Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 19 : Kembali Ke Rumah


__ADS_3

Sementara Nisa berdoa di depan makam penduduk desa, Ardhi, Purin, Latifa dan Mery telah berdiri menunggunya di dekat kereta.


Mereka sudah berpamitan pada semua orang dan kini mereka akan kembali ke kota Georginia meninggal desa Nyansa. Awalnya perjalanan mereka hanya menunju kota bawah tanah Arfadius sayangnya terjadi berbagai hal hingga berada di sini.


Latifa melambaikan tangan pada Nisa.


"Kita pergi sekarang."


"Baik nyan."


Yang lain hanya tersenyum kecil ke arahnya sebelum naik ke atas kereta lalu bergerak pergi.


Setelah berpisah dengan Purin, kedatangan kelompok Ardhi disambut para pelayan di kediamannya, mereka adalah Carmen, Lynn, Lila dan juga Nemesis.


"Senang bahwa tuan dan semuanya baik-baik saja, kami merasa khawatir karena Anda pulang lebih lambat dari seharusnya," kata Lynn yang mendapatkan anggukan dari pelayan lain.


"Banyak hal terjadi tapi kami senang bisa kembali."


Carmen memotong selagi memeluk pergelangan Ardhi.


"Untuk merayakannya, mari buat perayaan."


Latifa mengumpat.


"Mereka semakin akrab satu sama lain, ini membuatku kesal."


"Kau mungkin harus bisa berani sepertinya nyan."


Dengan sikap mereka Ardhi selalu merasa benar-benar berada di rumah sekarang.


"Kalian sudah kembali, syukurlah... kukira kalian sudah jadi hantu."


Mira muncul selagi menangis.

__ADS_1


Tidak banyak orang yang akan jadi sepertinya jika mereka mati, Ardhi tidak ingin mengatakan itu padanya, dia hanya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, mengganti pakaiannya dengan pakaian baru lalu menyantap makanan bersama semua orang termasuk Eve yang baru kembali dari guild.


Malam harinya Ardhi mengundang Nemesis ke kamarnya, dia mengetuk pintu dengan malu-malu lalu masuk ke dalam, dia hanya mengenakan pakaian tipis di tubuhnya.


"Maaf membuat Anda menunggu tuan, ini pertama kalinya untukku jadi tolong lakukan dengan lembut."


Ardhi menghela nafas panjang, jelas sekali bahwa Carmen berada di balik semua ini. Dia pasti mengatakan sesuatu yang aneh padanya.


"Tuan?"


"Aku tidak mengundangmu untuk melakukan itu, bisakah kau duduk dulu."


"Sesuai yang Anda inginkan, apa aku sebaiknya melepaskan pakaianku juga sekarang."


"Sudah kubilang aku tidak berniat melakukan hal seperti itu."


Ardhi hampir merasa frustasi, dia menenangkan dirinya dan memulai pembicaraan dari awal.


"Florentine?"


"Kami bertemu dengannya dalam perjalanan, ia mengatakan bahwa ia sedang mencari seorang Elf berambut hitam, aku merasa bahwa mungkin saja itu adalah Nemesis."


Untuk sementara waktu Nemesis tidak mengatakan apapun, ia menahan nafasnya sebelum menjelaskan.


"Sebenarnya aku adalah bagian dari keluarga bangsawan di kerajaan elf, anak pertama dari ratu yang memerintah di sana."


Ardhi tidak terkejut lagi, sebelumnya Purin juga mengatakan bahwa dia juga anak ratu dari kerajaan demi-human.


Di benua ini wanita memiliki peran penting dibandingkan pria.


"Mungkin aku sudah menduganya sejak lama, jadi ibumu yang membuangmu dari kerajaan dan berakhir sebagai budak."


"Tidak, ibuku hanya tidak memiliki jalan keluar lagi, di kerajaan kami ada sebuah legenda bahwa jika ada elf berambut hitam lahir maka elf akan ditimpa musibah karena itulah mereka semua mengusirku dari sana."

__ADS_1


"Alasannya?"


"Elf berambut hitam merupakan perwujudan dari penyihir kegelapan yang sebelumnya menciptakan makhluk bencana."


Ardhi sekilas membayangkan sosok makhluk bencana yang pernah ia temui. Makhluk itu tidaklah normal.


"Setelah tuan tahu, apa tuan akan mengusirku?"


"Tentu saja tidak, karena kamu memiliki rambut yang sama bukan berarti kamu penyihir kegelapan bukan, walaupun kau penyihir kegelapan aku tidak benar-benar akan mengusirmu."


Wajah Nemesis tampak berkaca-kaca.


"Aku merasa senang, untuk Florentine ia sebelumnya adalah pengawalku, aku dijual tanpa sepengetahuannya mungkin dia marah."


"Ah begitu, jika aku bertemu dengannya lagi, apa tak masalah untuk memberitahukannya?"


Nemesis mengangguk sebagai jawaban.


"Ngomong-ngomong tuan?"


"Kamu bisa kembali, dan jangan terlalu percaya dengan Carmen."


"Apa itu artinya aku tidak menarik."


"Tidak, bukan itu, ah, lebih baik kamu tidur dan juga Lynn dan Carmen sebaiknya kalian tidak mengajarkan hal aneh-aneh."


Keduanya mengintip dari celah pintu dan berlari sekuat yang mereka bisa.


"Kita ketahuan."


"Tuan memang luar biasa."


Malam itu menjadi malam yang tenang untuk semua orang.

__ADS_1


__ADS_2