
Pagi hari ini, Langit biru terhampar luas di atas sana, Angin sepoi - Sepoi menyentuh kulit dengan lembutnya dan dari ufuk timur terlihat sang Surya telah memancarkan sinar nya. Sinar yang begitu indah, elok serta memancarkan terang dan kehangatan bagi alam semesta.
Namun sayang nya kenyataan ini tidak seindah yang diharapkan, Sinar mentari yang terang tidak mampu menyinari kegelapan hidup yang kini dialami oleh si pria, dan kehangatan nya tidak mampu memeluk rasa dingin dari terpaan ubin lantai yang tak beralas.
"Saudara Kevin Adiwijaya, ada orang yang ingin bertemu dengan anda" Ucap sang polisi yang membuat pria tersebut seketika terbangun dari pembaringan nya.
Iya, pria tersebut tak lain dan tak bukan dia adalah Kevin Adiwijaya, sang dokter tampan nan mapan. Sungguh sebuah kenyataan yang sulit untuk di percaya jika keadaan nya saat ini berbanding terbalik 180 derajat.
"Siapa pak ? apakah teman saya rehan ?" tanya Kevin heran sambil mengernyitkan dahinya kala melihat gelengan kepala dari sang polisi.
Sungguh ini adalah sebuah rekor kunjungan untuk nya. Karena selama satu Minggu dia mendekam di balik jeruji besi ini, hanya rehan seorang lah yang baru melihat keadaan nya. Bahkan orang tua dan adik nya sama sekali belum mengunjungi nya.
Beberapa saat kemudian, Kevin pun akhirnya sampai di ruang tunggu tempat para penjenguk, Terlihat di sana seorang wanita paruh baya yang duduk di atas kursi roda di dampingi dengan pria yang sama - sama paruh baya namun masih terlihat gagah itu, Dan tak lupa pula sang asisten yang begitu di kenalinnya.
"Papah, mamah" ucap Kevin speechless
Iya, mereka adalah orang tua kandung Kevin, Anita dan Milan.
"Ya Tuhan, anakku Kevin" ucap Anita histeris dengan air mata yang mengucur deras, kala melihat sang putra kebanggaan memakai baju tahanan.
"Vin" panggil Milan.
Tak lama kemudian, dengan refleks Kevin pun berlari dan memeluk ke dua malaikat nya.
"Mah pah maafin Kevin yang udah kecewakan kalian." ucap Kevin lirih dengan mata yang berkaca-kaca
"Nggak Vin, kamu gak salah. kamu tetap jadi anak yang membanggakan buat mamah, kamu tenang saja vin mamah akan sekuat tenaga membebaskan kamu dari tempat ini." ucap Anita dengan penuh keyakinan.
Sementara itu, sedari tadi Milan hanya mampu bungkam sambil memperhatikan interaksi antara anak dan istri nya, saat ini ia begitu bingung dengan jalan keluar apa yang harus di lakukan.
__ADS_1
"Vin, maafkan papah yang baru sekarang menjenguk mu. Entah lah papah merasa begitu kalut sekarang, perusahaan tengah goyah, para investor banyak yang menarik saham nya dan sekarang masalah semakin bertambah dengan kasus mu"
"Sejak kemarin, papah sudah menghubungi beberapa pengacara untuk membantu kamu , tetapi entah mengapa mereka mundur begitu saja dan para rekan bisnis yang papah mintai bantuan pun semuanya angkat tangan" ucap Milan menjelaskan.
Mendengar hal itu, Kevin pun seketika terdiam.
Kenapa semuanya terjadi dengan begitu pas, cobaan dan penderitaan ini seolah - olah telah menjadi sebuah rancangan yang sangat sempurna. Eh tetapi tunggu dulu, Rancangan ?
Iya, Kevin menerka bahwa ini semua bukanlah kebetulan semata.
"pah, entah kenapa Kevin merasa ini semua begitu ganjil. seperti ada seseorang yang ingin membuat kita hancur." jawab Kevin tiba - tiba
"Maksud kamu, ada orang yang dengan sengaja ingin menghancurkan keluarga kita dengan cara menghempaskan bisnis dan membuatmu masuk penjara ?" ucap Milan memastikan.
"Iya pah, itu yang Kevin maksud. dan seperti nya mulai sekarang kita harus lebih berhati-hati dan cerdik pah"
Mendengar hal itu, Milan pun terdiam. Ia, dia memiliki satu pemikiran dengan Kevin tetapi ini masih baru dugaan, dan sepertinya dia harus mencari tahu sesuatu.
.........
Sesekali terlihat seseorang itu menggoyangkan gelas berisi minuman berwarna merah di tangan nya dengan perlahan dan penuh penghayatan.
"Kata orang, dendam dan iri hati bisa menjatuhkan ke dalam jurang. Tetapi justru sebaliknya aku begitu senang dan merasa berada di atas awan." ucap seseorang itu dengan senyum menyeringai.
.........
Sementara itu, saat ini Anin tengah melakukan senam ibu hamil di salah satu sanggar yang berada di kawasan Jakarta Selatan. Ia yang kini memakai stelan berwarna abu-abu itu pun terlihat begitu bersemangat melakukan setiap gerakan yang dicontohkan oleh sang instruktur.
Iya, di saat kehamilan nya sudah memasuki trimester ke 3, Bu Aulia dan Devan merekomendasikan Anin untuk ikut senam ibu hamil. Selain untuk kesehatan, hal ini juga bermanfaat untuk memperlancar proses persalinan.
__ADS_1
Dan dengan beberapa paksaan serta pertimbangan, Akhirnya Anin pun menyetujui saran tersebut.
"Okay moms, pelatihan hari ini dicukupkan sekian. See you at next week" ucap sang instruktur menutup kegiatan.
Setelah itu, Anin pun bangkit dan mulai mengambil minum untuk meredakan haus nya Dan di tengah - tengah kegiatan itu, ponselnya berdering menandakan ada sebuah pesan yang masuk.
Dan tanpa berlama - lama Anin pun lantas mengambil dan memeriksa ponsel nya.
From : Mas Devan
..."Sayang, kegiatan kamu udah selesai belum ? Aku sudah ada di basement nunggu kamu, nanti jalan nya hati - hati ya jangan buru - buru, kasihan anak kita"...
Melihat hal itu, Anin pun menyunggingkan senyum nya. Sungguh ia sangat bahagia dengan Devan yang begitu peduli dan perhatian.
To : Mas Devan
..."Siap mas, aku otw ke sana sekarang"...
Setelah itu, Anin pun lantas membereskan barang bawaannya dan berpamitan kepada teman - teman nya di sana. Dan setelah selesai, ia pun berjalan pergi untuk pulang dan menemui Devan.
.........
Assalamualaikum hai Readers tersayang
Selamat bulan maret, semoga di bulan ini kita semakin banyak mendapat kebaikan dan keberkahan, apalagi sebentar lagi mau puasa.
Dan insyaallah di bulan ini, author akan semakin mengoptimalkan up karya nya.
terus dukung karya author ini ya,
__ADS_1
jangan lupa like, komen & vote ♥️