
Setibanya di rumah Rani dan pak Kevin langsung turun dan masuk ke rumah.
"Mas makasih ya udah nemenin aku untuk bantu Heni. Dan makasih juga untuk teman-teman mas Kevin yah."ucap Rani sedikit gugup.
"Buat kesayangan aku mana bisa nolak!"ucap pak Kevin dan membenarkan rambut Rani kebelakang telinga nya dan membelai wajah Rani.
Lalu Rani pun tersenyum dan mencium pak Kevin di bagian pipi nya. Kemudian Rani langsung berlari pergi ke kamar nya.
Pak Kevin memegang pipinya dan melihat Rani pergi. Setelah itu pak Kevin pun pergi masuk ke kamar nya.
"Wah disini rame banget ya. Oh itu istri si Rian."ucap Heni yang melihat ke arah pelaminan yang sedang bersalaman dengan para tamu.
Kemudian Heni pergi duduk di bagian paling depan dan para pria yang menemaninya.
Dan tidak lama Rian pun melihat kedatangan Heni yang sedang makan dan sedang minum dengan Davit.
"Heni?!"guman Rian.
"Sebentar ya aku kesana dulu."ucap Rian ke istrinya lalu ia pun berjalan ke arah Heni berada.
"Kamu datang juga ya. Aku kira kamu tidak akan datang ke sini."ucap Rian sedikit meremehkan Heni.
"Hah, tentunya dong. Ngak mungkin kan aku takut datang kan?!"ucap Heni sedikit membuang muka dari Rian.
Lalu Rian memegang pipi Heni dan menghadap kan wajah nya Heni ke arah nya.
"Yakin kamu bisa move on dari aku?!"tanya Rian. "Hah, kamu kira kamu siapa!"ucap Heni menatap ke arah Rian.
"Lepaskan tangan mu dari wajah ku!"ucap Ulan sambil menepis tangan Rian dari wajah nya. Kemudian Rian memutar bola matanya dan menatap ke arah atas.
"Sudah lah kamu pasti tidak bisa move on dari aku kan?!"menggenggam lengan Heni sedikit lebih kuat.
"Sakit Rian, lepaskan!"ucap Heni.
Davit yang mendengar Heni kesakitan. Dengan sigap Davit langsung ambil tindakan dan menarik Heni dari si Rian.
"Jangan coba-coba ganggu pacar saya!"ucap Davit menunjuk wajah Rian.
"Kami datang ke sini karena undangan mu! Kalau bukan karena menghargai kamu kami tidak akan rela memijakkan kaki disini!"ucap Davit datar.
Lalu Davit dan kedua saudara angkat nya itu mengikuti Heni dari belakang. Lalu mereka pindah ke tempat lain.
__ADS_1
"Awas lue ganggu adik gue!"ucap pria yang berperan sebagai kakak. Kemudian Rian pun berdecak kesel dan mengayunkan tangan nya memukul angin.
"Heni tunggu!"ucap Rian dan mendekati Heni yang sudah berhenti.
"Jadi pacar kamu ini!''ucap Rian sambil memerhatikan David dari bawah sampai atas. "Lumayan juga dari mana kamu dapet seperti ini?! Kamu menyewa orang ya!"ucap Rian sambil mengelus dagu nya.
"Kamu!!"ucap Heni hendak menampar Rian.
"Berhenti! Jangan kotori tangan mu yang lembut ini hanya karena cowo bangsat seperti dia."ucap Davit menahan tangan Heni dan menurunkan nya.
"Kamu jangan ikut campur ini urusan ku dengan Heni.''ucap Rian.
"Aku ikut campur! Karena dia adalah pacarku harus nya kamu yang ngak usah ikut campur."ucap Davit.
Rian terdiam sejenak dan melihat ke pergian Heni yang langsung keluar dari acara.
"Sial!!"gerutu Rian menendang kan kaki nya ke dinding.
"Sayang ada apa?!"ucap tanya istri Rian penasaran.
"Ngak ada apa-apa!"jawab Rian datar dan langsung pergi duduk kembali. Istri Rian hanya melihat nya dengan pasrah dan menyusul nya duduk.
"Maaf ya Davit, gara-gara aku kamu jadi di rendahin sama Rian."ucap Heni meminta maaf.
Lalu Heni melihat tangan Davit yang berbeda di pundak nya merasa gugup dan melihat Davit lalu menatap nya.
"Ehm.. makasih ya Davit."ucap Heni menundukkan kepalanya.
"Aduh, aku ngak harus baper kayak gini dong. Jadi salah tingkah gini kan ."guman Heni sambil tersenyum dan curi pandang ke Davit.
"Aa,,! ayok kita pulang sekarang udah ngak ada kegiatan disini lagi kan!"ucap Heni memecahkan keheningan.
"Oh iya, yaudah ayo. Lagian aku juga masih ada kegiatan lain ni!"ucap Davit melihat jam di tangan nya.
Menyusul dengan ke dua pria lainnya ikut mau pergi juga dan berpisah di sana.
"Kami pamit duluan ya!"ucap salah satu dari mereka.
"Makasih ya kak makasih ya dek!"ucap Heni sambil tersenyum.
Kemudian ke dua pria itu membalikkan badan nya dan melihat Heni yang berbicara kepada mereka.
__ADS_1
"Sama-sama."jawab mereka bersamaan lalu bergegas pergi.
"Okeh, giliran nona yang saya antar sekarang."ucap Davit sambil jongkok dan mengulurkan tangan nya.
"A....aku?!"ucap Heni menunjuk dirinya.
"Iya dong siapa lagi!"ucap Davit. Lalu Heni melihat ke kiri kanan nya dan melihat tangan Davit yang terulur ke arah nya.
"Oh iya."ucap Heni dan memegang tangan Davit. "Sekarang kita udah bisa jalan kan?!"ucap Davit setelah berdiri.
Kemudian Heni mengangguk kan kepalanya dan tersenyum lalu mereka pun masuk ke mobil. Lalu Davit membuka kan pintunya untuk Heni.
Rian yang melihat dari kejauhan ia merasa sangat kesal dan di campur oleh rasa cemburu.
Setibanya nya di rumah Heni Davit kembali membukakan pintu buat Heni. Lalu Heni pun turun dari mobil.
"Makasih ya Davit, semoga lain kali kita bisa ketemu lagi."ucap Heni setelah tiba di depan gerbang.
Namun Davit hanya membalas senyum di wajah nya.
"Aku pamit dulu ya."ucap Davit yang ijin pergi. "Hati-hati di jalan, sampai ketemu lagi ya!"ucap Heni melambaikan tangan nya.
"Baik lah!"jawab Davit dan menutup jendela mobil nya. Kemudian Heni masuk ke dalam kost.
"Hah,, lelah banget ya. Datang ke sana bikin kesel aja belum sempat makan lagi."ucap Heni sambil membayangkan makanan yang banyak. Tidak lama Rani menghubungi nya.
"Rani?"ucap Heni dan mengangkat telpon nya. "Halo Rani."ucap Heni.
"Gimana lancar disana?!"tanya Rani.
"Kata Davit 'Sedikit melelahkan' apa kamu di sana kena masalah?!"tanya Rani kembali.
"Aman ko kamu tenang aja, David bisa di andalkan kerjanya bagus ko."ucap Heni tersenyum dan bersemangat.
"Bahagia kayak nya ni. Kamu senang ya ketemu sama Rian yang udah membuang kamu itu!"ucap Rani.
Dengan cepat ekspresi Heni yang bersemangat langsung berubah dengan sekejap mata menjadi datar dan tidak bersemangat.
"Ih kamu Rani, bukan dong intinya aku senang deh hari ini. Bukan karena si Rian sialan itu."jelas Heni.
"Jadi karena apa?! Oh aku tau, jangan-jangan kamu sedang jatuh cinta ya."ucap Rani sedikit ragu.
__ADS_1
"Akh,, bisa aja kamu kalau ngomong nya. Bukan itu juga Rani."ucap Heni.