
Suara tawa Honduras membuat harga diri Alvaro merosot jatuh. Dia tidak menyangka kalau Alexa akan memilih Honduras. Martabat nya lenyap, Alvaro terluka. Dia mulai benci dan dendam kepada Alvaro.
"Alexa kau selirku, aku mencintaimu kau belum tahu siapa Honduras. Kau jangan tertipu dengan kebaikan palsunya. Sadar Alexa, hanya aku yang mencintaimu." kata Alvaro di atas luka hatinya. Dia berusaha menasihati Alexa namun gadis itu kekeh memilih Honduras.
"Alvaro dua kali kau memukul aku tanpa aku mau melawan, dan kau telah menendang ku dari hatimu, dari hidupmu. Sebaliknya akupun begitu. Dari pertama sudah aku ingatkan bahwa aku musuhmu dan aku akan membunuhmu." sahut Alexa tanpa mau menatap Alvaro.
"Kau dengar Alvaro, Alexa sudah menendang kau dari hidupnya dia menyerahkan perlindungannya padaku. Berhentilah kau berharap, aku janji akan membuat Alexa bahagia." Honduras kembali membuat darah Alvaro mendidih.
"Dia telah membuat Papaku koma, aku berhak menghukumnya."
"Aku akan menggantikan hukuman Alexa dengan." ucap Honduras.
"Kami punya ketentuan disini jadi jangan ikut campur. Aku tidak ingin berselisih saat ini, kejadian ini membuat aku tidak bisa berpikir."
"Biarkan aku menjalani hukuman ini, selesai hukuman aku ikut denganmu sebagai Honduras." kata Alexa untuk menengahi perdebatan yang tidak ada ujungnya.
"Baiklah kalau begitu aku setuju. Kau masuk kembali ke sel, aku akan mengambil makanan untukmu." kata Honduras menyerah.
"Kau boleh sekarang memberi dia makan, malamnya tidak usah. Aku juga tidak ingin kau berada dekat sel. Ini peraturan. Ada pelayan yang akan mengurusnya."
"Oke kalau begitu, aku akan menyuruh pelayan."
Alexa masuk ke dalam sel setelah ke dua orang itu pergi. Dia mandi dan mengganti baju yang tadi di beri pelayan. Ini baju tahanan yang bisa menyala di tempat terang. Jika dia lari baju ini akan menyala di tempat gelap dan memberi sinyal kepada pengawal. Pintar juga Alvaro. pikir Alexa.
Alexa membalikkan baju dan celana panjangnya, setelah itu baru dipakai. Dia tidak ingin lari, dia cuma ingin tidak dilihat dari luar.
Pelayan datang membawa nampan berisi makanan lengkap. Alexa duduk melempar senyum.
"Silahkan makan Nona." kata pelayan dengan sopan.
"Siapa yang menyuruhmu kesini?" tanya Alexa menatap tajam pelayan yang berada dihadapan nya.
__ADS_1
"Tuan Honduras."
"Katakan yang sebenarnya!!" bentak Alexa geram sambil menodongkan pistolnya. Walaupun dia menjadi tahanan Alvaro tidak mau menahan senjata Alexa.
"Nyonya Margareta."' jawab pelayan takut-takut.
"Bawa pulang makanannya, berikan pada Honduras, aku belum lapar. Katakan aku yang memberikannya."
"Siap Nona....."
Pelayan itu tidak mengerti apa maksud dari Alexa, tapi dia melakukan perintah Alexa, dia tahu Nona ini adalah selir Tuannya. Dia menuju kamar Honduras di lantai dua dan menekan bel pintu. Tidak berapa lama Honduras keluar dari kamarnya.
"Untuk apa membawa makanan kesini?" tanya Honduras heran.
"Nona Alexa yang menyuruh Tuan, saya tidak berani menolaknya." kata pelayan itu sopan.
"Bawa masuk ..."
Dia makan dengan lahap walaupun rasa masakannya tidak seenak di restoran, demi Alexa dia melakukan suapan demi suapan. Tiba-tiba Honduras memegang kepalanya, dia merasa pening dan tenggorokan tercekat. Mata berkabut, keringat dingin membasahi bajunya. Dengan tangan gemetar dia memencet nomor SOS di intercom.
Pengawal, pelayan dan Alvaro lari ke kamar Honduras, pintu di dobrak dari luar dan mereka kaget melihat mulut Honduras sudah berbusa, mata terbelalak dan tubuhnya kejang.
"Dia keracunan cepat bawa ke klinik." perintah Alvaro. Dia kaget melihat Honduras, siapa memberi makanan beracun kepada Honduras?
"Pelayan, siapa memberi Honduras makanan. Tidak ada yang boleh makan didalam kamar kecuali sakit, apa kalian tidak mengerti?" Alvaro marah dan memandang pelayannya satu persatu.
"Ma..af.. Tu..an..saya disuruh Nona Alexa." seorang pelayan wanita dengan gemetar bersimpuh sambil menangis.
"Aku tidak percaya ucapan kau, dia berada di sel bagaimana bisa dia yang kau tuduh!" bentak Alvaro.
"Tadi Nyonya Margareta menyuruh saya memberi makanan ke Nona Alexa, tapi Nona tidak mau makan, saya malah di suruh membawa ke Tuan Honduras. Begitu Tuan." kata pelayan itu gemetaran.
__ADS_1
Alvaro lari menuruni tangga, dia ke kamar Margareta. Wanita itu baru saja habis mandi, dia berencana mau pergi berbelanja sekalian untuk merayakan kemenangannya bisa melenyapkan Alexa, tiba-tiba Alvaro muncul di ambang pintu dengan wajah memerah. Margareta senang, dia bersorak kegirangan Alexa pasti sudah mati. bathin nya. Tadi dia sempat melihat pengawal berlarian.
"Ada apa sayang, bukan aku yang membuat makanan itu aku hanya mengambilnya saja." tanpa diminta penjelasan Margareta sudah duluan berkicau.
"Darimana kau tahu kalau aku akan membahas tentang racun. Aku tahu kau memberi makanan itu racun, bagiku itu tidak masalah. Jangan takut, aku malah bersyukur dan berterimakasih atas bantuan kau melenyapkan dia." kata Alvaro duduk di sofa.
"Sayang, tadinya aku takut melaku kan ini. Astaga, aku sangat bahagia sekarang. Ternyata kau hanya milikku. Kedatangan ku kesini ada hikmahnya."
"Nikmati kebahagiaan kau dengan berbelanja, kau boleh pergi ke Milan atau keliling dunia, terserah kau, ingat matikan ponsel, supaya kau nyaman." kata Alvaro menyerahkan Black Card yang dia keluarkan dari dompet.
"Trimakasih sayang kau tahu saja keinginanku." ucap Margareta sudah tidak sabar untuk berbelanja keliling dunia. Margareta langsung memeluk Alvaro, dia merasa merdeka.
"Pergilah lewat pintu belakang, satu atau dua bulan kau boleh pulang. Saat ini suasana di rumah ini kurang nyaman."
"Aku akan pergi lama, kau baik-baik dirumah. Semoga semuanya kembali normal seperti semula. Aku titip Honduras."
"Baiklah, dimanapun kau berada, aku akan selalu ingat dirimu." kata Alvaro melepaskan pelukannya.
Margareta beranjak pergi, dia lewat pintu belakang yang menuju garasi. Dia tidak jadi membawa mobil, dia melihat mama Farida baru datang. Margareta sembunyi diantara mobil. Dia menelpon Honduras tapi tidak diangkat. Setelah aman, dia keluar ke jalan raya.
Tiba-tiba ada mobil taksi berhenti di depannya.
"Silahkan masuk Nyonya saya akan mengantar Nyonya ke Bandara." sopir taksi itu membuka pintu mobil.
"Syukurlah kau cepat datang, padahal aku baru menelpon." kata Margareta duduk di belakang sopir. Dia heran juga.
Matahari mulai condong ke Barat, Margareta menarik nafas lega, dia tersenyum penuh kemenangan bisa dengan mudah lepas dari masalah yang dia pikir akan blunder.
Margareta mengeluarkan ponselnya ketika ada notifikasi masuk. Dia tahu itu pasti panggilan dari Alvaro, karena dia hanya membawa ponsel pribadi. Saat Margareta membuka ponsel,
"Boommms....." ledakan itu sangat keras menghancurkan mobil taksi beserta sopir dan Margareta. Jalan yang tadi sepi nenjadi ramai. Sebuah bom rakitan menghancurkan segalanya.
__ADS_1
*****