Cantiknya selir MAFIA

Cantiknya selir MAFIA
SALAH FAHAM


__ADS_3

Tidak biasanya Alvaro duduk sendiri tanpa pengawal, apalagi berada di luar negeri. Biasanya dia membawa empat pengawal inti yang selalu menjaganya dan melayaninya. Kini dia harus belajar tanpa pengawal, tanpa ke istimewaan dan berusaha menjaga diri sendiri.


Angan-angannya yang tinggi untuk hidup bersama Alexa terhempas begitu saja. Bayangan Alexa yang menembaknya membuat Alvaro sesak nafas. Takut sekali.


Selesai membeli buah dan bersantai sebentar, Alvaro akhirnya pulang. Cukup lama dia meninggalkan Alexa sendirian. Alvaro naik ke lantai tiga dan pelan-pelan mengetuk pintu.


"Tookk...tookk...tookk..."


Alvaro mengetuk pintu berkali-kali tapi tidak dibuka. Akhirnya Alvaro membuka pintunya tapi tidak ada Alexa.


"Sayank...honey...." panggil Alvaro berkali-kali. Tapi tidak ada jawaban. Alvaro mulai khawatir, perasaannya tidak enak. Dia mencari ponselnya yang tertinggal.


Alvaro terhenyak ketika membuka ponselnya. Dia membaca semuanya berkali-kali. Rupanya ini biang kerok yang membuat Alexa kabur. Alvaro menarik nafas dalam membuangnya kasar.


Alexa terlalu cepat mengambil keputusan, tidak mau menunggunya dan bertanya benar dan tidaknya. Kemana harus dicari, sedangkan Alvaro asing dengan negara ini. Baru pertama kali dia ke Singapura.


Alexa selalu mengombang-ambing kan perasaan Alvaro, ada saja yang membuat mereka berpisah. Alvaro tidak tahu apakah ini suatu pertanda yang bagus, dia berpisah dari Alexa berarti terhindar dari maut. Ntahlah!.


Alvaro menghubungi ponsel Alexa tapi tidak aktif atau dia sudah di blokir. Susah dengan perempuan yang terlalu cemburuan. Akhirnya Alvaro memutuskan untuk chat Inshira dan mengatakan bahwa saat ini dia sedang bersama Alexa lagi bulan madu, serta melarang Inshira menghubungi dirinya.


"Inshira kau sangat lancang mengirim pesan kepada ku. Sudah aku katakan hubungan kita sebatas teman, tidak lebih. Jadi mengertilah. Istriku jadinya salah sangka. Lagi sekali kau mengganggu hidupku, aku tidak segan-segan membuang kau dan nyonya Rodrigo." tulis Alvaro kesal.


"Maaf Alvaro, soalnya aku merasa punya hak meminta apapun pada kau, jika itu menurut kau salah aku bisa ngomong apa?"


"Kau mengerti posisi, aku hanya menolong anaknya Marchel. Jangan merasa sudah jadi nyonya Alvaro!!"


"Hahaha...kenapa kau kebakaran jenggot. Apa kau tidak mengerti status istri siri, makanya belajar sebelum melakukan sesuatu. Aku berhak menuntut supaya kau memberikan aku rumah, mobil dan kebutuhan biologis...."

__ADS_1


"Brengsek, kau jangan mengkhayal lebih baik kau pergi dari rumahku daripada kau menjadi duri dalam daging."


"Alvaro jangan marah aku cuma bercanda, kau tidak kasihan sama aku yang yatim dan tidak punya suami?"


"Makanya kau jangan banyak bacot, jika kau merasa jadi korban silahkan kau pergi. Aku tidak butuh kau." tulis Alvaro menutup chatingannya. Saat ini dia lagi galau, memikirkan Alexa yang kabur.


Rasanya tidak ada yang bisa Alvaro lakukan kecuali diam di kamar dan menunggu Alexa kembali. Tidak adanya Alexa membuat Alvaro jadi takut keluar. Percaya dirinya hilang, apalagi waktu kesini ada Agent yang membuntutinya.


Dua minggu telah berlalu, Alvaro sudah merasa muak hidup begini. Tiap keluar harus menyamar, dia akhirnya memutuskan pulang. Dari pada hidup disini yang tidak ada juntrungannya, lebih baik pulang.


Alvaro membeli tiket lewat online, Disitu lah kekeliruannya. Dengan cepat Agent 57 dan Alexa tahu bahwa ada pesanan tiket online dari nomer ponsel Alvaro. Agent 57 sengaja memasukkan DPO terhadap Alvaro. Jadi semua penjual tiket akan connect saat Alvaro membeli tiket. Alexa berpikir bagaimana caranya mengecoh Agent 57 supaya Alvaro tidak bertemu dengan Agent 57 ini. Jalan satu-satunya dia harus keluar dan mengawasi Alvaro.


Alexa keluar dari kamarnya dia menggendong ranselnya, Malam ini Alexa menyamar dan memakai pakaian Alvaro. Topi dan jaket bulu milik Alvaro. Dari tadi dia berbenah supaya bisa pergi dari rumah ini. Tujuan utama dari Alexa adalah mengawasi Alvaro.


Alexa menuju ke taxi yang dia sewa. Dia juga menyuruh sopir taxi untuk menawarkan Alvaro ikut naik taxi, pertama sopir taxi tidak mau, ketika Alexa mengatakan itu suaminya, baru dia mau, disamping itu tujuan mereka sama.


"Saya duduk di belakang, tolong pak sopir mengajak dia duduk di depan." pesan Alexa sambil menyodorkan dua lembar dolar kepada pak sopir.


Tidak begitu lama Alvaro datang dan langsung disongsong oleh pak sopir. Alexa yakin Alvaro memesan taxi lain, buktinya ada taxi baru datang. Pak sopir duluan membuka pintu untuk Alvaro.


"Trimakasih pak, kenapa di belakang ada orang?" tanya Alvaro curiga.


"Ya pak, disini memang begitu, biasa penumpang lain ikut asal searah." sahut pak sopir bohong.


"Oh..tidak apa-apa kalau begitu." ucap Alvaro membuka topinya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Alvaro terlihat fokus melihat ke depan. Badannya kaku.


Sepanjang jalan Alexa tegang, dia melihat kanan kiri jalan. Revolver sudah siap ditangan. Dia juga sudah memakai rompi anti peluru. Sangat disayangkan karena Alvaro memilih berangkat malam hari membuat Alexa ekstra waspada. Alexa yakin Agent 57 pasti sudah siaga dengan senjatanya. Atau mereka akan satu pesawat, ketika keluar dari pesawat Alvaro akan dibunuh oleh Agent 57. Mungkin skenario nya begitu atau tidak.

__ADS_1


Mobil memasuki area Bandara, sinar lampu di parkiran Bandara tidak begitu terang dan cenderung gelap, membuat Alexa lebih waspada.


Alexa keluar duluan, bodynya yang tinggi tegap mirip lelaki membuat Agent 57 mengira bahwa itu Alvaro. Serta merta dia menembak dua kali.


"Dubbzz...Dubbzz..."


Tubuh Alexa menempel di pintu mobil dan perlahan merosot turun. Melihat itu Alvaro mau turun dari mobil tapi dia melihat penembak itu mendekat.


"Dubbzz...Dubbzz...Dubbzz...."


Alexa menembak kepala dan seluruh tubuh Agent 57. Dia tahu Agent 57 pasti memakai rompi, makanya Alexa memilih menembak kepala dan seluruh tubuh Agent 57.


Setelah Agent 57 tergeletak Alexa masuk kembali ke dalam mobil.


"Pak sopir tolong keluar lagi dari Bandara, dan mengambil jalan samping." perintah Alexa.


"Ba..baik..nyo..nya..." Pak sopir gugup dan ketakutan.


"Tenang pak tolong jalan terus."


"Trimakasih yank." kata Alvaro serak. Alvaro sangat terharu dengan tindakan Alexa. Bagaimana kalau tadi Alexa mati?


Sampai di jalan khusus, Alexa dan Alvaro turun dari mobil. Seorang crew maskapai menjemputnya dan dibawa ke pesawat. Jalan ini khusus untuk pejabat penting. Dia bisa langsung ke pesawat class bisnis. Semua sudah ada yang mengurus, Alexa tinggal duduk manis.


Alvaro tidak henti-hentinya mencium dan memeluk Alexa. Dia terus mengucapkan terimakasih. Kembali Alexa menolong dirinya, haruskah dia ragu akan itikad baik Alexa?


"Yank, kita menikah ya?!"

__ADS_1


Alexa tidak mau menjawab dia hanya tersenyum penuh arti. Dia malas berbicara saat ini. Insiden penembakan Agent 57 pasti akan membuat Dansus menghubunginya, dia akan disuruh membuat berita acara, setelah itu di skors untuk waktu yang lama.


*****


__ADS_2