
Memasuki mulut gua satu-satunya di padang gurun ini, mereka semua mengitari bagian dalamnya yang disinari tanaman lumut bercahaya. Tidak seperti di luar tempat ini terkesan lembab serta dari celah-celah bebatuan yang menggantung di langit-langit masih meneteskan air yang menyegarkan yang membentuk kolam-kolam kecil di bawahnya.
Purin tak ingin ditinggal di kota jadi ia memutuskan untuk ikut dengan sebuah palu besar di tangannya sebagai pertahanan diri, agar dia tetap aman Mery akan terus berjaga dengannya bersama Risa di garis belakang.
Latifa berada di pertengahan dengan Nisa sedangkan Ardhi dan Anastasia berada di depan, bertarung dengan banyak orang menjadi keuntungan besar saat memasuki labirin.
Dua ekor laba-laba jatuh dari atas, sebelum mereka mendarat Anastasia sudah lebih dulu memotong mereka di udara lewat tebasannya.
Dua lagi muncul di depan mereka namun dalam sekejap mereka tertembus pedang yang terbang dengan kekuatan Ardhi.
"Aku tidak kebagian nyan."
"Kurasa kamu tidak usah khawatir desu, karena laba-laba yang lain kini mulai berdatangan kemari."
Dari persimpangan labirin puluhan laba-laba bergerak maju, tubuh mereka lebih besar dari laba-laba biasa dan juga kaki panjang mereka membuat mereka bergerak dengan cepat.
Kelompok Ardhi kini mulai berpencar untuk menjatuhkannya. Risa menciptakan tombak es yang melesat untuk menumbangkan laba-laba yang mendekat, dia harus sedikit menahan diri dalam penggunaan sihirnya agar tidak merusak labirin hingga membuat mereka terkubur hidup-hidup.
__ADS_1
Seekor laba-laba melompat pada Purin yang ditahan baik lewat perisai Mery, di saat yang sama Purin melompat ke atas laba-laba tersebut lalu menghantamkan palunya membuat kepalanya hancur.
"Aku juga bisa bertarung," katanya menunjukkan wajah bangga.
Tak lupa di antara pertarungan itu Latifa merapalkan sihir pendukung.
Di sisi lain orang yang membunuh paling banyak tetap Ardhi dan Anastasia, mereka membelah para laba-laba manjadi dua bagian dan setelah 30 menit barulah mereka berhasil menghabisi semuanya.
Anastasia menyarungkan kembali pedangnya sama seperti yang Ardhi lakukan.
"Tidak ada permata di tubuh mereka, mungkin kita harus bergerak semakin dalam."
Labirin ini hanya memiliki lima lantai yang keseluruhannya hanya diisi laba-laba, beberapa jalan tertutup oleh sarang tebal yang harus diatasi oleh Nisa ataupun Risa dengan menggunakan sihir api.
Ada beberapa tengkorak manusia ditemukan diantara jaring-jaring tersebut namun seperti sebelumnya tidak ada tanda-tanda dari permata.
Latifa menyelesaikan doanya sebelum mengikuti Ardhi kembali untuk melangkah jauh semakin dalam, di lantai terakhir adalah sebuah area luas tanpa apapun.
__ADS_1
"Tidak ada apapun di sini nyan."
"Tidak, di atas."
Orang yang lebih dulu menyadarinya adalah Anastasia, dia tidak menggunakan penglihatan melainkan telinganya yang bisa mendengarkan suara dari makhluk hidup.
Sesuatu yang sejak tadi menggantung jatuh ke bawah menciptakan material dari tanah menyembur ke udara memaksa semua orang melindungi wajah mereka dengan tangan.
"Apa-apaan ini, ukurannya terlalu besar," teriak Purin memandang bagaimana makhluk itu berdiri dengan gagah, ke delapan kakinya masing-masing terlihat menyerupai sabit dengan delapan mata yang masing-masing berwarna merah terang.
Tidak diragukan lagi bahwa itu terlihat seperti seekor bos dalam sebuah game.
Ardhi menarik pedang ke dua tangannya sementara pedang lain terbang di atasnya.
"Apa sebaiknya kita mundur," ucap Anastasia.
"Makhluk ini jelas tidak akan membiarkan kita melakukannya, lihat baik-baik perutnya."
__ADS_1
Tepat di sana tiga permata yang mereka cari menempel dengan baik.