
Suara tembakan terdengar jelas dan kian mendekat. Alexa lari ke pintu utama menahan supaya orang tidak bisa masuk. Dia mulai menembaki satu persatu lawan yang berusaha masuk ke dalam.
Sebelum musuh merangsek masuk Alexa berlari membuka pintu kamar dan menyuruh semua perempuan itu naik ke lantai lima. Musuh semakin banyak sedangkan pengawal terlihat kewalahan.
Alexa mulai menghubungi aparat setempat, minta bantuan supaya disiapkan mobil ambulans, mobil pemadam kebakaran. Ada indikasi Mansion akan dibakar. Dan minta helikopter mengangkut korban di lantai lima.
"Farida mana gudang senjata disini musuh sudah mulai masuk."
"Di lantai tiga, kamar paling pojok." jawab Farida.
"Kau jangan berbohong di saat begini, lantai tiga kosong, itu tempat tawanan."
"Cari saja sendiri kau punya mata." ketus suara Farida. Astaga, Alexa menelan marahnya. Sampai hati Farida berkata begitu.
"Kalian diam disini, helikopter akan segera datang. Berdoa kepada Tuhan supaya selamat musuh sudah memasuki lantai satu."
"Anahita dan Inshira bantu untuk menembak musuh kalau naik lewat tangga darurat." perintah Alexa lalu menyerahkan pistol.
"Aku tidak bisa menembak." jawab Anahita menolak. Pistol diambil oleh Farida.
"Aku biasa menembak musuh." sahut Farida sengit.
"Jaga musuh disana dan tembak satu persatu sebelum helikopter datang. Aku akan menembak gardu listrik supaya lift mati." kata Alexa membidik gardu yang berada jauh di di pinggir jalan raya di depan baleho klinik.
Alexa membidik gardu dengan senapan runduk, kalau dia tembak gardu, listrik akan padam semuanya. Akhirnya dia terpaksa menembak gardu supaya lift mati. Musuh akan bisa di lawan kalau lewat tangga darurat.
Bunyi ledakan gardu sangat dasyat, api keluar dari gardu menjilat tiang listrik dan menyambar ke segala arah. Bantuan dari aparat datang, polisi meneriaki para gangster supaya berhenti tawuran. Tembakan peringatan dari polisi tidak digubris oleh gangster, sehingga polisi ikut menembak.
"Bakar...bakar...." terdengar teriakan dari bawah. Bergetar dada Alexa. Dia menyadari sudah waktunya ke sombongan Ady Mema musnah. Dunia hitam harus lenyap. Kalau memang ini jalannya, ya sudahlah.
Mansion mulai di bakar api menjalar kemana-mana. Bau mayat golongan membuat Alexa mual. Terasa sesak dan panas di lantai lima. Untung pemadam kebakaran cepat datang. Alexa dan yang lainnya hampir pingsan menghirup asap.
"Aku tidak bisa bernafas." Ntah siapa yang bicara.
Alexa cepat lari ke pojok mencari kran air dan memanggil mereka satu persatu, supaya minum, membasuh wajah. Hawa disini sangat panas, Alexa melongok ke bawah, rupanya aparat sudah menangkap semua gangster. Alexa yakin pengawal dari pihak Ady Mema sembilan puluh persen meninggal.
Alexa mencabut umbul-umbul dan menggoyang-goyangkan sambil berteriak-teriak minta tolong.
"Tolong...tolong..masih ada orang disini." semua akhirnya ikut berteriak Alexa merasa senang karena ada tanggapan dari bawah. Ketika Alexa berbalik Farida dengan angkuhnya menodongkan pistol kepada Alexa.
__ADS_1
"Mampus kau anak durhaka..."
"Dooaarrrr...." Alexa tumbang dan tubuhnya ambruk jatuh ke lantai.
"Alexa!!" seruan itu keluar dari bibir pelayan.
"Syukurlah kalian masih hidup, mari turun lewat tangga pemadam." dua orang laki-laki sudah sampai di atas.
"Ada yang pingsan atau...." salah satu dari pria itu lalu memeriksa Alexa, dia lalu menggotongnya turun.
"Minggir... yang celaka duluan." katanya.
"Sudah mati itu pak." sahut Farida kesal. Pelayan dan nyonya Rodrigo kesal melihat tingkah Farida yang tidak tahu terimakasih.
Mereka turun satu persatu, ada sekitar lima puluh orang perempuan. Api sudah padam, air membasahi seluruhnya yang ada. Mayat ada di mana-mana. Bau darah dan mayat terbakar menusuk hidung.
Farida menangis melihat bangunan Mansion yang dia banggakan jadi hancur. Bangunan yang disamping juga ikut terbakar. Susah payah dia dan Ady Mema membuat bangunan itu, tapi sekarang sudah menghitam.
Klinik juga ludes terbakar, Farida menghitung kerugian dalam hati. Dia menyalahkan Alexa yang membunuh Ramos. Semua akar masalah dari Alexa. Coba Ramos tidak terbunuh, para gangster tidak mungkin datang membakar Mansion.
"Nyonya minum dulu." kata pelayan menghampiri Farida yang berdiri mematung. Air matanya nembanjir.
"Tidak ada makanan, aku lapar sekali."
"Dapur terbakar nyonya dan uang yang ada di kamar terbakar."
"Aku bisa pingsan menahan lapar."
"Sabar nyonya, nanti pasti ada dari dinas sosial dan tetangga yang bawain makanan."
"Yang lainnya mana?"
"Didepan nyonya. Inshira lagi sedih karena mamanya pingsan."
"Segitu saja pingsan, belum dikasih bertempur sama musuh." ejek Farida sambil tersenyum sinis.
"Anahita mana?"
"Dia juga pingsan mungkin shock nyonya. Sebagian pingsan."
__ADS_1
"Mereka lemah semua."
"Disamping lemah, karena makan dijatah sekarang, upah dua bukan tidak dibayar, dari pagi kita belum makan, karena Inshira masih men7nggu uang dari Tuan." kata pelayan itu berani.
Nyonya Farida langsung mulutnya mingkem. Dia sendiri banyak hutang apalagi sekarang kena musibah kebakaran, dia Betul-betul hancur.
"Tuan Alvaro datang nyonya?" kata pelayan itu memandang ke depan. Alvaro datang dengan tergesa-gesa dia langsung memeluk mamanya. Marchel dan dua puluh pengawal inti mengajak wanita itu ke belakang.
"Syukurlah mama selamat." kata Alvaro dengan mata berkabut. Dia ketar-ketir ketika melihat ponsel yang mengatakan ada kebakaran.
"Pak polisi trimakasih saya telat datang." Alvaro mendekati salah satu polisi yang memasang police line. Dia juga membayar jasa dari pemadam kebakaran.
Setelah para aparat pulang, Alvaro mengajak mereka semua ke kolam renang. Di belakang kolam renang masih ada beberapa gazebo dan mini bar serta tempat nge gym yang tidak terbakar.
"Kalian semua duduk disini, sebentar lagi makanan akan datang." kata Alvaro mengajak Marchel untuk menjelaskan mencari cleaning service.
"Tuan, aku mau mengurus para korban. Kita bagi tugas." Marchel menghampiri Alvaro. Mereka lalu duduk sambil berbincang-bincang dengan pengawal yang masih hidup dan pengawal.
"Anggaran untuk pemakaman di sediakan Tuan. Kita bereskan dulu yang meninggal, setelah selesai baru kita memeriksa di dalam Mansion." kata Marchel sambil menghapus keringat. Udara sangat panas.
"Apa Dapur tidak bisa di pakai sama sekali?" tanya Alvaro kepada pelayan.
"Saya belum periksa Tuan, masih panas, kami shock. Hampir saja kami semua terbakar." kata Anahita gemetaran.
"Tapi kita harus bertrimakasih kepada Alexa kalau tidak ada dia kita sudah mati." sahut Mendez sinis.
"Mendez mulut kau!!" bentak nyonya Farida marah.
"Mendez dimana Alexa sekarang, apa dia pergi?" Alvaro langsung menatap Mendez tajam. Dadanya berdebar mendengar nama Alexa di sebut. Menyesal kalau tadi dia pergi.
"Sudah mati terbakar." jawab Farida.
"Dimana jazadnya?"
"Tidak usah mikirin yang sudah tiada lebih baik urusin kita-kita ini." kata Farida tidak senang.
"Sekarang kita pembagian, aku cukup lima pengawal dan dua orang pelayan. Mendez dan Elize." kata Marchel licik. Dia mau mencari tahu dimana Alexa saat ini. Dia tidak akan percaya mulut Farida.
******
__ADS_1