Bukan Inginku

Bukan Inginku
Episode 102


__ADS_3

Pagi hari ini, Di rumah sakit Adiwijaya Terlihat orang - orang tengah berlalu lalang melakukan berbagai aktivitas, ada yang sedang duduk mengantri, melayani pasien, mendorong brangkar, bersih - bersih dan sebagainya. Hal itu pun berlaku juga bagi seorang Kevin, saat ini ia tengah berjalan menuju ruangan nya lengkap dengan pakaian operasi karena sebelumnya ia habis melakukan operasi kepada salah satu pasien yang katanya menderita tumor.


Satu menit, dua menit, hingga 15 menit lama nya Kevin duduk beristirahat di kursi kebesarannya. Ia bersandar dengan tenang sambil meresapi oksigen yang keluar masuk. Tetapi sayang, ketenangan nya itu tidak berlangsung lama. Pintu yang semula tertutup tiba - tiba terbuka dengan kencang nya, terlihat lah di sana Rehan dengan nafas ngos-ngosan.


"Lo kenapa re ? tiba - tiba masuk kaya makhluk halus aja" ucap Kevin


"hah hah hah, ini gawat vin. gawat banget"


"Gawat ? ada apa sih"


"Di luar, ada polisi datang ke mari dengan membawa surat perintah penangkapan Lo" ucap rehan tegas


"Hah ? polisi ? bawa surat penangkapan? maksudnya apa sih ? ngapain dia nanyain gue segala" ucap Kevin sambil mengernyitkan alis nya.


"Udah deh, mendingan sekarang Lo ikut gue ke sana cepat" ajak rehan, lantas ia pun menarik kasar tangan Kevin.


Beberapa saat kemudian, benar saja di depan pintu masuk rumah sakit tepat nya di bagian resepsionis, terlihat 3 orang berseragam polisi dan seorang ibu yang ditaksir berusia 40 tahunan tengah menangis sambil duduk di kursi.


"Selamat siang pak, ini ada apa ya ?" ucap Kevin ramah.


"Selamat siang, apakah benar anda yang bernama Kevin Adiwijaya ?" kata salah satu polisi yang diketahui bernama teguh.


"Iya benar, saya Kevin. ada apa ya Anda mencari saya ?"


"Kami mendapatkan laporan dari ibu Ningsih, bahwasanya anak beliau yang bernama Rendi meninggal dunia setelah dioperasi oleh Anda. Dan setelah tenaga kesehatan dari pihak kepolisian mengotopsi, ada sebuah obat yang salah di suntikkan sehingga membuat pasien meregang nyawa. "


Mendengar hal itu, Kevin pun lantas mengalihkan pandangan pada Bu Ningsih yang tengah menangis di pelukan suami nya.

__ADS_1


"Iya, saya ingat dengan Rendi pasien saya yang satu Minggu lalu di operasi dan ya, saya sendiri juga lah yang periksa denyut nadi kematian nya. Dan bukankah jenazah nya sudah di bawa oleh ibu dan keluarga ? tapi kok bisa di otopsi lagi ?" tanya Kevin


"Kehilangan anak membuat saya terpukul dokter Kevin, maka untuk itu saya kembali periksa dia karena merasa ada kejanggalan. Dan ya, firasat seorang ibu memang benar ternyata dia mengalami kesalahan obat setelah operasi. Dan di sini anda lah yang bersalah Dokter Kevin,


kelalaian anda, membuat nyawa anak saya hilang" teriak Bu Ningsih dengan histeris.


Mendengar hal itu, Kevin pun terdiam seolah sedang berfikir sesuatu. Ia juga mencoba mengingat kejadian satu Minggu silam.


"Ta-tapi saya sudah memberi obat yang benar kok, silahkan saja tanya rekan dokter dan perawat yang lain" ucap Kevin.


"Jangan mengeles dokter Kevin, sudah jelas anda yang patut di salahkan dalam hal ini. Anda juga telah melanggar kode etik sebagai seorang dokter, Seharusnya sebelum menyuntikkan obat, anda lihat dulu sudah benar apakah belum." ucap Bu Ningsih dengan deraian air mata nya


Sementara itu, melihat ada keributan di rumah sakit. semua orang berkerumun untuk melihat, dan kini Kevin pun menjadi pusat perhatian semua orang.


"Sepertinya sudah cukup jelas dengan semua ini, dan untuk anda dokter Kevin. Mari ikut kami ke kantor polisi, silahkan anda jelaskan di sana. Pak, tangkap dia dan borgol tangan nya" ucap polisi tersebut.


"Pak, pak jangan bawa dia" cegah rehan


"Mohon maaf, kami harus segera membawa nya" ucap polisi tersebut.


"Tapi pak, dia tidak bersalah pak, dia dokter berkompeten" ucap rehan lagi, namun sayang nya ia yang berlari mengejar pun tidak dapat menyelamatkan Kevin.


Lantas melihat hal itu, rehan pun berteriak.


"Gue akan bantu dan cari keadilan buat Lo Vin"


Sementara itu, seseorang yang sedari menyaksikan adegan tersebut diam - diam tersenyum dengan puas. lantas ia pun mengambil ponsel nya dan menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Kita berhasil dan Kevin Adiwijaya sebentar lagi tamat"


.........


"A-Apppa ?? Kevin di tangkap polisi ? bagaimana bisa rehan ?" ucap Milan Adiwijaya


Lantas dari seberang sana, rehan pun menjelaskan semua kronologi nya dengan jelas.


"Oke rehan oke, om akan cari cara supaya Kevin bisa bebas, meskipun dirasa sulit karena ia sebuah hal yang fatal. tetapi om akan berusaha" ucap Milan.


Lantas setelah itu, sambungan telefon pun mati. Milan duduk dengan lemas nya di kursi sambil memijat kening nya, sesekali terdengar helaan nafas kasar dari mulut nya.


"Ada bencana apa lagi ini ? berita penangkapan Kevin akan semakin berpengaruh kepada perusahaan, apalagi sekarang kita tengah mengalami kerugian dan sedikit permasalahan. Apa yang harus ku lakukan sekarang ?" ucap Milan frustasi.


.........


Assalamualaikum readers, mohon maaf yang sebesar-besarnya. Di bulan februari ini, author baru sempat up hari ini.


Author bukan nya malas, atau apa. tetapi ada beberapa kesibukan author yang menjadi kendala, seperti ada sepupu author yang baru saja melakukan pertunangan.


Insyaallah di mulai hari ini author akan berusaha untuk up.


Dan author berencana akan segera menyelesaikan kisah bukan inginku.


Mohon dukungan dan semangat nya dari readers semua ya.


Terimakasih 🥰♥️🙏

__ADS_1


__ADS_2