Cantiknya selir MAFIA

Cantiknya selir MAFIA
KEMATIAN MARIA


__ADS_3

Mencintai Alvaro adalah sebuah kesalahan. Sepuluh tahun berjuang akhirnya dia jatuh dipelukan pria itu, sungguh mengecewakan. Alexa mengerjapkan matanya, berusaha menahan tangis di dada. Bayangan Rhisy Rigest seolah menjelma di depannya menjadi visual abstrak yang tersenyum sinis.


"Nooo...." teriak Alexa mengguyur kepalanya dengan air shower.


Dia menangis merasa bersalah dan ikut terseret dalam permainan lelaki bajingan itu. Sejatinya Alvaro lah pemenangnya, bukan dirinya. Pria itu sukses membuatnya jatuh cinta. Walaupun Alexa menyembunyikan rasa sukanya tapi Alvaro tahu dan tidak menuntut. Alvaro membiarkan dan menunggu dengan sabar ucapan kata cinta dari bibir Alexa.


"Maafkan aku kakak...." suara Alexa lirih tanpa makna. Dia membiarkan air shower membasahi kepalanya, dan berharap setelah ini dia bisa tenang.


Ketukan pintu membuat Alexa cepat menuntaskan mandinya, dan menuju walk in closet, memilih gaun yang bisa menyimpan senjata. Viji sudah berada di kamar menunggunya untuk di make up. Tidak lupa dia memakai holster di pangkal pahanya dan menyelipkan Revolver serta pisau terbang.


Hari ini Alvaro akan mengajaknya pergi untuk betemu dengan orang tuanya, siapa lagi kalau bukan Ady Mema dan Farida. Tiba-tiba rasa gusar itu muncul ketika mengingat nama kedua orang itu. Alexa sudah menyiapkan amunisi permusuhan yang akan di tembakan ke orang tua Alvaro.


"Silahkan duduk Nona saya akan membuat Nona secantik dewi bulan." canda Viji membuat Alexa mengembangkan senyumnya.


"Tidak usah aku di dandani terlalu wah, cukup poles sederhana saja, aku takut saat menangis wajah ku menjadi belang."


"Nona harus percaya diri jangan takut, bersyukurlah, tidak ada orang yang punya kesempatan sebaik Nona. Tuan sangat mencintai Nona, dia ingin minta restu untuk menikahi Nona, walaupun sebagai selirnya."


"Tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini, haruskah aku bersyukur atau malah jalan yang aku tempuh ini membuat aku tambah terpuruk dan melupakan tujuan utamaku."


"Nona pasti berharap suami Nona dari pemuda baik-baik. Sebagai seorang wanita kadang kita banyak punya mimpi atau kriteria mencari suami. Dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia kita, pemikiran akan berubah. Logika lebih di utamakan. Tidak mungkin kita memilih suami pengangguran walaupun dia kaya, atau memilih suami mokondo yang selalu ngintil kemana kita pergi. Pasti kita pilih suami yang bekerja."


"Tapi sekarang kebanyakan wanita sudah mulai cerdas berhitung Viji, mereka memilih suami mapan, walaupun menjadi pelakor." kata Alexa membuat Viji tersenyum.


"Benar sekali Viji, carilah pacar yang mencintai kita, supaya kita tidak termehek-mehek kalau dia disrobot pelakor." kata Alexa menutup obrolannya. Merekapun tertawa.


Viji menggandeng Alexa keluar dari kamar, gadis itu terlihat sangat cantik, mempesona dan anggun. Mata Alvaro bersinar cerah melihat selirnya, dia memeluk Alexa dan memberi kecupan mesra.


"Kau begitu cantik sayang, seperti boneka yang terbuat dari porselin. Sampai aku takut memegang nya." kata Alvaro mencium punggung tangan selirnya.


"Peganglah tanganku, tapi hatiku jangan kau sentuh." ujar Alexa. Alvaro tersenyum dan mengecup bibir Alexa.


Marchel datang buru-buru dan membisikan sesuatu kepada Alvaro. Laki-laki itu terlihat khawatir. Alvaro manggut-manggut. Kemudian Marchel mendekati Alexa.

__ADS_1


"Nona selamat jalan, hati-hati di jalan." kata Marchel menjabat tangan Alexa.


"Kau juga hati-hati bertindak jika ada penyusup masuk." mata Marchel tajam menatap Alexa.


"Ada yang kau ketahui?" tanya Marchel curiga.


"Kalau senggang baca lap top kisah Maria."


"Owh...kirain ada yang penting."


"Tidak ada salahnya dibaca supaya bisa mawas diri." ucap Alexa. Marchel beranjak pergi setelah dapat wejangan dari Alvaro.


Alvaro dan Alexa keluar menuju mobil yang akan mengantar mereka ke Bandara. Mereka memakai masker, kaca mata dan topi, untuk menyamar. Tidak banyak yang mereka bicarakan di mobil.


Sampai di Bandara mereka akan di jemput dan melalui jalan khusus untuk mencapai private jet milik Alvaro.


"Margareta tidak ikut?"


"Dia izin minta pulang kerumahnya mau mengurus hartanya."


"Dia istri pertamaku, aku sekedar memberitahu aku tidak peduli tanggapannya."


Kembali hening, Alexa tahu apa yang Margareta akan perbuat. Wanita itu pasti akan membuat dirinya tersingkir, tapi tidak apa-apa karena tujuan utamanya adalah membalas dendam.


Matahari pagi sudah merangkak naik. Alvaro dan Alexa serta empat pengawal pribadinya naik ke tangga pesawat. Di dalam pesawat dia sudah ditunggu oleh pilot dan co pilot serta pramugari yang biasa mengantar Alvaro bertugas.


"Selamat siang Tuan dan Nona silahkan duduk."


Alvaro hanya mengedikan dagunya, kemudian menuju kursi yang ditunjuk. Tapi Alexa menarik tangan Alvaro dan mengajaknya duduk di kursi lain.


"Sayang duduk disini, pemandangan terlihat bagus dari sini." kata Alexa manja. Mendengar kata sayang dari mulut Alexa membuat Alvaro menuruti semua printah Alexa di pesawat. Salah satunya tidak makan dan minum sepanjang perjalanan.


Sebenarnya Alvaro mau protes tapi dia malas kalau Alexa ngambek, dia ikuti saja.

__ADS_1


"Kita belum sarapan kenapa kau tolak makanannya?" bisik Alvaro kesal.


"Kita akan makan roti sandwich yang lain." kata Alexa menuju dapur pesawat atau Galley.


Betapa kagetnya Alexa ketika melihat Vony di Gallery meracik minuman. Vony juga kaget secepat kilat mengambil pistol ditembakan kepada Alexa. Gadis itu segera menjatuhkan dirinya dan mengambil pisau terbang dari balik lipatan gaunnya. Vony terjatuh menimpa dinding pesawat, dadanya tertusuk pisau.


Mendengar suara benda jatuh dan suara tembakan Alvaro dan pengawal menuju Gallery. Mereka kaget melihat Vony dan Alexa sama-sama tergelelak di lantai.


"Alexa..." pekik Alvaro mengangkat Alexa. Gadis itu membuka matanya. dan minta di turunkan.


"Syukurlah kau selamat. Apa yang terjadi, apa kau terluka?" tanya Alvaro khawatir.


"Aku hampir kena tembak, untung aku kepleset. Dia itu Maria menyamar menjadi Vony." bisik Alexa. Alvaro kaget setengah mati.


"Darimana kau tahu?" selidik Alvaro.


"Dia yang mengatakan, dia sengaja operasi plastik untuk membunuh kau dan menghancurkan kau."


"Aku berterimakasih padamu, aku bisa saja diracun oleh Maria. Untung kau cepat bertindak."


"Vony menyisakan nyawamu untukku, hanya aku yang berhak membunuhmu."


"Adakah kata-kata yang membuat aku bahagia." kata Alvaro menatap kekasihnya penuh kasih.


"Tuan Vony sudah meninggal." kata pengawal.


"Masukan ke body bag, terus bersihkan. Semua makanan dan minuman yang diracik oleh Maria di buang."


"Siap Tuan."


"Tuan tadi pagi Nona Vony yang datang dan mengatakan bahwa dia disuruh ikut membantu di pesawat. Dia mengatakan Tuan menyuruh jadi saya percaya. Saya minta maaf Tuan." pramugari Etzy gemetar kala berhadapan dengan Alvaro.


"Kau selamat karena ada selirku, besok-besok kau tidak boleh menyerahkan pekerjaan kepada orang lain, kau bisa bertanya pada Marchel kalau takut bertanya padaku."

__ADS_1


"Baik Tuan, maafkan saya."


****


__ADS_2