Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 63 : Pembangunan Di Wilayah Pohon Besar


__ADS_3

Dryad membawa mereka ke depan sebuah pohon besar yang menjadi pusat wilayah ini, tidak ada apapun di sekitarnya kecuali sedikit area kosong dan sisanya hutan rimbun yang di sekelilingnya di penuhi pegunungan.


Gunung utara berbatasan dengan kerajaan elf, gunung selatan berbatasan dengan kerajaan manusia sementara gunung timur berbatasan dengan kerajaan demi-human untuk di barat berbatasan dengan laut, konon tempat itu merupakan wilayah ras iblis sebelumnya.


Paling tidak seperti itulah gambaran kasar dari wilayahnya.


"Pertama kita akan mendirikan tenda sampai bangunan rumah dibangun, untuk Risa tolong urus soal gerbang perpindahannya."


"Serahkan padaku, di sini ada pohon besar sama seperti di kota Georginia boleh aku menggunakannya sebagai gerbang perpindahan."


Pohon yang dimaksud Risa adalah pohon yang ditanam Ardhi di tengah kota. Dryad agak sedikit ragu untuk menjawabnya kendati demikian dia menyetujuinya asal tidak merusak pohonnya.


Dan semua orang bekerja sesuai yang sudah direncanakan.


Ardhi sedang menghitung seberapa besar rumah yang akan dibangunnya, dengan tambahan perwakilan tiga kerajaan, itu seharusnya lebih besar dari tempat tinggal mereka sebelumnya.


"Tuan terlihat sangat serius?"


"Kamu tidak harus memanggilku dengan sebutan tuan."


"Tidak, tidak, setelah melihat Anda entah kenapa saya harus memanggil Anda demikian, tolong izinkan saya untuk terus memanggil Anda seperti itu."


Itu sedikit menyeramkan ketika orang asing melakukannya.


Ardhi memilih untuk menyerah dan membiarkan Dryad memanggilnya seperti itu, Florentine yang telah mengenakan pakaian pekerja kayu menghampiri.


"Bagaimana tuan, apa Anda sudah memutuskan rumah seperti apa yang akan kita bangun?"


"Aku pikir itu rumah sederhana dengan dua lantai, dan juga kita harus membuat salah satu ruangan jadi penyimpanan bahan makanan."


"Sebentar lagi musim dingin, itu memang harus dilakukan, kalau begitu aku akan mulai."

__ADS_1


"Aku akan membantu nanti setelah memeriksa Risa."


"Dimengerti."


Dryad menutupi mulutnya dengan bagaimana seorang elf mampu membangun sendirian.


"Itu mengejutkan sekali, apa beliau seorang profesional?"


"Yah aku juga tidak tahu, tapi aku yakin dia seorang ahli pedang."


Ardhi memeriksa yang lainnya yang sedang membuat tenda sebelum beralih ke arah Risa yang sedang memahat satu-satunya pohon besar dengan pola lingkaran sihir.


Dryad tampak memucat.


"Po-pohonnya, meski tidak masalah. Apa itu akan bekerja dengan baik?"


"Ini saran dari guild master aku yakin akan bekerja, lebih dari itu kita bisa pulang pergi ke sana."


"Semoga saja Dryad menyukainya."


"Hmm."


Beberapa Minggu Ardhi membantu Florentine untuk membangun rumah bersama Mery, Risa, Nisa dan juga Lynn. Untuk sisanya mereka sedikit membuat perkebunan untuk mengisinya dengan berbagai benih yang diberikan oleh Ardhi.


Tiga bulan berikutnya mereka menyelesaikan semuanya.


"Itu rumah yang bagus nyan."


"Setuju."


"Karena kita hanya mengerjakan dengan hanya sedikit orang, aku bersyukur bahwa kita menyelesaikannya dengan baik."

__ADS_1


Dryad menatap dengan mata bersinar.


"Apa saya juga mendapatkan kamar tuan?"


"Tentu saja."


"Memangnya sebelumnya kau tidur di mana?" tanya Latifa.


"Di bawah bintang-bintang dan bulan."


"Dengan pakaian tipis itu, kamu pasti sangat kuat menahan udara dingin."


Dyrad adalah peri hutan, dia tidak merasa demikian.


Tak hanya ruangan Ardhi juga bahkan sengaja membuat pemandian air panas untuk semua orang meskipun Carmen sedikit kecewa tidak bisa menghabiskan waktu seperti biasanya dengan ruang sempit.


"Jangan melihatku seperti itu."


"Tapi tuan, jika begini kita tidak bisa berduaan lagi."


"Bukannya kamu selalu menyelinap."


"Ugh, tolong jangan mengatakannya di depan umum."


Tak lama suara Nemesis mencapai telinga semua orang. Dia berdiri di depan semua orang dengan Mira melayang di sampingnya.


"Sudah waktunya panen, tolong bantu juga di sini."


"Serahkan padaku nyan."


"Aku juga desu."

__ADS_1


Ardhi hanya menatap semua orang dengan senyuman di wajahnya.


__ADS_2