
Hari berganti hari, tidak terasa sudah dua bulan semenjak Anin pergi dari kehidupan Kevin dan sudah dua bulan pula ia tinggal di kediaman Narendra. Di sini ia seperti terlahir kembali. Kebahagiaan, canda tawa dan senyuman selalu menghiasi dirinya Setiap saat apalagi orang - orang di rumah ini begitu baik dan ramah kepadanya.
Sama hal nya dengan Devan, semenjak mengetahui tentang kehamilan Anin dan cerita kehidupan nya dari sang mamah, membuat Devan menjadi iba kepada Anin. Bahkan ia tak segan untuk menunjukkan perhatian nya pada Anin maupun Keenan yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.
Seperti pada pagi hari ini mereka tengah duduk bersantai di taman belakang rumah.
"Nih kak, makanan nya" kata Anin sambil menyodorkan semangkok bubur bayi dengan tambahan potongan wortel di dalamnya.
"makasih ya, jadi sekarang biar om yang suapin Keenan okay" kata Devan
Iya, memang Devan menyuruh Anin untuk tidak memanggilnya dengan sebutan tuan. jadinya anin memilih untuk memanggil Devan sebutan kakak.
"Wahh, hebat sekali yaa Keenan makannya lahap" kata Devan sambil terus menyuapi keenan yang saat ini tengah tersenyum sambil duduk di atas kursi bayi.
Melihat interaksi antara Devan dan keenan membuat Anin tersenyum bahagia. Namun ada juga rasa sedih di dalam hatinya karena di umur yang sekecil itu Keenan harus kehilangan sosok ayah.
Sementara itu, selain mereka bertiga ada juga Dafin yang tengah memainkan mobil remote control nya sambil memakan buah - buahan.
"Papah sama peri cantik cocok banget sih kaya raja sama ratu" celetuk dafin
mendengar hal itu, Anin dan Devan pun lantas mengalihkan pandangannya ke arah dafin dengan tatapan Anehnya.
"Raja dan ratu ? maksud kamu apa sayang" tanya Devan kepada sang putra.
"Ih papah, maksudnya raja dan ratu di hati aku, secara tidak langsung papah dan peri cantik itu udah cocok jadi orang tua aku" kata Dafin tersenyum
"O-orang tua ?" kata Devan kaget dan salah tingkah.
Tak jauh berbeda dengan Devan, Anin pun merasakan hal yang sama. ia begitu salah tingkah saat Dafin secara tidak langsung ingin Anin menjadi sosok ibu untuknya. Dan apakah itu berarti Anin harus menikah dengan Devan sang duda tampan nan kaya itu ?
"Aduh sayang, kamu ada - ada saja nak. sudah ya mendingan sekarang kamu lanjut main nya okay" kata Devan lagi lantas setelah itu ia pun mengalihkan pandangannya menatap Anin.
"Ehm Anin, ma - maafin perkataan Dafin tadi ya." kata Devan tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya.
__ADS_1
"I iya kak aku juga memakluminya kok lagian dafin masih kecil dia masih belum faham" kata Anin tersenyum.
"Hehe iya sih nin"
Entahlah semenjak perkataan dafin itu, Anin dan Devan terasa begitu malu - Malu dan salah tingkah layaknya remaja yang sedang puber. Eh tapi kan Anin memang masih tergolong remaja ya jadi masih wajar lah hehe.
"Nenek, aku udah lakuin apa yang kamu minta" kata dafin dalam hatinya
Flashback on :
"Dafin, Kamu senang banget ya di kasih bekal sama kak Anin ?" tanya Aulia pada Dafin yang kini tengah berbaring manja di pangkuannya
"Anin siapa nek ?" tanya dafin kembali
"Itu loh, yang selalu kamu panggil peri cantik"
"oh jadi peri cantik namanya Anin, iya nek dafin senang sekali akhirnya setelah sekian lama dafin ngerasain juga gimana di kasih bekal sama seorang ibu kaya teman - teman dafin"
"Ehm, dafin sayang kamu mau gak kalau peri cantik jadi ibu kamu dan nikah sama papah Devan ?" tanya Aulia
"Beneran nek ? wahh dafin mau, peri cantik Cocok banget sama papah"
"Seriusan dafin mau ?" tanya Aulia memasukan
"Iya nenek, dafin sangat mau"
"Okay, kalau begitu mulai sekarang dafin harus bantu nenek mendekatkan peri cantik sama papah Devan gimana ?"
"Siap nenek, dafin mau apapun itu asalkan Peri cantik jadi mamah dafin, horeee akhirnya dafin akan punya mamah, dan itu peri cantik" kata dafin bersorak kegirangan yang membuat Aulia tersenyum melihatnya.
Flashback off
.........
__ADS_1
"Apa benar seperti itu bi ? aku sungguh gak tahu kalau Anin sudah Kevin usir dan bahkan kan di ceraikan nya. pantas saja aku sudah lama tidak melihat dia di rumah ini" kata rehan
"Iya begitulah den, bibi juga merasa sangat kehilangan non Anin. apalagi dia sedang mengandung anak den Kevin tetapi tetap saja di usir"
Memang, ketika Anin di pergi dari rumah ini waktu rehan sedang ditugaskan untuk melakukan penyuluhan kesehatan perwakilan rumah sakit Adiwijaya menuju salah satu desa pedalaman yang berada di Kalimantan dan ia baru tiba di Jakarta 2 hari kemarin.
Dan ketika sampai disini, ia tidak melihat keberadaan Anin, dan maka dari itu rehan lun bertanya kepada Bi sari
"Heem iya bi, entah kenapa Kevin begitu kejam dengan Anin. aku pun heran"
"Kasihan sekali non Anin den, dia tidak pernah mendapatkan kebahagiaan nya di rumah ini dan bibi berharap setelah ini non Anin akan mendapatkan anugerah kebahagiaan yang begitu besar"
"Aamiin bi semoga saja ya, oh iya bibi tahu tidak kemana Anin pergi ?" tanya rehan
"Untuk itu, bibi juga tidak tahu den. Non Anin tidak bilang apa - apa"
"Baiklah kalau begitu Bi, nanti kita Ngobrol - ngobrol lagi" kata rehan mengkode bi sari begitu melihat Kevin berjalan ke arahnya.
Bi sari yang menyadari hal itu pun dengan segera bergegas kembali mengambil sapu dan mulai menyapu rumput - rumput di halaman.
"Apa yang kalian obrolkan ? kelihatannya seru sekali" kata Kevin
"Nggak kok, aku cuman bertanya aja kenapa bi sari yang nyapu halaman kan biasanya itu tugas Anin." kata rehan menormalkan ekspresi nya sekaligus menyindir keberadaan Anin
"ah emh iya itu mungkin keinginan nya. sudahlah ayo kita berangkat takut keburu macet" kata Kevin mengalihkan pembicaraan
"Okay siapp" kata Rehan.
.........
hai readers, maaf sekali author baru sempat up soalnya kemarin sedang sibuk 🥺
Jangan lupa dukungan ya ♥️
__ADS_1