
Hibiki memutar kunai di tangannya sebelum menerjang maju, dia sedikit membungkukkan tubuhnya untuk mempercepat setiap pergerakan miliknya. Menebas dari bawah ke atas kemudian berputar dan pindah ke samping dan kanan. Setiap berbenturan dengan pedang Ardhi itu menciptakan gesekan bersamaan suara memekikkan telinga.
Hal yang sulit saat melawan Hibiki adalah dia benar-benar harus bisa menjaga jarak, Hibiki terus mendesaknya bertarung hingga musuhnya sulit untuk menebas.
Ardhi menarik pedang kembali membuatnya menggunakan dua pedang. Ketika dia melakukannya Hibiki telah melipat gandakan tubuhnya dengan jurus bayangan.
Beberapa berhasil dikalahkan hingga berubah jadi bayangan sayangnya yang asli mampu menyelinap lalu menjepit kepala Ardhi dengan pahanya.
Ketika dia hendak menusukan senjatanya pedang Ardhi yang lain telah terbang dan menangkisnya hingga kunai itu terlepas sementara sosok Hibiki mundur secepat dia bisa.
"Menggerakkan pedang, sihir seperti apa itu?"
Pertanyaannya tidak dijawab dengan kata-kata melainkan oleh sebuah serangan empat pedang yang terus mengincarnya dengan kecepatan tinggi sehingga dia menarik kunai yang baru.
Dentrang.... dentrang... dentrang.
Ketika celah terbuka Ardhi telah muncul di depannya siap menebas dari bawah dalam posisi horizontal. Serangan itu menebas perutnya membuat darah menyembur dari mulutnya bersamaan dirinya yang terlempar ke udara.
"Guakh."
Ketika dia bangun ujung pedang Ardhi telah mengepungnya dari segala arah.
"Habisi aku jika kau mau."
"Aku akan melepaskanmu asalkan kau mau memberitahuku tentang apa yang kau lakukan kemarin?"
"Aku."
__ADS_1
Seorang anggota Skull Darkness hendak melemparkan sebuah mantera sihir padanya namun pedang Ardhi lebih dulu menancap di kepalanya hingga tumbang.
"Sepertinya mereka berniat membungkammu."
"Mereka memintaku untuk membuat lingkaran sihir untuk meledakkan kota ini, aku akan beritahu setiap titiknya."
Jleb.
Tanpa terduga sebuah pedang dua tangan telah menembus Hibiki dari belakang, pedang tersebut memiliki bentuk aneh seperti lidah ular dan berwarna merah terang.
Seorang yang melakukannya adalah pria berkacamata.
"A-apa yang?"
"Kau sudah tidak dibutuhkan lagi."
"Vares?"
"Ketika kami serius, kamilah yang akan menjadi pemenangnya."
Vares tanpa membuang-buang waktu langsung menyerang Ardhi setelah membuat empat pedang yang melayang di udara terpantul ke segala arah, dia mengayunkan pedangnya dari atas sehingga Ardhi harus menahannya dengan dua pedang yang disilangkan sebelum tubuhnya ditendang keluar dari gang dan menghantam orang-orang di jalanan.
Melihat sosok Vares, semua orang secara naluri melarikan diri dan kemudian sebuah ledakan terjadi di mana-mana secara serempak.
Itu menciptakan asap ke udara dengan api yang membakar di setiap bangunannya. Jelas mereka sudah terlambat untuk mencegahnya.
"Kota ini akan hancur dan kami juga akan mendapatkan Purin."
__ADS_1
"Kau pasti salah satunya penggemar fanatiknya bukan?"
"Penggemar, lebih dari itu... aku menyukai seseorang yang bisa menghasilkan uang untukku."
Trang.
Ketika Ardhi menahan tebasan tersebut tubuhnya terlempar kembali, kekuatan musuhnya terlalu besar meski begitu dia juga tidak ingin mundur begitu saja dan balik menyerang hingga keduanya saling tertahan satu sama lain di jarak saling merasakan nafas masing-masing.
Nisa kemudian muncul.
"Ardhi?"
"Tak apa, aku akan mengatasi ini... bagaimana yang lainnya?"
"Mereka telah berkumpul untuk melindungi Purin."
"Kalau begitu bisa bawa wanita di dalam gang itu dan biarkan Latifa menyembuhkannya."
"Dia siapa?"
"Akan aku jelaskan nanti, cepatlah."
"Baik."
Nisa menggendong Hibiki kemudian menghilang dengan cara berlari.
Entah Vares atau Ardhi keduanya melompat untuk menjaga jarak.
__ADS_1
"Konyol sekali, kau berusaha menyelamatkan musuh."
Ardhi tidak memiliki alasan khusus, hanya saja dia merasa tidak bisa membiarkannya mati begitu saja.