
"Tut Tut Tut." bunyi hape berdering.
Setelah beberapa kali di telpon akhirnya di angkat pak Anton.
"Maaf pak ganggu malam gini, terima kasih ya pak hari ini bapak sudah nge-jagain Angga."ucap Rani.
"Iya non gak apa-apa lagian non juga sibuk jadi saya gak berani ganggu makanya saya yang jaga Angga."ucap pak Anton.
"Hem baik lah pak makasih ya sekali lagi."lanjut Rani.
Kemudian Rani pergi kembali ke taman iya melihat meja gelas piring masih berantakan. Rani mulai membersikan satu persatu.
Namun Rani tidak menyadari bahwa pak Kevin sedang memperhatikannya.
"Hari ini hari yang melelahkan bahkan harus pake pakaian kayak gini mana aku tidak terbiasa. Tapi aku tidak malu - maluin pak Kevin kan kalau sempat aduh aku bisa di pecat."ucap Rani geleng-geleng kepala.
"Hei!!! panggil seseorang.
"Dari mana asal suara itu."ucap Rani kebingungan.
"Bukan kah aku sendirian."ucap Rani lihat sana sini.
"Hei saya di atas." ucap pak Kevin.
"Seperti suara pak Kevin, dan dia di atas." ucap Rani dalam hati.
Rani melihat bahwa pak Kevin di atas nya dan Rani terdiam dia berfikir pak Kevin mendengar semua ucapannya.
"Bagaimana ini apa pak Kevin dengar apa yang aku bilang tadi dan Sekarang dia marah sama aku." ucap Rani dalam hati muka cemas.
Kemudian pak Kevin turun menghampiri Rani dan berdiri di depan Rani. Pak Kevin mendekati Rani berjalan ke arah nya namun Rani terus jalan mundur karena pak Kevin berjalan di depan dan mendekatinya.
Hingga saat Rani sudah terpojok pak Kevin masih saja mendekatinya sehingga Rani sedikit gugup akan tingkah pak Kevin.
"Pak Kevin kenapa, kena.. kenapa.. bapak seperti ini."ucap Rani gugup.
kemudian pak Kevin mendekatkan wajah nya kepada Rani dan seakan mau mencium. Rani semakin panik mukanya mulai memerah dan panas.
Rani hanya terdiam dan hanya memalingkan wajahnya dari pak Kevin. Rani tidak bisa mengelak pak Kevin Semakin mendekat lalu pak Kevin mendekat-kan bibirnya ke telinga Rani lalu berbisik.
__ADS_1
"Istirahat lah ini sudah malam kamu bisa lanjut besok."ucap pak Kevin dengan hembusan Kevin di telinga Rani.
Rani hanya terbengong dan sedikit gemetar karna pak Kevin berbisik dan telinga nya kena hembusan pak Kevin.
"Aduh pak Kevin mau bilang gitu aja kan bisa dari atas tadi ngak harus begini."ucap Rani dalam hati.
Yang dimana Rani semakin panik dan detak jantung yang semakin cepat pak Kevin juga belum pindah dari hadapannya.
"Baik pak saya akan lanjut kan besok."ucap Rani pelan.
"Satu lagi jangan panggil saya pak Kevin di rumah kamu boleh panggil itu kalau kamu di kantor."ucap pak Kevin berbisik lagi.
"Jadi saya harus manggil bapak bagaimana."ucap Rani memandang pak Kevin.
Dan Rani tidak sengaja terpesona akan pak Kevin Rani melihat hidung mancung, bibir tipis dan pandangan tajam dari pak Kevin dan seketika wajah Rani memerah.
"Kamu boleh panggil saya dengan sebutan mas."ucap pak Kevin memandang mata Rani yang sedang melihat nya.
"Bagaimana Rani."ucap pak Kevin.
"Bukan kan itu terlalu dekat pak."ucap Rani.
"Tidak,, kamu bisa panggil saya dengan sebutan mas."ucap pak Kevin lagi.
"Oke sekarang kamu istirahat lah."ucap pak Kevin bergegas pergi dari hadapan Rani.
"Baik mas Kevin."ucap Rani sambil berjalan.
Namun tidak sengaja kaki Rani tersangkut di kabel lampu dan terjatuh. Dengan sigap pak Kevin menolong nya.
"Aaaa!!!."suara Rani terjatuh.
Lalu pak Kevin datang menangkap dan Rani terjatuh ke pelukan nya memegang erat pinggangnya. Mereka saling memandang lagi menatap satu sama lain.
Kemudian mereka sadar dari tatapan kosong itu.
"Maaf mas merepotkan terima kasih juga sudang menolong saya."ucap Rani sambil iya berdiri kembali.
"Kamu itu wanita ceroboh selalu saja buat kesalahan."ucap pak Kevin langsung berbalik badan dan pergi.
"Maaf mas lain kali ngak begitu lagi."ucap Rani pelan.
__ADS_1
Tapi tidak di sangka sesampainya pak Kevin di kamar iya tidak habisnya membayangkan Rani.
Pak Kevin serasa ingin dekat Rani terus dan pak Kevin tersenyum senyum membayangkannya. Begitu juga dengan Rani sesampainya di kamar iya tidak habis pikir bahwa tadi itu benar benar terjadi.
"Aduh pak Kevin itu ganteng banget sih."guman Rani dalam hati." Eh kok aku malah melamun-in pak Kevin sih eh mas Kevin maksud aku."ucap Rani lagi.
"Sudah lah aku tidur saja besok harus kerja lagi lagian ngak mungkin mas Kevin bisa suka sama saya kan bukan selevel juga bukan tipenya."ucap Rani mengangkat alis matanya.
Sedangkan pak Kevin masih saja melamun.
"Apakah aku jatuh cinta dengan nya tapi itu tidak mungkin."ucap pak Kevin dalam hati. "Hingga pak Kevin ketiduran iya masih membayangkan kejadian itu.
"Melihat ekspresi wajah Rani tadi itu sangat lucu wajah merah dan matanya yang terbuka lebar itu seperti membuat nya syok."ucap pak Kevin lagi membuka matanya dan tersenyum lagi.
"Pokoknya hari ini hari yang paling indah bagi saya."ucap pak Kevin sambil memandangi tangannya yang masih di balut perban.
Pak Kevin hanya tersenyum dan memandangi tangannya hingga sampai jam tiga malam.
"Udah jam berapa ya."guman pak kevin sambil meraih hape nya yang ada di atas meja.
"Hah udah jam tiga kenapa aku ngak bisa tidur ya."ucap pak Kevin menghela nafas panjang.
Lalu tidak lama pak Kevin pergi ke kamar mandi dan mencuci mukanya. Pak Kevin memandangi dirinya di kaca dan mengingat kejadian malam tadi.
"Ah kenapa ini manghantui aku dan kenapa aku selalu membayangkan nya tapi itu lucu sih dia begitu."ucap pak Kevin memandangi kaca di depannya.
Lalu pak Kevin keluar kamar mandi dan iya langsung rebahan.
"Hari yang melelahkan."ucap pak Kevin iya pun tertidur.
Hari juga sudah mulai pagi.
"Argh!! pagi ini pagi yang cerah."ucap Heni membuka jendela.
"Rani kalau dandan seperti itu dia sangat cantik gak nyangka pangling aku langsung."ucap Heni di dekat jendela.
"Mungkin kalau dia nggak mendekat aku ngak Bakal mengenal nya."ucap Heni lagi."Sungguh wanita yang mengagumkan."ucap Heni dalam hati.
"Tapi pasti sekarang dia kelelahan melihat rumah sebesar itu dia hanya membersihkan nya sendiri."ucap Heni lagi.
"Pasti bisa dia kan wanita tangguh ngak mungkin cuman gara gara pekerjaan itu dia nyerah tapi kasian dia pasti cape."ucap Heni lagi kawatir.
__ADS_1
"Pokoknya pagi ini aku harus bantu in Rani membereskan rumah itu."guman Heni.