
Alexa meraba lengannya yang masih diperban, terasa perih. Ketika dia memburu penjahat itu, lengannya tertembak. Proyektil sudah diangkat hanya sekarang masih sakit.
Dia harus cepat pergi dari rumah ini supaya bisa minum obat. Tapi dia masih ingin bertanya walaupun menyakitkan. Alexa sebenarnya ragu-ragu untuk mempercayainya.
"Apakah kau istrinya?" tanya Alexa dengan dada berdebar, dia benci dengan senyum bangga Malee.
"Aku akan segera menjadi istrinya, kami dalam penjajakan. Cintaku tidak usah diragukan, sedalam lautan dan seluas samudra." sahut Malee percaya diri. Alexa tersenyum kecut. Jika itu benar dia bisa apa, anaknya butuh pigur mama dan papa.
"Kalian sangat serasi, aku melihat di salah satu kontenmu, kamu sangat sayang pada Haruka. Kalian sangat dekat satu sama lainnya. Apakah kamu menyayangi Haruka?"
"Jangan disangsikan lagi. Jelaslah, karena dia anakku dan Alvaro. Dia memanggilku mama dan untuk Alvaro dia memanggil papa. Klop sudah."
"Sangat romantis, aku senang sekali mendengarnya. Ini rumah Alvaro, sangat mewah dan pasti mahal."
"Rumah ini hadiah dari Alvaro. Aku saja kaget ketika diberi hadiah ini."
"Benarkah?" Alexa setengah teriak saking kagetnya. Tangannya cepat menutup mulutnya.
Ya Tuhan, haruskah aku percaya pada Malee? tapi kalau aku tidak percaya, wajahnya sangat serius saat berkata-kata. bathin Alexa.
"Kau sangat beruntung Malee semoga kalian berbahagia. Boleh aku minta nomer ponselmu dan suamimu, nanti aku akan mengirim hadiah."
"Kamu orang pertama yang memberi hadiah padaku, sementara orang di negara kami masa bodo."
"Aku terharu dan ikut senang dengan segala kenikmatan yang Tuhan berikan kepada kalian. Aku tidak seberuntung kamu."
"Owh..trimakasih." ucap Malee cepat memberi nomer ponselnya.
Mereka basa basi sebentar sambil menghabiskan minumannya dan Sneack ringan kesukaan Alexa. Akhirnya Alexa mohon diri dengan perasaan yang bercampur. Terlebih dahulu dia akan mencari tempat istirahat, penginapan tentunya. Dia perlu mandi dan istirahat.
Tadi dia terburu nafsu untuk datang kerumah Malee. Harusnya dia tidak datang secepat itu. Atau mencari waktu yang tepat supaya Alvaro ada. Untuk mencari rumah Malee sangat gampang karena dia seorang Agent Rahasia.
Alexa memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Mobil ini adalah kepunyaan kantor, dia dipinjamkan untuk beberapa hari. Mobil jeep anti peluru, sangat gagah. Mungkin nanti dia akan membeli mobil type begini.
Memang hatinya terasa sakit saat Malee mengumbar rasa cintanya kepada Alvaro. Yang berbicara baru Malee, Alvaro masih mistri. Tapi itu belum bisa dibuktikan kalau Alvaro berselingkuh dengan Malee.
__ADS_1
Alexa tidak seperti dulu lagi, cepat percaya dengan omongan orang. Dia akhirnya memutuskan menginap di Hotel Queen milik Alvaro. Dari sini dia akan menyelidiki kebenaran omongan Malee. Jika benar, Alexa bersedia pergi dari kehidupan Alvaro bersama Haruka atau tanpa Haruka.
Mobil Jeep Rubicon itu berbelok menuju Hotel Queen kepunyaan Alvaro. Dia langsung menuju lobby dan Alexa memarkir mobilnya di depan lobby. Alexa disambut oleh seorang gadis dibagian Front Office.
"Selamat petang nona, anda telah tepat memilih hotel kami untuk beristirahat. Silahkan nona check-in dan pilih kamar yang nona sukai. Ini ada list harga, jika nona menginap lebih dari seminggu akan ada hadiah khusus dari hotel kami." sapa gadis itu ramah sambil tersenyum.
"Bagaimana kalau aku menginap sebulan, hadiah apa yang bisa kalian berikan padaku?" canda Alexa.
"Kami akan bertanya kepada bagian HRD. Keputusan ada di Jenderal Manager kami."
"Aku bercanda jangan diambil hati. Malam ini aku mau check-in satu kamar Presidential suite, apakah masih tersedia?"
"Kami akan menyiapkan, kebetulan masih ada yang kosong."
Kemudian Alexa diantar menuju lantai dua. Seorang Concierge yang bernama Sidex Kahale mengantar Alexa sampai ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Dia sangat puas melihat kamarnya. Mewah. Ternyata hotel, Villa atau rumah Alvaro cenderung di cat warna putih tulang dan white ash. Alvaro berarti senang bangunan mewah yang modern.
"Trimakasih pak Sidex." kata Alexa menutup pintu. Alexa menaruh tas ransel dan kopernya begitu saja, setelah membuka sepatunya dia langsung merebahkan diri.
Selesai mandi Malee duduk di teras depan menunggu Alvaro. Sekitar pukul 18.30 Alvaro baru datang. Dia menggendong Haruka yang sedang tidur. Malee cepat-cepat datang menyongsongnya.
"Tuan, malam sekali datangnya. Aku menunggu dengan khawatir."
"Ajak Haruka istirahat, jika kau belum makan, makanlah dulu. Aku sudah makan. Jangan menunggu ku hanya istriku yang pantas bersikap seperti kau."
"Tuan tidak tahu trimakasih, aku juga dari tadi ngantuk, jika saat ini aku mengorbankan diri demi Tuan, itu semata-mata karena rasa sayang dan cintaku kepada Tuan."
"Sudahlah, aku mau istirahat." Kata Alvaro menutup pembicaraannya. Dia pergi menuju kamarnya.
Keesokan harinya, Alvaro datang seperti biasa menuju hotel. Saat dia melewati lobby, Alvaro terpaksa mobilnya kembali mundur karena matanya melihat Jeep Rubicon di depan lobby. Hati Alvaro bergetar, dia ikut parkir di depan lobby.
"Selamat pagi owner."
Semua karyawan yang bertugas di lobby ketakutan karena ownernya tiba-tiba menghampiri mereka.
__ADS_1
"Siapa yang punya mobil ini." kata Alvaro menatap mereka satu-satu. Dada mereka berdebar tidak karuan. Akhirnya Nancy maju menjawab ketakutan.
"Maaf Owner, kemarin saat maghrib, datang seorang tentara check-in disini. Waktu itu saya takut menegur tentara itu untuk melarang parkir disini, karena dia membawa pistol. Sepertinya dia pulang habis perang, lengannya dibalut perban. Apalagi dia mengatakan mau sebulsn tinggal disini, dan dia malahan sudah membayar tunai untuk waktu seminggu."
"Hanya karena dia tentara kau ketakutan, kau ini sedang bertugas. Dimana dia menginap."
"Di Presidential suite Owner."
Alvaro cepat menuju ke kamar yang dituju. Langkahnya lebar dan rahangnya mengeras. Beberapa staf Manager dan Scurity mengikutinya dari belakang.
Alvaro menekan Bell. Terdengar kaki diseret dengan malas. Jantung Alvaro berdebar kencang. Saat pintu dibuka Alvaro terpaku. Ujung pistol mengarah kedadanya.
"Apakah kau ingat aku Alvaro?" suara Alexa terkesan dingin.
"Kau selalu ada dihatiku sampai nafas memisahkan ragaku. Aku sudah berubah dan aku sangat merindukanmu."
"Apakah kau membasahi ranjangmu dengan keringat Malee?"
"Aku setia, kau menghinaku sayank." jawab Alvaro kurang senang kalau Alexa menuduhnya selingkuh dengan Malee.
Para karyawan yang tadi mengikuti Alvaro seketika menjauh, ketika Alexa menodongkan pistol kepada Alvaro. Jadi pembicaraan antara Alexa dan Alvaro tidak jelas mereka dengar.
Alexa lalu menurunkan moncong pistolnya dan masuk kedalam kamar Alvaro ikut masuk dan menutup pintu.
"Yank...kau tidak rindu padaku?"
"Gak, ngapain rindu sama buaya darat. Aku mau breakfast dulu tidak mau sama bekas-bekas."
"Mari kita sarapan, setelah itu kau harus berobat disini ada dokter hotel."
"Jika kau tidak ada selingkuh dengan Malee, apakah kau mau mendeportasi Malee ke negaranya?"
"Apapun yang kau minta aku akan kabulkan yang penting hangat pergi meninggalkan aku lagi." kata Alvaro sangat senang. Dia memeluk Alexa dengan erat. Kini bibirnya sudah mendarat di bibir Alexa.
***** TAMAT *****
__ADS_1