengan indah memantulkan kemilau warna biru dari langit.
"Ardhi bisakah kita menepi sebentar, rasanya aku ingin mandi di danau."
"Aku tidak keberatan, bagaimana dengan yang lainnya?"
"Kami juga ingin mandi di sana."
Di desak dengan pandangan para gadis yang berbinar, Ardhi mengarahkan kereta ke pinggir danau hingga para gadis melepaskan pakaiannya untuk melompat masuk, karena mereka mengenakan pakaian renang itu tidak akan membuat seseorang terganggu.
"Dingin nyan."
"Rasakan ini."
Ardhi memutuskan turun untuk memberikan air pada kuda yang dipekerjakan untuk mengantarkan mereka sampai dia melihat dari kejauhan rombongan kereta yang berlari ke arahnya. Jumlahnya lima kereta yang masing-masing membawa keluarganya.
Ia dengan sengaja menghentikan mereka.
"Kenapa kalian terlihat terburu-buru?"
"Kami baru saja keluar dari hutan di sana, dan para monster tengah mengejar kami."
Mereka semua menunjuk ke arah belakang namun tidak ada apapun di sana.
"Apa kalian sedang berbohong?"
"Apa yang kau katakan mereka sedang berlari ke sini."
__ADS_1
Bagaimana pun Ardhi melihatnya jelas tidak ada apapun di sana, ia bahkan harus memastikannya beberapa kali. Ketika mereka hendak pergi Latifa yang sejak tadi diam-diam mendengarkan muncul.
"Latifa."
"Mereka terkena sihir ilusi, mungkin aku bisa mengobati mereka."
Sedikit rapalan darinya, penglihatan mereka telah dipulihkan.
"Sekarang coba lihat lagi ke belakang kalian," kata Latifa.
"Eh, tidak ada apapun? Kami sangat berterima kasih."
"Itu tidak masalah, sebaiknya kalian tinggal dulu untuk beristirahat. Aku yakin kuda kalian tidak akan sanggup lagi untuk membawa kalian."
"Kurasa kamu benar."
Sekarang jumlah wanita yang mandi kian bertambah.
Para pria hanya duduk di pinggirannya selagi mencoba menyiapkan makanan yang mereka bawa.
"Kami punya daging, kurasa ini akan sangat enak jika dipanggang dengan saos dan sisanya dibuat sup."
"Kalau begitu gunakan stok daging kami juga."
"Aku juga punya sayuran dan ikan."
"Aku mengerti."
"Tidak kusangka Ardhi sangat ahli memasak."
"Ini biasa bagiku," balasnya lalu melanjutkan.
"Jadi apa ada dari kalian yang mau menjelaskan kenapa kalian berakhir terkena sihir ilusi?"
__ADS_1
"Kurasa ini ada sangkut pautnya dengan hutan terkutuk," ucap salah satunya demikian.