
Pagi - pagi sekali, Anin sudah terlihat rapih dengan dress hamil berwarna merah muda yang membentuk perut buncitnya itu. Terlihat ia juga membawa sebuah tas kecil dan keenan yang sudah tampan di dalam gendongan nya.
"Kamu mau kemana nak ?" tanya Aulia penasaran melihat kedatangan Anin di meja makan.
"Ini Bu, Anin izin ya mau periksa kandungan ke rumah sakit" jawab Anin
"Oh begitu, ya sudah boleh nak. Tapi nanti kamu berangkat sama siapa ? terus Keenan mau kamu bawa juga ?"
"Anin berangkatnya naik angkot aja Bu, iya Keenan juga mau di bawa kasihan soalnya" kata Anin sambil sesekali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Gak bisa Anin, ibu khawatir sama kamu. dan Keenan biar di tinggal di rumah saja nanti biar bi Afif yang menjaganya. dan yaa begini saja deh, devann" panggil Aulia kepada sang putra.
"Hemm iya mah ?" jawab Devan
"Kamu Tolong anterin Anin ke rumah sakit ya, nanti pulang nya biar mamah aja yang jemput sekalian ada yang perlu di beli."
"Okay, tapi Anin gak papa kan kalau harus anterin dulu dafin ke sekolah nya ? gak lama kok"
"Tapi bu A..." ucap Anin
"Gak ada tapi - tapian Anin, ini juga demi kebaikan kamu. ya kan pah ?" tanya Aulia sambil mengedipkan sebelah mata nya ke arah sang suami
"I iya Anin, dengarkan apa kata istriku" ucap tuan Artha yang memang sudah mengetahui rencana sang istri
"Huft,, baiklah kalau begitu. terimakasih ya dan maafin Anin yang sudah banyak merepotkan"
"Nggak kok sayang"
Sementara itu, dafin yang mendengar bahwa ia akan di antar ke sekolah oleh Anin dan Devan membuatnya diam - diam bersorak senang.
.........
"Dafin sekolah dulu ya pah" kata dafin sambil mencium tangan Devan
"Iya, jangan nakal - nakal, belajar yang rajin" kata Devan mengusap rambut sang anak.
"Siap papah"
Lantas setelah itu, dafin pun beralih ke arah Anin yang tengah berdiri di samping papah nya.
"Peri cantik, dafin sekolah dulu ya"
"Iya sayang, dafin belajar yang rajin ya biar jadi anak pandai" kata Anin sambil mengecup kening dafin dengan sayang.
"Iya peri, eh dafin boleh tidak pamitan juga Sama adek bayi ?"
"Pamitan ? seperti apa ?" tanya Anin heran.
Dan tanpa menjawab Dafin pun lantas mendekatkan diri ke arah Anin dan memeluk pinggang nya, lalu dafin pun mencium perut Anin dengan sayang.
"Hallo adek bayi, calon kakak mu pamit dulu ya ke sekolah" bisik dafin
Melihat interaksi antara dafin & Anin membuat hati Devan seketika menghangat dan luluh, ia begitu senang melihat Anin yang begitu tulus menyayangi dafin.
Dan mengetahui dafin sudah masuk ke dalam gerbang sekolah, akhirnya Anin Dan Devan pun kembali masuk ke dalam mobil dengan Anin duduk di samping Devan meskipun ia merasa malu. Sempat tadi ia ingin duduk di belakang tetapi Devan memaksanya untuk pindah ke depan dengan alasan kalau Devan bukanlah seorang supir.
"Kita ke rumah sakit mana nin ?" tanya Devan
__ADS_1
"Ke Adiwijaya hospital kak,"
"Oh ke sana baiklah" Ucap Devan, namun belum sempat ia melajukan kendaraannya, perhatian Devan tertuju pada seat belt Anin yang belum terpasang.
Dan tanpa aba - aba, Devan pun mencondongkan tubuhnya ke arah Anin hingga membuat jantung mereka berdua berdetak lebih cepat. mata mereka berdua pun sempat saling bertatapan menyelami perasaan aneh yang meliputi diri mereka.
Bahkan Devan merasa begitu sangat nyaman berada di posisi nya ini, apalagi Aroma tubuh Anin yang menyeruak membuat tenang, dan wajah cantik Anin membuatnya betah berlama - lama.
Tak lama kemudian suara Anin, menghentikan Keintiman mereka.
"Kakak, ma mau apa ?"
"Ah ini aku ehm, seat belt kamu belum terpasang" jawab Devan gugup.
"Oh iya kak Anin lupa. terimakasih sudah mengingatkan" kata Anin yang langsung memasang seat belt nya sendiri dan Devan pun kembali ke posisinya. Setelah itu, mereka berdua pun segera pergi menuju Adiwijaya hospital.
.........
Disinilah sekarang, Anin dan Devan tengah duduk di antara antrian para pasien yang hendak memeriksakan dirinya ke dokter kandungan. Jika ada yang bertanya mengapa Devan ikut serta di sana jawabannya adalah ?
Devan yang memaksa Anin ingin ikut masuk dengan alasan khawatir dengan Anin bila harus ke sana sendirian padahal kan Anin sudah biasa, ya meskipun Anin sempat menolak dan menyuruh Devan untuk langsung ke kantor, tapi tetap saja Devan keukeuh untuk ikut. Dan akhirnya Anin pun pasrah.
Dan kini adalah giliran Anin untuk masuk, Anin masuk ke dalam dan sudah di sambut oleh dokter Mira dengan ekspresi kaget melihat kedatangan nya dengan devan.
"Hallo nyonya Anin, bagaimana kabarmu?"
"Alhamdulillah saya baik dok, bagaimana dengan dokter ?"
"Saya juga baik, oke bersiap ya kita akan melakukan USG terlebih dahulu"
"Lihat janinnya sudah terbentuk sempurna ya, usianya sekarang sudah 30 Minggu, keadaan ibu dan kandungan nya pun kuat dan sehat" kata dokter Mira yang membuat Anin tersenyum lega.
"Iya dok terimakasih"
"Oh iya, saya cuman akan memberikan vitamin saja silahkan di tebus di apotek ya"
"Iya dok" kata Anin.
.........
"Eh Vin, Vin, itu bukannya Anin ya ? sama siapa dia ?" tanya Rehan begitu melihat Anin sedang berdiri di apotek dengan pria tampan berjas di samping nya.
"Gak tau gue" kata Kevin cuek menyembunyikan detak jantung nya, begitu melihat Anin setelah hampir 3 bulan yang lalu.
"Ayo kita samperin" kata rehan sambil menarik tangan Kevin dan membuatnya pasrah.
"Hai Anin" ucap rehan.
Merasa namanya ada yang memanggil, Anin dan devan pun lantas berbalik. Anin pun seketika kaget dan Matanya melotot melihat kehadiran pria jahat yang telah menghancurkan hidupnya itu sekarang ada di depannya.
"Kak rehan ? apa kabar kak ?" tanya Anin tersenyum ramah.
"Alhamdulillah aku baik kak, kak rehan sendiri bagaimana ?"
"Aku juga baik Anin, oh iya sedang apa kamu disini ?"
"Anin sedang periksa kandungan kak"
__ADS_1
"Sudah berapa bulan nin, kamu sendirian ke sini ?"
"Tidak, Anin diantar kak Devan dan kandungan Anin sekarang sudah masuk 30 Minggu kak" jawab Anin.
Setelah itu, Devan pun mengangguk ramah kepada rehan dan pria di samping nya yang tengah menunduk sambil main ponsel. Lantas tak lama kemudian, Kevin pun mendongakkan wajahnya, ia pun begitu kaget melihat siapa yang berada di samping Anin.
"Tuan Kevin"
"Tuan Devan" kata mereka berdua bersamaan.
"Senang bisa kembali bertemu dengan anda, oh iya apakah Anda bertugas di rumah sakit ini ?" tanya Devan.
"Iya tuan, saya bekerja di sini" jawab Kevin ramah
"Oh atau jangan - jangan rumah sakit ini milik anda juga ?"
"Iya begitulah"
"Wah hebat sekali" Puji Devan.
Sementara itu, Anin pun bertanya - tanya dalam hatinya. Mengapa Devan bisa mengenal Kevin ?
"Oh iya tuan Devan sedang apa disini ?"
"Saya disini sedang mengantar Anin, kasihan dia kalau harus periksa sendiri apalagi tanpa adanya suami" kata Devan yang membuat hati Kevin merasa tersentil.
"Oh begitu ya" kata kevin
"Anin apakah sudah selesai ?" tanya Devan
"Iya kak sudah" jawab Anin.
"Baiklah ayo kita pergi, tuan Kevin maaf saya harus segera pergi."
"Iya silahkan, sampai jumpa" ucap Kevin
"Sampai jumpa kembali" kata Devan
"Kak rehan aku duluan ya," pamit Anin
"Iya nin hati - hati" jawab rehan
Setelah itu, Devan pun melangkah pergi diiringi Anin yang berada di samping nya.
Sementara itu, Rehan dan Kevin terus saja menatap ke arah Anin dan Devan.
"Wah kelihatan banget ya tuan Devan itu sangat menyayangi dan peduli kepada Anin, padahal aku tau sepertinya dia orang yang begitu sibuk tetapi masih sempat sempatnya dia mengantar Anin, sungguh pria idaman.
Oh iya, Anin juga beruntung mendapatkan penggantimu dengan cepat meskipun belum ada surah cerai yang sah. Dan aku lihat mereka berdua sangatlah cocok, dan bakalan jadi pasangan serasi yang fenomenal. Semoga tuan Devan dapat membuat kamu bahagia selamanya Anin" kata rehan dengan sengaja memanasi Kevin.
"Hemm" jawab Kevin, lantas setelah itu ia pun segera berbalik meninggalkan Rehan.
"Gue tau ada sedikit penyesalan dalam diri Lo Vin" batin rehan
.........
jangan lupa like, komen dan vote nya ya readers🥰🥰
__ADS_1