Cantiknya selir MAFIA

Cantiknya selir MAFIA
MENYAMAR


__ADS_3

Alexa sengaja memberi uang lebih kepada sopir taxi. Dia masuk ke dalam Apotek membeli test pack, obat pusing, batuk, flu dan beberapa obat lain untuk bukti dia ke apotek.


Selesai membayar ke kasir Alexa lewat jalan samping, biasanya jalan ini di pakai oleh Medrep ( Medical representative) untuk menawarkan obat ke apotek supaya pelanggan tidak terganggu.


Alexa keluar dari apotek lewat samping, dia memakai slayer untuk menutupi kepala dan setengah wajahnya. Kemudian Alexa berjalan menjauhi apotek. Matanya sekilas melirik Scurity yang menguntitnya, Scurity itu sedang menunggu Alexa keluar dari apotek. Dia berada di belakang taxi yang tadi Alexa tumpangi.


Alexa melangkah dengan cepat dan berjalan menjauhi apotek. Dia lalu naik taxi lain yang mangkal di depan super market.


"Kemana nona?" tanya sopir taksi ketika Alexa sudah duduk di jok mobil.


"Klinik Ady Mema." jawabnya. Alexa tidak tahu daerah sini apalagi jalannya, yang dia tahu hanya rumah dan klinik Ady Mema saja.


"Untuk apa nona kesana itu sarang mafia. Hati-hati nona."


"Maksudnya itu patokan jalan saja, aku tidak masuk ke dalam klinik itu, aku hanya mencari teman di sekitar sana."


"Oh begitu, saya antar nona."


"Trimakasih pak."


Taxi melaju dengan kecepatan sedang, Alexa gregetan kepingin ngebut saja.


"Pak lebih kenceng sedikit, teman saya sudah menunggu disana."


"Baik nona jangan takut, pegangan yang kuat, saya mau ngebut." kata pak sopir.


Yaelah...taxi tetap saja jalannya seperti keong. Suara pak sopir saja yang kenceng. Setelah tiga puluh menit perjalanan akhirnya sampai juga di tujuan.


Baleho besar dipajang di pinggir jalan, bertulisan klinik Ady Mema. Alexa menoleh ke depan klinik, suasana masih sepi, mereka belum ada. Belum jam tujuh malam.


Alexa memandang klinik itu dengan perasaan bercampur. Dia ingat Alvaro, hatinya tersayat sedih. Alexa mencintai laki-laki itu dengan tulus. Berarti hanya klinik ini yang masih menghasilkan uang. pikir Alexa. Apa ada orang luar yang berani berobat kesini?


"Nona mau turun dimana?" sopir taxi sudah over gigi memperlambat laju mobilnya. Alexa tidak tahu harus turun dimana karena jalannya sepi di depan klinik.

__ADS_1


"Pak maju dikit, saya turun sebelum Circle K." kata Alexa mengeluarkan uang dua lembar untuk ongkos taxi. Mobil maju melewati klinik, Alexa akhirnya turun menuju CK. Dia mau belanja supaya ada alasan untuk nyonya besar.


"Trimakasih nona." sopir taxi itu kegirangan saat menerima uang lebih dari Alexa.


Alexa masuk ke Circle K, memilih makanan ringan. Selesai membayar di kasir Alexa keluar, dia berjalan pelan menuju klinik. Tiba-tiba ada motor langsung berhenti di depan klinik. Satu orang laki-laki turun, yang satu masih duduk di motor. Alexa tahu yang turun itu Gedeon. Alexa pura-pura menunggu taxi.


"Nyonya Farida anda telah menipu kami, dia bukan Kussy tapi namanya Alexa." tegur Gedeon mendekati nyonya Farida yang baru muncul dari balik rerimbunan pohon hias.


"Saya tidak bohong, wanita itu menyamar sebagai Kussy, dia itu penjahat. Dia yang membunuh Alfredo dan Ady Mema. Kalian akan menyesal setelah tahu ini."


"Aku tidak percaya, mana uangnya. Cepat keluarkan uangnya." bentak Gedeon marah. Dia memukul tangan nyonya Farida dengan gagang pistol.


"Kau jangan kasar." rintih nyonya Farida memegang tangannya.


"Kesini bawa uangnya, kalau tidak, aku tembak jantung kau sekarang." laki-laki yang baru turun dari motor membentak nyonya Farida.


"Mana bisa kau minta uang kembali, pastikan dulu, wanita itu Kussy, dia temannya Ramos, yang membeli gedungnya Alfredo." nyonya Farida berusaha meyakinkan Gedeon.


"Hallo nyonya besar, Alexa ada di rumah?" tanya Gedeon dengan suara tinggi.


Tapi sebelum Gedeon lanjut bicara Alexa meloncat ke arah Gedeon, dia menendangnya sehingga ponselnya jatuh. Terdengar suara retak dari ponselnya Gedeon.


"Kurang ajar, siapa kau brengsek!!" teriak Gedeon marah.


"Wanita itu!!" pekik temannya Gedeon menatap Alexa. Padahal Alexa sudah memakai slayer untuk menutupi sebagian wajahnya dan kepala.


Takut penyamarannya di ketahui oleh kedua orang itu Alexa kembali menendang Gedeon dan temannya secara bergantian. Gedeon berkelit dan langsung menodongkan pistol kepada Alexa.


Sebelum pistol Gedeon menyalak, Alexa cepat mengambil Revolvernya tidak ada ampun lagi Revolver Alexa menyalak dua kali.


"Dubbzz...Dubbzz....." nyonya Farida berteriak karena darah segar muncrat ke wajahnya. Gedeon dan temannya ambruk.


"Pembunuh...pembunuh...pembunuhteriak nyonya Farida histeris. Semua orang berhamburan keluar dari klinik. Marchel yang bersembunyi di balik rerimbunan matanya tidak lepas dari kejadian itu. Tadi dia tidak mau keluar karena Gedeon melarang nyonya Farida mengajak teman.

__ADS_1


"Alexa...Alexa...." Marchel berlari mengejar taxi yang di tumpangi oleh gadis pembunuh itu. Dia merasa gadis itu adalah Alexa, dia sangat mengenal gadis itu, walaupun gelap dia tahu yang tadi datang mirip Alexa.


Akhirnya Marchel berhenti berlari, dia balik ke klinik. Dia tidak peduli dengan tangisan nyonya Farida. Sudah banyak yang menolongnya dan mereka membawanya ke klinik.


Marchel bergegas mencari rekaman CCTV di kantor Scurity. Dia cepat menghapus rekaman dari dua hari sebelumnya. Seumpama Polisi akan datang, tidak mungkin menyelidiki kejadian ini terlalu dalam, karena tempat ini wilayah mafia. Kecuali ada polisi berani mati. Pembunuhan sering terjadi di wilayah ini dan kasusnya hilang begitu saja.


Marchel tadi merasa kesal dengan pernyataan Farida yang memojokan Alexa. Untung gadis itu datang, tapi benarkah itu Alexa. Jika itu Alexa kenapa dia lari. Marchel tersenyum mengingat peristiwa tadi. Kenapa dia berlari mengejar taxi memanggil Alexa. Apakah itu tandanya cintanya terlalu besar kepada gadis itu....


"Pengawal terlihat hilir mudik, mayat Gedeon dan temannya sudah diambil polisi. Marchel mencari tahu lewat Hot news malam ini, biasanya berita cepat sekali menyebar. Tapi kejadian tadi tidak ada gaungnya.


Bentrokan antar mafia. Korban dua orang laki-laki, kejadiannya di depan klinik Ady Mema. Cuma dua baris kata yang tidak bermakna. Seolah nyawa tidak berarti. Tidak ada berita yang mengatakan Gedeon anak buah siapa. Marchel melempar ponselnya ke kasur. Lebih baik dia tidur. pikirnya.


"Tookk...tookk..."


Baru mau tidur sudah ada yang mengetuk pintu. Marchel turun dari ranjang dan membuka pintu. Nyonya Farida bersama Inshira dan Anahita berdiri di depan pintu.


"Ada apa ini nyonya?" suara Marchel tidak bersahabat. Rasa kesalnya menumpuk. Kalau tidak ada gadis itu pasti nyonya Farida sudah mati.


"Marchel kenapa kau berteriak memanggil Alexa tadi?" tanya nyonya Farida ingin tahu.


"Karena yang menyelamatkan nyonya adalah Alexa. Betapapun nyonya membencinya dia tetap berbakti." sindir Marchel asal bunyi.


"Alexa sudah mati di tangan Gedeon, tidak mungkin Alexa berkeliaran lagi. Jika dia belum mati pasti di kurung dan disiksa."


Benar juga. pikir Marchel, terus yang tadi itu siapa?


"Marchel aku bertrimakasih padamu telah menolongku. Uang satu miliar itu akan aku pakai bayar hutang."


"Nyonya jangan, kalau belum ceknya dicairkan lebih baik saya ambil saja."


"Sudah habis Marchel, trimakasih." kata Farida pongah.


*****

__ADS_1


__ADS_2