
Pagi berikutnya mereka melanjutkan perjalanan bersama, sama seperti kelompok Ardhi tunggangan milik Anastasia juga telah dilahap makhluk cacing. Apapun yang bergerak cepat dia akan menyerang lalu melahapnya.
Itu juga mungkin yang terjadi pada rombongan petualang yang dikerahkan oleh para pedagang.
"Ada kemungkinan mereka selamat dan ada juga tidak, aku belum sepenuhnya bergerak dari gua sebelumnya karena itulah aku juga tidak bisa memastikan hal tersebut," ucap Anastasia selagi menusukan pedang tepat di atas seekor kalajengking raksasa.
Walau ia memiliki kekurangan dalam penglihatan hampir seutuhnya tidak mempengaruhi gerakannya.
"Jadi ini kekuatan dari guild Lost Carnival nyan, mereka memang seperti itu tapi kemampuan mereka bukan main-main."
Semua orang harus setuju dengan perkataan Nisa, kelompok Ardhi harus mengalahkan satu kalajengking bersama-sama sementara wanita ini hanya melakukannya seorang diri.
Mereka dengan teliti memeriksa kembali jejak di pasir, ada beberapa jejak baru yang menuntun mereka naik ke bukit pasir.
"Bagaimana sekarang Ardhi, jelas sekali rute yang mereka lalui sedikit melenceng dari kota Sandria."
"Mungkin mereka kehilangan peta mereka, karena sudah terlanjur kemari mari selamatkan mereka dulu, Mery apa kau masih bisa bergerak?"
"Tempat ini terlalu panas."
"Tak masalah jika kau melepaskan seluruh amormu dan juga perisainya, biar kitw simpan di dalam penyimpanan."
"Kurasa itu lebih baik tapi untuk perisai aku akan tetap membawanya."
"Kau mengerti."
"Aku benci ini desu."
__ADS_1
"Aku seorang Idol, tidak suka jalan kaki."
Keluhan semakin banyak dikeluarkan para wanita, seolah mengingat sesuatu Anastasia mengeluarkan sebuah botol.
"Ini dapat melindungi kulitmu dari sinar matahari, hanya saja pemakainya harus melepaskan pakaian."
"Kurasa itu bisa sedikit menghilangkan rasa panas, mari lepaskan bagian atas saja."
Semua orang mengikuti usulan Latifa dan hanya menyisakan bra di atas mereka, bahkan untuk Ardhi sendiri dia melepaskan pakaiannya juga karena terik matahari.
Semua orang berhenti untuk melirik ke arahnya.
"Ardhi, lihat tubuhmu apa kau benar-benar berotot seperti itu?"
"Kurasa ini karena latihanku sehari-hari," balasnya pada Purin.
"Uwaah... aku seperti seorang gadis berbahaya."
"Kau baru menyadarinya... berhentilah mencekikku."
"Ayo lanjutkan," perkataan Anastasia kembali menggerakkan semua orang untuk mendaki bukit.
Di atasnya mereka bisa menemukan sebuah oasis dengan danau luas yang memantulkan kemilau warna langit biru, di sekelilingnya ditumbuhi pohon kelapa serta semak-semak yang menghasilkan buah keunguan.
"Tempat ini tidak ada di peta nyan, apa itu muncul dalam waktu singkat?"
"Mari periksa dan pastikan kita tetap bersiaga."
__ADS_1
Atas pernyataan Ardhi semua orang mengangguk kecil. Baginya berhati-hati seperti ini sangat dibutuhkan walaupun semua yang terlihat sekarang tidak mencurigakan.
Purin berteriak saat sebuah tangan tiba-tiba saja menggenggam kakinya.
"Kyaaa."
Semua orang bereaksi akan hal itu, dan melihat sosok pria yang terbaring di tanah secara bersamaan.
"Air, minta air."
"Apa orang ini buta, di sana bukannya ada danau nyan."
"Yah, aku yang buta."
"Ah, bukan maksudku.."
Nisa buru-buru menarik perkataannya, dia mungkin lupa dengan kondisi Anastasia yang benar-benar terlihat wajar.
Untuk sekarang Ardhi memberikan kantong air padanya hingga keadaan pria itu membaik. Ia memiliki pedang di samping tubuhnya yang menandakan bahwa dia seorang petualang.
"Apa kau sendirian di sini?"
"Tidak, ada beberapa orang lagi di sana?"
"Masih ada yang hidup rupanya desu."
"Kondisinya cukup lemah biar aku mengobatinya dulu dan kita bisa menanyakannya lebih lanjut," potong Latifa.
__ADS_1