
Sehari telah berlalu semenjak mereka memulai perjalanan, pagi itu Ardhi dikejutkan dengan seorang wanita yang berdiri di jalan yang mereka lalui, wanita itu memiliki rambut panjang emas dengan celana pendek serta pakaian yang tidak menutupi perutnya serta mantel yang menggantung di belakang lehernya.
Ia memiliki mata hijau jade dengan tahi lalat di bawah bibirnya. Yang mencolok dari dirinya adalah sepasang telinga lancip yang menandakan bahwa dirinya seorang elf.
Dia wanita cantik tapi di saat yang sama ia juga seorang pengguna pedang yang piawai, hal itu dibuktikan bagaimana dia telah membunuh puluhan monster di bawah kakinya.
Menyadari Ardhi mendekat wanita itu berbalik dengan wajah datar.
"Maaf, aku mungkin telah mengganggu perjalanan kalian."
"Tidak apa, kurasa kami hanya kebetulan datang di waktu yang kurang tepat."
"Begitu."
Wanita elf itu mulai memasukkan monster yang dia kalahkan ke dalam tas penyimpanan sebelum berbalik pergi.
"Kalau begitu, sampai jumpa."
"Ah iya."
Ardhi tidak mengatakan apapun, dia elf dan seharusnya dia tidak berada di kerajaan manusia terlebih seorang diri. Mungkin ada masalah atau sesuatu yang dia ingin coba lakukan di sini.
Ketika dia memikirkannya, elf tersebut berhenti lalu berbalik.
"Ngomong-ngomong apa kau pernah melihat elf dengan rambut hitam?"
Satu elf yang Ardhi kenal memiliki rambut hitam adalah elf yang bekerja di kediamannya. Apa dia mencari Nemesis? Apa dia orang jahat?
Ardhi memutuskan untuk tidak mengatakannya.
__ADS_1
"Aku tidak melihatnya."
"Begitu, sampai nanti."
Keheningan mewarnai perpisahan yang singkat tersebut. Sampai sekarang Ardhi penasaran siapa sebenarnya wanita barusan. Dia bahkan tidak ingin memperkenalkan namanya.
Dia kembali ke kereta dan mempersilahkan mereka untuk kembali melanjutkan perjalanan. Nisa mengintip dari kereta untuk bertanya pada Ardhi.
"Siapa wanita barusan nyan?"
"Entahlah, tapi kurasa mungkin kita akan bertemu lagi suatu hari nanti."
"Biasanya insting Ardhi selalu tepat."
Setelah meninggalkan pemuda tersebut, elf wanita berambut emas telah berhenti di tepi danau untuk membasuh wajahnya.
Dia menatap pantulan dirinya di air selagi bergumam.
Beberapa hari berikutnya kelompok Ardhi telah sampai di sebuah desa yang ditinggalkan, ada tanaman Ivy yang menjalar di setiap bangunannya meski demikian beberapa bangunan masih bisa ditempati dengan baik.
Nisa melompat dari kereta selagi membentangkan tangannya.
"Di sinilah desaku, desa Nyansa... selamat datang untuk kalian semua."
Dengan nama yang imut sungguh mengejutkan bahwa tempat ini sebelumnya adalah tempat sebuah tragedi mengerikan terjadi.
Setelah mengumpulkan seluruh penduduk Ardhi memimpin bersama yang lainnya.
"Untuk sekarang mari bersihkan desa ini bersama-sama."
__ADS_1
Perkataannya dibalas dengan teriakan semangat mereka. Mereka membagi tugas dengan tiga tim.
Tim pekerja, tim memasak serta tim pemusnah hama.
Purin jelas tidak terlalu pandai untuk pekerjaan semacam itu, karenanya dia ikut dalam tim memasak.
"Kalau begitu kita mulai."
Ardhi memindahkan puing-puing bangunan yang hancur bersama para pria lainnya, untuk tim lainnya diisi oleh wanita, orang tua dan anak-anak saja.
Menjelang sore hari mereka telah selesai seutuhnya dan semua orang bisa mengantri untuk mendapatkan makanan, karena Ardhi tidak bisa menemukan sosok Nisa akhirnya dia berjalan untuk mencarinya.
Dia bertanya pada Mery yang baru menyelesaikan pekerjaannya.
"Mery, di mana Nisa?"
"Aku melihatnya baru pergi ke sana."
"Aku mengerti."
Ardhi menuju belakang desa dan di sana dia bisa melihat Nisa berdiri di depan puluhan gundukan tanah dengan penanda kayu di atasnya, jelas itu adalah sebuah makam para penduduk sebelumnya.
"Nisa?"
"Ardhi kah, hmmm sudah lama aku tidak kemari. Rasanya sangat nostalgia."
"Begitu, makanan sudah siap sebaiknya kau juga segera mengantri atau Latifa akan menghabiskan jatahmu."
"Itu tidak boleh terjadi nyan, ayo pergi."
__ADS_1
Nisa berjalan melewatinya sementara Ardhi membungkuk rendah ke arah makam tersebut sebelum berjalan mengikutinya.