
Selesai acara sarapan Alexa kembali ke kamar dengan Alvaro. Sampai di dalam kamar Alvaro memeluk Alexa dengan gembira.
"Aku bahagia kalau papa sadar." kata Alvaro senang.
"Aku juga senang, silahkan nikahi sepuluh bidadarinya supaya kau dapat keturunan yang berkualitas tinggi seperti Farida."
"Elehh..belum apa-apa kau sudah cemburu, belum terjadi. Aku akan nikahin kalau itu permintaan papaku aku akan tempatkan wanita ini dalam sepuluh kamar, tiap wanita dapat segalanya, masing-masing kamar ada nomernya supaya aku tidak double masuk kamar."
"Bagus, semoga kau bahagia, aku semakin ingin membunuhmu. Aku datang membawa dendam, pulang harus membawa darah."
"Apa kau tega membunuh kekasih hatimu, orang yang kau cintai, orang yang spesial dalam hidup kau."
"Aku berbeda dengan wanita lain, aku bisa memanage perasaan dan aku bisa mengesampingkan kebutuhan primer dan sekunder."
"Kau membuat aku down, tidak bersemangat, kesel aku. Selalu saja balas dendam, aku ada ngapain, apa salahku." kata Alvaro melempar bantal.
Alexa terdiam, harusnya dia tidak terpengaruh oleh rencana Farida. Kenapa hatinya tidak rela, jangan sampai dia jatuh cinta kepada Alvaro. Dia bukanlah wanita yang cepat jatuh cinta, Alvaro bukanlah lelaki yang patut di dambakan.
"Apa maumu Alexa, lebih baik kau bunuh aku sekarang daripada kau selalu mengingatkan diriku. Aku baru merasa bahagia karena papaku sadar, sudah kau smash dengan ucapan yang mematahkan semangat."
"Sorry Alvaro, aku tidak akan peduli padamu. lebih baik aku ke tempat Alfredo untuk menyelesaikan Managemen perusahan supaya keadaan perusahan lebih baik."
"Kau bisa apa, tidak usah ikut campur dengan perusahanku."
"Alvaro apa kau lupa bahwa kita punya perjanjian, bahwa 50 persen perusahan Alfredo menjadi milikku. Sedangkan kau tidak punya saham disana. Wajar kalau aku mau mengurusnya."
"Itu sebatas wacana Alexa, tidak ada hitam di atas putih. Kau juga menjadi selirku angin-anginan."
"Kau akan ingkar janji, aku sudah menjual harga diriku dengan 50 persen saham. Kau tidak boleh menjilat ludah sendiri."
__ADS_1
"Owh..ini watak aslimu yang ingin merebut perusahanku, berarti benar kata mereka kau murahan dan tidak pantas di pakai pendamping. Kau sama seperti mereka MODUS!!"
Alexa mengunci mulutnya, dia jalin rambutnya, mengganti pakaiannya dengan pakaian pengawal. Holster di pakai di pinggang, pisau terbang berada berjejer 3 buah. Dia juga mengantongi peluru cadangan. Tidak lupa dia membawa senapan penembak runduk dengan amunisi kaliber 7.62 x 51 mm dilengkapi dengan teropong bidik untuk meningkatkan akurasi tembakan pada jarak 1 km.
Terakhir dia memakai Sneaker dan topi egle dan jaket jubah yang menutupi lehernya. Alexa menyambar kunci mobil dari atas nakas dan memakai kaca mata hitamnya Alvaro.
"Kau mau kemana?" tanya Alvaro ketar ketir. Dia takut kehilangan Alexa.
"Kau tidak berhak mengurus aku." kata Alexa serak, matanya merah menatap tajam Alvaro.
Alvaro mau memeluknya. Alexa mendorongnya ketembok. Alexa langsung mengambil Revolver dan menembak Alvaro. Peluru datang tiga kali, nyaris menyentuh kepala, dada, pinggang, letak peluru deretan naik turun. Kecuali penembak ulung tidak bisa membuat seni tembak yang begitu rapi melubangi tembok.
Alvaro yang mendapat shock therapy, langsung merosot turun dan terduduk di lantai. Keringat dingin membasahi bajunya. Dada Alvaro berdebar.
Selesai menembak Alexa meniup ujung Revolver nya yang masih mengeluarkan asap. Kemudian dia memutar selongsong peluru dan memasukkan tiga peluru cadangan. "kleqq" Revolver kembali di masukan ke holster.
Alexa keluar dengan gagah, wanita yang tadi berada di ruang makan sekarang sedang berbaris menerima bimbingan dari Farida. Sedangkan Inshira lagi bergosip ria dengan mamanya.
"Lepaskan anjing Doberman."
Pelayan dan pengawal cepat berlari dan membuka kandang anjing galak itu. Seekor anjing Doberman lari mengejar Alexa, gadis itu secepat kilat balik kebelakang menembak anjing itu, kala anjing meloncat di udara mau menerkam dirinya. Anjing itu jatuh tidak bernapas lagi.
Alexa setengah berlari menuju mobil Alvaro dan Marchel mengikutinya. Semua pengawal berdatangan untuk menangkapnya. Alexa naik kemobil dan menghidupkan mesin mobil.
"Jangan menembak minggir...." teriak Alvaro. Mobil ini anti peluru tidak akan berguna jika di tembaki.
Jalan satu-satunya adalah Ikut naik ke mobil masing-masing dan mengikutinya.
Alexa memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, mobil pengawal, mobil Marchel, Alvaro ketinggalan jauh. Untungnya Alvaro sudah tahu bahwa Alexa akan pergi ke Kantor Alfredo.
__ADS_1
Sampai di Perusahan Alfredo, Alexa masuk dengan memakai sidik jari. Alexa menuju parkiran, dia turun dari mobil menuju kantor.
Disini semua menggunakan sidik jari walaupun Alexa secara fisik belum pernah datang tapi secara Online dia sering datang mengambil bagiannya dia melakukan lewat chip implant.
Alexa menemukan pengawal dan para gangster pemula yang respon terhadap kedatangannya. Mereka tidak mengenal, tapi akan membiarkan Alexa menuju kantor karena hanya orang dalam yang berkuasa bisa masuk, jadi tidak perlu di curigai. Disini jarang fisik yang datang karena sudah Online.
Alexa membuka ruangan Alfredo dan duduk di kursinya. Dia mengunci pintu dengan sidik jarinya.
"Selamat pagi semuanya, aku adalah pimpinan kalian yang baru, mulai sekarang." kata Alexa lewat zoom kolase dari jaringan terpengaruh, yang langsung di saksikan oleh semua orang yang punya sangkut paut dengan perusahan Alfredo termasuk Alvaro dan Marchel. Mereka tidak akan mengenal wajah masing-masing walaupun zoom karena memakai gambar kolase.
"Selamat datang Alexaandria, aku adalah penanggung jawab perusahan Casino yang berada di Macao."
"Mr. Chang, ada perbedaan yang sangat jauh sebelum dan sesudah Ady Mema sakit. Menurut nalar itu tidak perlu terjadi, karena kita tidak bangkrut, jadi itu hal mustahil jika pendapatan menurun. Ini judi, bukan saham, animo masyarakat harusnya tidak ada perubahan, jangan playing victim, aku sering ke Macau jadi tahu situasi disana."
"Hemm...nona, aku akan meninjau kembali, waktu ini data kita di hack kemungkinan ada laporan keuangan yang terlewati."
"Aku tidak main-main Mr. Chang, kau tahu sendiri akibat yang akan kau dapatkan kalau kau berbuat curang, memanipulasi, aku bisa lebih kejam dari TRIAD."
"Baik..baik nona, trimakasih."
Alvaro dan Marchel saling pandang, dia juga ikut dalam zoom kolase tadi mereka tahu itu suara Alexa. Mereka berdua semakin penasaran padahal Alexa tidak ada bergerak kemana, tapi kenapa Alexa sudah akrab berbicara dengan Mr. Chang, kapan mereka komunikasi. Bingung.
"Bagaimana ini Chel, dia mengambil 50 persen pendapatan di Macao, berarti ke rekeningku nihil. Harusnya ke rekening Alfredo 50 persen juga. Kenapa dia selicik itu."
"Itu tidak mungkin terjadi tanpa persetujuan dari Tuan, jadi tolong ingat kembali apa yang pernah Tuan lakukan dengan Alexa, apa pernah membuat perjanjian?"
"Mari kita temui dia, aku gembong mafia bukan dia, tapi dadaku berdebar tidak enak. Mr. Chang saja tunduk, apalagi dia menyebut Triad hatiku seolah mencelos."
Tuan, kenapa bisa begini Tuan seperti ayam sayur?" perkataan Marchel membuat dia tambah nervous, karena Alexa sering berkata begitu.
__ADS_1
*****