Cantiknya selir MAFIA

Cantiknya selir MAFIA
TEMBAKAN JITU


__ADS_3

Kamar siganteng Alvaro ada dilantai satu paling pojok dekat taman. Dia tidur sendirian karena Alexa selalu menolak diajak ke kamar. Kamarnya cukup besar dan mewah di belakang ada balkon tempat duduk-duduk santai melihat taman. Alexa memilih lewat tangga darurat, dia tidak ingin membuat keributan dan tertangkap basah menemui Alvaro. Alpalagi banyak pengawal berjaga di depan kamar Alvaro.


Alexa memilih turun lewat balkon dia meloncat ke balkon nomer dua dan terakhir meloncat ke balkon di belakang kamar Alvaro, berjongkok sebentar menunggu lampu sorot berputar kesegala arah. Melihat lampu sorot Alexa merasa berada di penjara.


Alexa mengambil kawat kecil dan memasukan ke lubang kunci. "Klekk" pintu perlahan terbuka. Ternyata Alvaro tidak ada di tempat tidur. Alexa kecewa, dia lalu bersembunyi di balik sofa panjang. Biasanya itu tempat paling nyaman kalau berada di kamar Alvaro.


Tidak berapa lama Alvaro masuk kamar di belakangnya ada dua pria mengikutinya. Mereka bertiga menuju sofa dan duduk.


"Kalian mau minum apa?" tanya Alvaro membuka kulkas.


"Aku tidak minum." kata Rodrigo adiknya Ady Mema atau paman Alvaro. Wajahnya kelihatan tegang.


"Paman mengajakku kesini ada urusan apa, kenapa kita tidak di ruang keluarga, nanti mama curiga."


"Mamamu sibuk, paman disuruh mewakili. Aku dengan pak Pedro punya tujuan satu, akan mengambil perusahannya Alfredo, Farida dan Inshira cukup dapat bagian yang disini. Sedangkan kamu sudah punya Alvaro Derek. Sudah dapat bagian semua dan jelas sekali."


"Jadi tujuan paman lama berada di Mansion hanya menunggu diberi perusahan. Aku tidak menyangka. Masalah ini ditangguhkan dulu paman, papaku lahi sakit. Di Alfredo sahamku ada 50 persen dan yang 50 persen baru punya Alfredo."


"Aku sudah mempelajari semua, kau tinggal tanda tangan saja. Jika kau tidak mau aku akan mengambil perusahannya dengan cara paksa."


"Paman jangan terlalu gegabah, aku harap paman mengerti, jangan sampai keinginan paman menjadi bumerang. Kita rundingkan dulu, supaya transparan." sahut Alvaro mulai tidak resfek kepada Rodrigo.


"Aku sudah pelajari semua, Ady Mema tidak lama pasti meninggal. Aku tidak ingin kau membagikan perusahan dengan selir kau yang tidak tahu asal usulnya." Alexa yang bersembunyi panas kupingnya.


"Paman, anda tidak boleh memaksa begini ada dewan perusahan, kita harus berunding. Saham di pegang banyak orang."


"Pedro bunuh dia!!" teriak Rodrigo sambil berdiri. Mereka semua berdiri.


"Dooaarrrr.....Dooaarrrr..."


Dua kali suara tembakan membuat tubuh Pedro dan Rodrigo tumbang. Suara pistol tidak akan terdengar karena berisi peredam.


"Maaf Alvaro aku mendahuluimu." kata Alexa keluar dari belakang sofa Alvaro kaget melihat Alexa.

__ADS_1


"Alexa, untung kau datang, dimana kau sembunyi. Aku hampir mati, trimakasih sayang." kata Alvaro memeluk Alexa dan menciumnya. Dadanya masih berdebar keras.


"Maukah kau mengaku bahwa kau membunuhnya."


"Kenapa begitu, tidak usah takut mengakui. Kau harus bangga bisa menolongku."


"Hemm...tolong pinjam ponselmu aku mau telpon Marchel."


"Oh..boleh.."


Tapi Alexa tidak jadi mengambil ponsel Alvaro, dia memencet tombol Intercom menghubungi Marchel supaya datang ke kamar Alvaro.


"Marchel tolong ajak pengawal inti datang ke kamar Alvaro, bawa dua kantong jenazah, dan usahakan jangan ribut." kata Alexa menatap darah yang mengalir.


"Oke, Alexa." sahut Marchel. Alexa kembali mendekati Alvaro.


"Katakan kau menembak mereka." kata Alexa mengambil tangan Alvaro dan memindahkan pistol yang di pegang Alexa ke genggaman Alvaro.


"Katakan aku tidak pernah ada di kamarmu saat kejadian."


"Tookk....tookk...."


Marchel masuk ke kamar tanpa pengawal, pandangannya mengarah kepada dua orang tergeletak di lantai.


"Aku tidak menyangka Tuan Rodrigo mereka kesini ada persoalan apa?" tanya Marchel memandang Alvaro dan Alexa.


"Tanya Alvaro Chel, aku cuma ingin pinjam ponselmu, semoga rekaman nya sudah masuk." kata Alexa.


Marchel memberi ponselnya, Alexa menempelkan jam tangannya ke ponsel Marchel, rekaman otomatis masuk. Alexa membuka rekaman nya supaya di dengar oleh Alvaro dan Marchel.


"Untung kau rekam Alexa, kau memang pintar, ancaman ini sebagai bukti Rodrigo ingin membunuhku." kata Alvaro mendengar rekaman itu.


"Sebelum pengawal mengambil jenazah ini, kita panggil Inshira dan ibunya sebagai istri dan anak mereka harus tahu terlebih dahulu." kata Marchel mengambil ponselnya.

__ADS_1


"Atur saja aku menunggu disini." kata Alvaro tetap memeluk Alexa.


"Tuan Alvaro kondisi kan dirimu saat Mamamu, istri Rodrigo, Inshira dan yang lainnya datang, tidak boleh kau menunjukan kemesraan di depan mereka. Kau harus tetap dilihat sedih dan menyesal."


"Yaelah, bacot kau. lebih baik kau deketin Inshira, aku ikhlas."


"Ogah, kecuali yang kau peluk di lepas baru aku tangkap."


"Aku mau menikahinya." kata Alvaro mantap.


"Ku tunggu jandamu Alexa." canda Marchel membuat Alexa nyengir.


Marchel kemudian menelpon Inshira supaya datang ke kamar Alvaro, dan sekalian mengajak mamanya untuk melihat keadaan papanya.


Tidak berapa lama mereka sudah datang. Mereka langsung masuk dan kaget.


"Ada apa ini siapa yang lancang membunuh papaku....." teriak Inshira memeluk dan memanggil papanya sambil menangis. Mamanya Inshira dan Farida sok dan menjerit.


"Maaf Mama Farida serta Nyonya Rodrigo dan Inshira, aku jelaskan semua ini. Paman Rodrigo datang bersama temannya Pak Pedro, dia ingin berbicara di kamarku masalah penting, aku kira dia mau bicara masalah apa, tahu-tahu dia minta perusahan Alfredo. Aku tidak setuju dan tiba-tiba dia mengancamku dan menodongkan pistol kepadaku. Aku panik dan menembak mereka. Tentu aku menyelamatkan diri." jelas Alvaro tenang.


"Apa kau haus darah sampai paman kau bunuh, dasar anak durhaka. Pedro yang menodongkan pistolnya kenapa paman kau bunuh." Farida marah besar.


Istri Tuan Rodrigo menampar dan mencakar Alvaro. Alexa mengambil rimut TV dan menyalakannya.


"Hee ******, kenapa kau nyalakan TV kau tidak tahu kami berduka, dasar anak setan kau."


"Supaya nyonya jangan banyak bacot, aku mau lihatkan bukti nya." kata Alexa menempelkan tangan kirinya. Pada saat itu tidak ada yang heran melihat TV bisa merekam kejadian tadi. Semua menonton dengan haru dan sedih, tapi juga kesel saat pedro menodongkan pistol ke Alvaro.


"Bagaimana pun kau bersalah Alvaro kau harus bertanggung jawab. Tidak mungkin paman sejahat itu, bisa saja itu ide nya Pedro dan Pamanmu di peralat."


"Tonton yang benar, sudah jelas pamanlah otaknya, dia mengajak Pedro, paman bicara mengancamku dan juga paman yang menyuruh Pedro menembak ku. Bukti apalagi diminta."


"Aku akan melaporkan kau ke polisi, ini pembunuhan. Aku ingin kau di bunuh, supaya kau merasakan sakit hatiku. Aku tidak bisa menghidupi anak-anak, uang dari mana...." jerit nyonya Rodrigo, omongannya mulai ngawur. Rodrigo orang kaya mana mungkin tidak bisa menghidupi anak-anaknya.

__ADS_1


"Aku sebagai mamanya Alvaro tidak bisa bicara banyak, aku hanya mengikuti apa keputusan kalian." kata Farida tidak berpihak.


****


__ADS_2