Cantiknya selir MAFIA

Cantiknya selir MAFIA
PEROMPAK


__ADS_3

Alvaro menangkupkan kedua tangan ke wajahnya, perasaan kacau, marah bercampur menjadi satu. Perasaannya sangat sedih melihat kapal Tongkang dan kapal barang serta seratus lebih pengawal hancur tanpa sisa. Dia tahu siapa yang harus dipersalahkan, tidak lain Francisco orangnya.


Mereka bengong menonton kapal Tongkang yang meledak tiba-tiba.


Marchel dan Margareta sangat heran, kenapa bisa meledak. Honduras pasti marah jika tahu semua pengawalnya yang dia kirim meninggal dunia. Margareta takut menyampaikan prihal ini, tapi rasanya tidak sopan kalau dia diam.


Marchel yang sudah biasa memimpin strategi perang juga merasa aneh. Jika kapal terbakar karena kena tembakan senapan AK.47 di bagian mesin tidak akan terjadi ledakan yang maha dasyat itu. Peluru AK.47 berukuran 7,62 ×39 mm, rasanya tidak mampu menembus dinding mesin, kecuali ada bom.


"Alexa siapa kau." Marchel mencabut pistol dari pinggangnya, sebelum pistol itu di todongkan kepadanya kaki kiri Alexa menendang tangan kanan Marchel. Pistol terpental tinggi, Alexa cepat menangkap pistol itu dan menodongkan kepada ke tiga orang itu.


"Kalian berkumpulah supaya aku gampang membunuh. Aku sengaja mengulur waktu untuk membunuh kalian, karena buaya di rimba belum lapar."


"Alexa, aku tidak ikut-ikut kenapa kau menodongkan pistol kesini." pekik Margareta berkeringat dingin.


"Apa kalian takut mati?" ejek Alexa.


"Alexa jangan main-main aku mencintaimu." suara Alvaro lirih.


"Tolong diingat aku ini musuhmu. Kau mungkin menganggap ancamanku sebelah mata, tapi tidak apa-apa lebih baik begitu."


"Alexa aku mohon maaf padamu tidak sepatutnya aku curiga padamu, kau baik dan tidak neko-neko." kata Marchel.


"Kau baru tahu aku orang baik, Ketahuilah aku orang kejam melebihi kalian. Aku sanggup menggantung kalian di atas kolam buaya supaya buaya menggigit sedikit demi sedikit tubuh kalian." kata Alexa dengan suara dingin.


"Jangan main-main sayank, aku mencintaimu." ucap Alvaro lirih.


"Aku juga sama...." Marchel semakin takut karena Alexa terus menodongkan pistolnya.


"Mulut kau chel, ngapain kau mencintai Alexa?"


"Kapan?"


"Sudah-sudah...belum waktunya kalian mati, lebih baik kalian hadapi para pencari berita, katakan Francisco ada di balik tragedi ini."


Alexa menurunkan pistol dan memutar selongsong pelurunya, mengeluarkan amunisi yang berisi 6 biji. Kemudian dia melempar pistol itu kewajah Alvaro, laki-laki itu menangkapnya dengan cepat.


Alexa masuk ke dalam kamar. Hari ini sangat membosankan, dia menaruh amunisi pistolnya di laci.

__ADS_1


"Sayank, kau mau tidur?" Alvaro masuk kamar dan mendekati Alexa.


"Kenapa kau ikut masuk kamar, kau urus dulu masalah kapal Tongkang. Kau harus kekeh mengatakan Francisco ada di balik tragedi ini. Kau juga harus katakan perompak itu adalah anak buahnya."


"Mana buktinya, aku tidak mau kena undang-undang I.T gara-gara sembarang bicara."


"Pertama Francisco akan membantah dengan keras tidak akan mengaku. Setelah sehari kau tinggal keluarkan buktinya. Kau bikin himbauan supaya bapak-bapak yang duduk di parlemen tersentuh hatinya."


"Buktinya mana, tadi aku cari di laptop sudah ke hapus." tentu saja ke hapus itu dari Dansus. Bathin Alexa.


"Aku lupa save, sorry."


"Aku mohon supaya kau membuat himbauan, bukannya aku mau lepas tangan. Pengawal benar-benar habis. Sangat sulit mencari pengawal atau pelayan. Masalahnya mereka semua rampasan dari mafia lain."


"Kau banyak alasan, ini barang legal tidak usah takut. Aku disini hanya tawanan sudah direkayasa mati, tidak lazim kalau aku tiba-tiba muncul. Kau punya istri dan ajudan, suruh mereka melakukan, jangan lempar batu sembunyi tangan, gak zaman Alvaro."


"Aku tidak main medsos." kilah Alvaro.


"Ayo kita keluar, suruh Vony datang bawa ponselnya. Kalau dia tidak memberikan pakai kebiasaan kau."


"Apa aku harus memukulnya atau melenyapkannya."


"Tidak lucu!!" Alvaro cembrut."


"Sok alim, biasanya juga begitu, tidak bisa lihat cewek nganggur."


Mereka keluar berdua, masih ada Margareta dan Marchel diskusi tentang kerugian Alvaro dan kemarahan Honduras.


"Marchel panggil Vony, pinjam ponselnya untuk membuat breaking news, paksa kalau tidak mau." perintah Alvaro.


"Siap Tuan."


Marchel beranjak menuju dapur. Terlihat Vony sedang chattingan sama orang. Biasanya pelayan tidak boleh membawa ponsel, tentu mengundang kecurigaan. Marchel mendekati Vony mau mengagetkannya, tapi Vony keburu berbalik. Dia cepat menyimpan ponselnya di kantong roknya.


"Vony di panggil Tuan." kata Marchel memegang lengan Vony. Wajah Vony langsung berbinar.


"Saya mau ganti baju dulu." kata Vony mau ke kamar.

__ADS_1


"Tidak usah, urgent ini." Marchel menarik tangan Vony.


"Ada apa saya takut, apa salah saya bos." Vony gemetaran.


Vony tidak bisa menolak ajakan Marchel. Dia setengah diseret oleh Marchel sampai ke ruang kerja Alvaro. Dengan kaki sedikit gemetar dia berdiri di depan Alvaro. Wanita itu ketakutan karena kepergok membawa ponsel.


"Tuan, tadi aku lihat dia membawa ponsel." kata Marchel membuat Vony pucat.


"Vony aku pinjam ponselmu, untuk membuat breaking news di instagram dan facebook." kata Alvaro membuat Vony sedikit lega.


Dengan gemetar dia memberi ponselnya. Benda pipih itu langsung pindah ke tangan Alexa.


"Nona Alexa, ponsel saya jangan di hack tidak berisi apa-apa. Tadi saya chattingan dengan teman."


"Tidak apa-apa Vony, aku cuma pinjam akun." kata Alexa menempelkan tangan kirinya.


"Baik nona."


Tidak ada sepuluh menit ponsel Vony sudah di kembalikan. Alexa pindah ke laptop. Setelah meretas tanggal lahir, kemudian dioprek lagi dengan nomor telepon, alamat rumah, bahkan sampai akun keuangan Vony. Data pribadi Vony sudah di dapat dan kini disimpan oleh Alexa. Data Vony tidak bisa dibuka karena memakai sidik jari Alexa. Dia bisa saja menjual data pribadi Vony di situs gelap atau darkweb.


"Tuan Alvaro, aku sudah tulis di laman instagram dan facebook, aku buka kolom komentar, tapi jangan di balas komentar mereka. Biarkan Francisco yang datang kesini."


"Mungkin dia telepon atau datang kesini, tunggu saja." ucap Alexa masuk ke kamar.


Telepon dari Honduras membuat Margareta pucat pasi. Dia langsung menyerahkan ponselnya kepada Alvaro


"Hallo Honduras, aku baru mau menghubungimu, tapi aku menunggu hasil dari forensik." kata Alvaro tegas.


"Aku menyesal meminjamkan 50 orang pengawal ke perusahan kau."


"Kita tidak bisa mengelak karena takdir, mungkin sudah saatnya. Aku juga pengalaman ditinggal 50 pengawal. Tapi aku ikhlas, kalau itu menjadi suratan nasibku."


"Aku minta uang duka lagi 50 miliar, aku kalah judi di Macao."


"Astaga Honduras, income setiap hari segitu banyaknya, jangan memakai uang perusahan untuk poya-poya."


"Uang perusahan masih terjaga, jangan khawatir. Saat ini aku perlu lima puluh miliar lagi, kalau aku tidak bayar sekarang ini, aku akan di bunuh oleh mafia judi." jelas Honduras.

__ADS_1


*****<


__ADS_2