
Penemuan dokumen tentang kepemilikan perusahan Alvaro Derek, membuat Alexa terhenyak. Ownernya ternyata Farida Rigest, dia adalah keturunan Rigest yang menikahi Ady Mema, seorang mafia kelas kakap. Kejadiannya setelah cerai mati dengan Faizal Gumarang.
Perusahan Derek adalah warisan dari keluarga Rigest, orang terpandang dan dermawan. Farida menjadi owner dari perusahan semenjak berdiri sampai berpindah tangan ke Alvaro Ady Mema. Berarti Farida mendapat perusahan itu dari orang tuanya, bukan dari suaminya.
Terbayang dibenak Alexa sebenarnya Farida sebelum dan sesudah menikah punya banyak perbedaan prinsip dengan suaminya. Farida mempunyai tingkah laku yang cenderung hedonis, sifat kasar dan masa bodo. Farida juga menunjukan ego yang tinggi, saat memberi nama belakang kepada anak-anaknya, ada nama Rigest di belakang nama anaknya. Terlihat Farida lebih berkuasa dari pada suaminya yang berpangkat kapten.
Berarti Ady Mema sebelum peristiwa pembunuhan itu tidak pernah menerima harta dari Farida untuk pribadinya. Harta itu berpindah tangan setelah Farida menjadi istri Ady Mema.
Siapakah Ady Mema? dia adalah salah satu keturunan Bagnaia Ady Mema, orang nomer tujuh terkaya di Asia. Ady Mema dulu menikah dengan Claris Rigest, kakak dari Farida Rigest. Istrinya meninggal di tangan Francisco musuh Ady Mema.
Semenjak istrinya meninggal, hidup Ady Mema dalam keterpurukkan, Farida mulai masuk memberi support dan melindungi Alvaro. Itu awal perselingkuhan Ady Mema dengan istri seorang komandan khusus Kapten Polisi Faizal Gumarang. Musuh besar mafia.
Alexa menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Siapapun mereka, bagaimanapun kedudukannya Alexa akan terus memburu dan membalas dendam kepada Alvaro. Membunuh Alvaro akan membuat Ady Mema dan Farida hancur. Supaya mereka tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang disayang.
Pukul. 03.00 dini hari, Alexa menutup laptopnya, mengambil Revolver dan menyelipkan di holster pinggang. Dia keluar dari bascam menuju jalan raya. Rencananya dia akan ke CK untuk mencari burger. Suasana jalan sepi dan dingin. Alexa berjalan menutupi kepala memakai jaket Uniqlo. Tidak lupa dia memakai masker mulut untuk penyamarannya.
Suasana sepi itu mendadak mencekam saat dia di kepung oleh sepuluh laki-laki berbadan kekar. Walaupun jalanan agak remang-remang, Alexa tahu bahwa yang mengurungnya adalah pengawal Alvaro.
"Berhenti!!" itu suara gabril, pengawal inti di perusahan.
"Aku akan melawan, aku tidak takut tertembak atau mati." teriak Alexa.
"Menyerahlah sebelum habis kesabaranku Kau pikir kami tidak capek menunggu 24 jam setiap hari. Kami keluar dari pagi dan ke pagi lagi."
"Itu urusan kalian, kenapa aku yang harus mikir. Lagipula kenapa kalian menangkap aku."
"Kau Alexa selir Tuan kami. Bersiaplah untuk dikurung kembali."
"Tangkappp!!" seru Gabril membuat pengawal serempak maju.
Alexa cepat melejit ke atas dan split. Terdengar suara pengawal mengaduh. Kemudian Alexa meloncat jauh dan langsung berlari. Dia harus awas melihat keliling, dan bersyukur tidak ada Alvaro atau mobilnya.
__ADS_1
Alexa terus berlari, dia heran pengawal tidak mengejarnya, tapi dia tetap berlari.
"BRRUUGGG...." tubuhnya terpelanting karena pintu mobil di buka tiba-tiba.
Belum sempat Alexa berpikir hidungnya sudah ditutup dengan saputangan yang berisi bius. Alvaro cepat keluar dari mobil Lamborghini dan mendekati Marchel yang sukses membius Alexa. Alvaro membuka tutup wajah gadis itu dan meyakinkan dirinya bahwa yang di tangkap Alexa.
"Sepandai-pandsinya tupai melompat akhirnya jatuh juga kepelukan." kata Alvaro tertawa.
"Aku akan masukan dia ke mobil, supaya cepat pulang."
Dalam keremangan malam Marchel menatap wajah cantik itu dengan rasa suka. Semenjak pertama melihat Alexa dia sudah ada hati, tidak tahu bagaimana caranya mrmbunuh rasa itu. Padahal dia sudah mendekati beberaoa gadis, tapi Alexa tidak tergantikan.
Saat memeluk Alexa dan menidurkan di mobil getaran itu sangat kencang, tanpa sepengetahuan Alvaro Marchel mencium pipi Alexa. Harum.
"Suruh pengawal pulang. Siapkan kamar yang bersih dekat kolam renang." perintah Alvaro.
"Nyonya Margareta akan datang besok dari berlibur, jika dia tahu Alexa masih hidup dia akan mencoba membunuhnya lagi Tuan."
"Apa maksudmu Marchel, apakah dia yang membakar Alexa waktu ini?"
"Aku akan membunuh siapapun yang menyakiti Alexa." ketus suara Alvaro.
Marchel pindah ke mobil pengawal dan bergabung disana. Mereka pergi dari jalan Harmoni. Rasa lelah selama menunggu Alexa terobati kala gadis itu bisa diringkus.
Bahagia itu sederhana, sesederhana melihat orang yang disayang berada disamping. Alvaro memacu mobilnya dengan kencang, dia sudah tidak tahan untuk memeluk Alexa. Rasa rindu yang menggunung membuat Alvaro terus meremas tangan Alexa sepanjang jalan.
Ingin sekali dia membelokan mobilnya ke sebuah penginapan supaya dia cepat unboxing. Baru berpikir begitu Marchel sudah meneleponnya lewat bluetooth mobil.
"Tuan bersabarlah jangan sampai Tuan membawa Alexa ke penginapan, musuh selalu mengintai kita."
"Yaeiah, aku tidak tahan. Lagi satu jam baru sampai di rumah. Dia keburu sadar."
__ADS_1
"Tubuhnya sudah diikat, walaupun dia sadar Alexa tidak bisa bergerak."
"Oke, kita pulang saja." lanjut Alvaro.
Tiga puluh menit kemudian Alexa sadar, dia diam dalam kegelapan malam. Mobil melaju menuju bukit dengan kecepatan tinggi. Alexa menyadari dia berada dalam kekuasaan Alvaro. Matanya pura-pura merem dan tidak bergerak. Nafasnya dia atur supaya terdengar halus.
Mobil langsung ke samping bangunan ke dua di sebelah kolam renang. Barisan pengawal dan pelayan menunggu perintah. Marchel membuka pintu mobil mau mengangkat Alexa.
"Aku yang mengangkat!!" kata Alvaro.
"Siap Tuan."
Alvaro mengangkat tubuh Alexa dengan penuh cinta. Hatinya semakin bergetar hebat ketika tubuh Alexa menempel di bahunya Nafsunya sudah di ubun-ubun. Baru saja Alvaro melangkah tiba-tiba ada tembakan ke atas, semua kaget. Mereka mencari asal suara.
"Kau mau mati atau kau turunkan selirmu. Aku tidak main-main Alvaro." moncong senjata mengarah ke tubuh Alvaro. Tanpa di perintah para pengawal menodongkan pistolnya ke arah Margareta.
"Nyonya Margareta sabarlah. Alexa di tangkap untuk membantu memecahkan program-program yang tidak bisa dibuka." Marchel cepat angkat bicara. Dia tidak menyangka kalau nyonya Margareta malam ini sudah datang.
"Marchel jangan ikut campur, aku tidak main-main, Alvaro memilih perusahan atau Alexa."
"Margareta lihatlah kesamping kanan, kiri dan belakangmu. Semua moncong senjata mengarah padamu. Jika kau menembak kesini, kau akan tertembak juga."
"Marchel angkat Alexa, bawa dia ke kamar ruang kerja."
"Siap nyonya." jawab Marchel dengan senang hati. Dia menghampiri Alvaro dan berbisik,
"Ikuti dulu Tuan, Alexa tetap milik Tuan. Tshan emosi."
Alexa pindah kegendongan Machel, dia mendengar tatkala Alvaro berdebat dengan Margareta. Dia pura-pura masih terbius dan masih tidak bergerak. Marchel menggendong Alexa dan dibawa ke kamar ruang kerja.
"Seandainya kau bukan milik Alvaro, sudah aku ***** bibirmu." bisik Marchel mengecup pipi Alexa.
__ADS_1
Marchel membelai rambut Alexa dan menempelkan wajahnya ke wajah gadis itu. Ada nafsu yang mengoyak perasaan Marchel. Dia memandang wajah cantik Alexa dan menyentuh gunung kembarnya.
****