Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 72 : Kedatangan Perwakilan


__ADS_3

Tiga hari berikutnya setelah Ardhi membawa para gadis kucing ke wilayah pohon besar, mereka disibukkan dalam pembangunan rumah mereka sendiri. Florentine memberikan arahan pada mereka semua dengan profesional.


Dibanding bertarung dengan pedang dia lebih bersemangat dalam hal membangun.


Rencananya sendiri Ardhi akan fokus dengan wilayah ini selama satu tahu sebelum kembali melanjutkan petualangannya, meski demikian kelompoknya masih dengan rutin berlatih, mereka sekarang bahkan sedang latihan yoga.


Dua Minggu berikutnya Orihime dikawal Sui telah berkunjung untuk membahas soal wilayah mereka sendiri.


Ardhi meminta untuk mereka membuat jalan dan dengan senang mereka menyetujuinya, ketika mereka mulai bisa berpergian dengan lebih baik maka mereka bisa melakukan perdagangan.


Wilayah barat merupakan sebuah pelabuhan di laut karena itulah mereka ingin bertukar dengan sayuran dan buah-buahan di wilayah pohon besar.


"Kalau begitu aku mengendalkan kalian."


Orihime mengepalkan tinjunya dengan semangat.


"Serahkan padaku."


Ardhi ingin sekali menyentuh kesembilan ekornya yang bergoyang namun itu bisa dibilang sebuah kejahatan.


Latifa memandang kepergian kedua utusan dari ras iblis tersebut. Pada dasarnya Orihime tidak perlu datang sendiri.


"Aku tidak menyukai gadis rubah itu, dia seperti ini ingin mendekati Ardhi secara intim."


Ardhi hanya tersenyum masam sebagai balasan, dia tidak ingin mengatakannya bahwa sebelumnya Orihime mengajaknya untuk melakukan itu.


Dryad keluar dari tanah tepat masuk ke dalam gaun Latifa.


"Heh, kenapa kau muncul di sana?"

__ADS_1


"Ah, maafkan aku.. saat aku menembus tanah aku kesulitan untuk melihat bagian atasku."


"Bukannya itu berbahaya."


Kemampuan Dryad adalah bisa bergerak dari satu pohon ke pohon lainnya ataupun ke dalam tanah. Itu lebih sulit saat dia masuk ke dalam tanah.


"Lebih dari itu, ada sebuah kereta datang kemari, apa yang sebaiknya aku lakukan? Mungkin dia musuh."


"Tiga kerajaan sudah sepakat untuk tidak melakukan perang mari temui saja, mereka pasti perwakilan."


Beberapa kereta telah berhenti di depan Ardhi masing-masing menurunkan satu orang sebelum kereta kembali bergerak.


Salah satunya adalah Purin yang melambaikan tangan.


"Halo, halo, akhirnya aku bisa pindah juga kemari dan masih tetap menjadi idol."


"Aku sebenarnya ogah bareng dengan mereka tapi tidak kusangka kami malah bertemu di jalan."


Kemudian yang masih tetap tenang adalah putri dari kerajaan manusia, Asenola.


"Untuk sekarang mari ikuti kami," Ardhi dengan sopan memimpin jalan, dia sedikit terkejut saat Nemesis menyambut mereka.


"Tuan."


"Nemesis."


Ardhi melirik ke arah Nebius, dia adalah kakaknya dari yang terlihat mungkin dia tidak memiliki hubungan baik dengannya.


Ketika Arhdi bersiap untuk hal yang buruk, Nebius telah melompat ke arah Nemesis, ia memeluknya dengan erat selagi menenggelamkan wajahnya ke dalam dada Nemesis.

__ADS_1


"Adikku yang manis, manis sekali, apa kamu baik-baik saja?"


"Kakak kamu terlalu manja."


"Tak apa, di sini tidak ada ibu, tolong elus rambutku."


"Baik-baik."


Semua orang memucrat.


"Apa mataku telah membohongi diriku, kepribadian Nebius berubah?" teriak Purin.


"Tidak, mungkin saja dia memang seperti itu," tambah Asenola.


"Masalah untuk kalian, kalau saja ibuku tidak terlalu keras aku pasti akan bisa terus bersama adikku yang imut... saat ibu memberikannya pada penjual budak aku menangis tiga hari tiga malam."


"Sampai segitunya."


"Kakakku hanya terpengaruhi lingkungan, biasanya dia gadis yang lembut dan manja."


Purin mengangkat tangannya.


"Boleh aku mengubur diriku di tanah."


"Kau?"


"Aku ingin mandi bolehkah?" potong Asenola.


"Silahkan ikuti saya, kakak juga."

__ADS_1


"Mandi bareng Nemesis."


Ardhi hanya bisa memegangi kepalanya lelah.


__ADS_2