
Ponsel Alvaro tidak henti-hentinya berdering, dia lupa mematikan notifnya. Dengan perasaan malas Alvaro meraih ponselnya yang berada di nakas.
"Hallo, ada apa chel?" tanya Alvaro merasa terganggu.
"Nona Margareta mengamuk, semua pelayan dimarahai dan Kitty ditembak membabi butha. Kami tidak berani menangkapnya tanpa seijin Tuan." kata Marchel di seberang sana.
"Aku akan pulang." kata Alvaro tenang lalu mematikan ponselnya. Alvaro sadar ini pasti karena Alexa pergi dengannya.
"Kita akan pulang?" tanya Alexa menatap laki-laki itu. Dia akan bebas dari genjotan Alvaro seandainya Alvaro mengajaknya pulang.
Bukannya dia munafik, dia takut menjadi ketagihan, karena dia juga manusia biasa yang bisa khilaf dan bergairah. Siapa sih yang tidak tergoda dengan wajah tampan dan badan kekar milik Alvaro?
"Margareta mengamuk, Kitty dibunuh. Aku harus pulang untuk meredakan marahnya. Kau tinggal saja dulu disini. Masalahnya Margareta kalau marah sangat berbahaya, aku tidak rela kau mati ditangannya."
"Up to you, aku tidak mau komen atas masalah yang kalian hadapi. Kau yang mencari penyakit, aku sudah tidak mau kau ajak kesini. Selalu pelayan yang menjadi korban atas perbuatanmu. Aku heran dengan tabiat kalian."
"Sayank, disini ada Revolver lengkap dengan pelurunya. Jika kau butuh pakai saja untuk berjaga-jaga."
"Aku akan membawanya, siapa tahu istrimu mau membunuh aku." canda Alexa tersenyum.
"Jangan bicara yang tidak-tidak.Tidurlah kembali."
Selesai membersihkan diri, Alvaro mendekati Alexa dan menyelimuti tubuh gadis itu dengan rasa sayang. Berat hatinya meninggalkan selir cantiknya.
"Aku mencintaimu." ucap Alvaro mencium bibir Alexa.
"Hati-hati di jalan." ucap Alexa tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Walaupun sedikit senyuman Alvaro sudah merasa senang. Dia berharap Margareta tidak akan merusak suasana hatinya. Kalau masih ada Alfredo, Alvaro akan menitipkan Margareta untuk sementara waktu. Tapi sudahlah.
Dia tidak mengerti kenapa Margareta selalu marah kepada Alexa. Biasanya Alvaro memamerkan gadis yang diajak tidur, tapi Margareta tidak peduli. Seperti Maria atau yang lain.
Wanita memang aneh, dulu Margareta betah berbelanja dan menghabiskan uang dengan para lelaki. Namun saat ini dia malah cepat pulang, ada apa gerangan. Apakah Margareta cemburu, Alvaro tidak ingin kalau Margareta mencintainya. Ribet jadinya, karena dia tidak mencintai wanita itu. Dia menikahi Margareta karena bisnis.
"Pak Prapto kita pulang." perintah Alvaro setelah berada di luar. Pak Prapto dan empat pengawal Alvaro berdiri.
"Siap Tuan." jawab Pak Prapto dan empat pengawalnya mengikuti langkah Alvaro. Mereka menuju mobil. Empat orang pengawal setianya berlari membukakan pintu mobil.
"Kalian juga ikut pulang, nanti kalian perintahkan empat orang pengawal untuk menjaga Alexa disini."
"Siap Tuan."
Alexa merasa bebas dari Alvaro. Dengan malas dia bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Perasaannya tiba- tiba tidak enak. Dia menyudahi mandinya dan menuju ke walk in closet, dia butuh baju, syal dan kaca mata. Rok nya masih bagus, hanya baju yang robek. Dia keluar dari kamar mandi dengan syal menutupi kepala sekaligus wajahnya. Memakai kaca mata hitam milik Alvaro. Alexa tidak mungkin ada yang mengenali.
Alexa akan melarikan diri. Masalahnya pintu kamar di kunci oleh Alvaro memakai sidik jari, kecuali keluar lewat plafon. Itu jalan satu-satunya. Kamar ini tidak ada jendela, seolah dirancang khusus untuk tempat persembunyian Alvaro. Maklum Alvaro gembong mafia, dia menginginkan keamanan di saat sedang bersama para wanitanya. Apalagi disini sepi tidak ada pengawal yang menjaganya.
Perlahan dia memecahkan empat genteng dari gagang pistolnya. Sinar Matahari menerobos masuk membuat mata Alexa silau. Untung rangka plafonnya dari baja ringan membuat gampang di tekuk. Alexa hati-hati keluar lewat genteng. Kemudian dia melompat ke bangunan sebelah yang lebih rendah.
Pada saat dia menginjakkan kakinya di atas pasir pantai, Alexa mendengar suara pintu gerbang terbuka dan langkah kaki beberapa orang. Alexa mempertajam pendengarannya.
"Dia pasti sudah tidur di kamar, kita siram bensin saja dan bakar."
"Seluruh bangunan bakar, kalian keliling rumah menuangkan bensin."
"Kita berpencar saja, jangan ribut kecilkan suaranya, cewek itu pintar bela diri."
__ADS_1
Suara-suara itu jelas terdengar. Jantung Alexa berdebar, dia cepat lari ke belakang dan meloncat ke atas tembok pembatas. Untung sepi di belakang. Alexa meloncat turun dari tembok, dan setengah berlari menuju ujung pembatas Villa. Berbelok ke kiri, dia lega melihat tamu-tamu bule yang sedang berjemur di pinggir pantai.
Alexa berjalan cepat menuju salah satu Cafe yang bertebaran di pinggir pantai Double Six. Dia masuk dan naik ke lantai dua. Dari sini Alexa bisa melihat ke arah Villa Alvaro. Agak jauh.
"Paket have lunch." kata Alexa kepada waitress yang menyodorkan menu.
"Maaf, apa nona mau mencoba cocktail racikan bartender kami."
"Tidak trimakasih." jawab Alexa tidak fokus.
Tiba-tiba ada yang berteriak, tamu yang tadinya banyak meninggalkan meja, karena ada kebakaran. Mereka takut api akan menjalar kemari. Hawa panas dari kebakaran itu membias sampai kesini.
Alexa tersenyum sinis melihat empat orang pengawal yang tadi dia lihat di Villa berdiri ikut menonton. Mereka berdiri tidak begitu jauh dari Cafe ini.
Alexa mulai mencicipi hidangan pembuka, soup kental Asparagus kepiting. Dari tadi dia duduk santai tidak ikut pergi. Alexa yakin akan ada orang yang memanggil pemadam kebakaran. Polisi juga akan datang untuk mencari korban.
Yang tidak berani datang adalah Alvaro. Seorang gembong mafia sudah biasa mengalami tragedi dan mereka jarang mengaku aset itu miliknya. Malah mereka cenderung membiarkan issue-issue panas berseliweran di sosmed.
Di saat pemadam kebakaran datang Alexa bergegas turun dari lantai dua. Dia menuju kasir untuk membayar tagihan.
"Empat ratus ribu nona." kata kasir sopan sambil menyodorkan mesin EDC bank terkemuka.
"Aku tidak membawa ATM, aku akan pindai ke rekening." kata Alexa menempelkan tangan kirinya dan sistem memindai nominal pembayaran.
Mata kasir tidak berkedip melihat tangan Alexa tanpa kartu ATM bisa membayar tagihan. Setelah membayar lunas Alexa pergi dari Cafe dan naik grab menuju toko elektronik. Semua pembayaran di lakukan lewat Chip.
Dia akan membeli laptop dan menghilang sementara waktu. Yakin Alvaro frustasi jika dia tidak diketemukan. Pria itu akan mengaum seperti macan yang kehilangan taringnya. Kemudian Alvaro akan menyalahkan pengawal, pelayan bahkan istrinya.
__ADS_1
"Hahaha....tunggulah Alvaro, aku akan menjadi bayanganmu. Kau akan menyebut namaku di setiap tarikan nafasmu." bisik Alexa dalam hati.
*****