
Alexa tidak mau mengikuti Alvaro, banyak pertimbangan yang harus dia pikirkan. Bukannya dia menolak diajak bermesraan, dia memikirkan celah buruk yang bisa membuat Alvaro di kenai sanksi.
"Kau nanti akan mengerti kenapa aku menolak kau ajak ke kamar. Aku berpesan padamu lebih hati-hati bertindak."
"Kalau begitu kita tidur di lantai saja. Aku tidak tega denganmu."
Alvaro dan Alexa kembali ke sel, daripada berpisah lebih baik tidur bareng di lantai. Mereka berpelukan sepanjang malam.
Matahari muncul di ufuk Timur, Alexa meloncat bangun karena merasa ada orang memandang dirinya. Dia melihat Marchel sudah berada membawa kopi dan roti.
"Pagi-pagi sekali kau tidak tidur semalem?" tanya Alexa menatap Marchel.
"Gak bisa tidur, aku banyak pikiran."
"Aku mandi dulu, kita sharing sambil ngopi. Banyak yang akan aku katakan, mumpung kau ada waktu."
"Sana mandi aku menunggumu."
Marchel membangunkan Alvaro yang masih tidur nyenyak. Laki-laki tampan itu menggeliat membuka matanya.
"Ada apa?"
"Elehh...bangun udah pagi, ntar lagi Inshira mencari kau. Tadi malam dia uring-uringan nungguin, ternyata kau tidur di lantai. Dasyatnya cinta, aku heran saja dengan tingkah kau yang konyol."
"Jangan banyak bacot, mana dia?" Alvaro celingukan tidak menemukan taman surganya.
"Dia mandi, jangan kau ikut masuk!!"
"Hahaha...kau cemburu ya, ambil si Inshira, aku rela."
"Ciihh...gak level. Aku cari yang Virgin seperti Alexa, semakin di kupas semakin mantap."
"Sulit cari kecuali ada bidadari surga yang tersesat."
Alexa keluar dari kamar mandi, tapi Alvaro mendorong Alexa kembali ke kamar mandi.
__ADS_1
"Masuk!!"
"Brengsek kau Alvaro, kau kira aku kambing congek nungguin disini. Dasar otak mesum." maki Marchel kesel.
Gara-gara Alvaro di kamar mandi dengan Alexa Marchel blingsatan di luar. Untung mereka tidak lama.
"Gila kalian, nyesel kesini kalau tahu begini, aku tidur di kamar."
"Hahaha...supaya otak fresh, yang gini enak, nyuri-nyuri dan mainnya di tempat beginian. Sensasinya beda."
"Alexa sekali-kali jangan mau, supaya dia tahu rasa."
"Mana mungkin tiap dekat kerjanya nyosor melulu." sahut Alexa seraya duduk di lantai.
Mereka tertawa bertiga. Alvaro mulai minum dan berbagi gelas dengan Alexa. Biasa lagi kasmaran.
"Mari kita bicara, ini masalah perusahan Alfredo. Aku ada laporan bahwa perusahaan akan di kudeta. Masalah ini seperti bola liar yang sewaktu-waktu bisa meledak. Semua dari Honduras yang serakah mengambil alih harta Margareta." kata Marchel berapi-api dia menatap Alvaro yang kelihatan kurang minat membahas masalah perusahan Alfredo.
"Kira-kira siapa yang harus dicurigai tidak segampang itu mengambil alih aset kepemilikan, apalagi Honduras belum balik nama, masih nama Alfredo." pungkas Alvaro.
"Alvaro kau hidup di dunia hitam, yang diajak berbisnis golongan mafia, kau flash back bagaimana kehidupan kalian di masa lalu, sangat kejam, bar-bar, jadi tidak ada masalah bagi yang kuat untuk melenyapkan yang lemah. Kau bisa di lenyapkan dengan gampang." kata Alexa mengingatkan.
"Aku melihat dan mendengar, aku bisa merasakan sesuatu akan terjadi padamu beberapa hari lagi. Aku sangat mengkhawatirkan dirimu. Kau adalah penghalang bagi mereka yang menginginkan perusahan Alfredo dan perusahan Ady Mema. Siapapun bisa membunuh kau."
"Kau menakutkan aku, dan mencoba menggiring opini buruk supaya aku menaruh curiga kepada orang rumah, termasuk mamaku, Inshira dan keluarga papaku. Sebenarnya apa tujuan kau."
"Tujuanku ingin menyelamatkan jiwa kau dari pembunuhan orang lain, karena hanya aku yang berhak membunuh kau." kata Alexa serius.
"Alexa terus terang siapa kau sebenarnya, tidak mungkin kau tahu masalah mafia kalau kau tidak mempelajarinya. Atau kau seorang mata-mata dari negara?" tanya Marchel penasaran, walaupun dia tahu Alexa anak Farida, tapi seorang anak apalagi wanita tidak mungkin berani unjuk gigi di sarang mafia, kecuali dia dikirim oleh negara untuk melenyapkan mafia yang sedang menjamur akhir-akhir ini.
"Selalu itu yang kau tanyakan, aku yakin kau tahu siapa aku. Semua itu tidak penting, sekarang kalian kasi instruksi kepada pengawal supaya lebih waspada dan penjagaan di perketat di tempat-tempat tertentu. misalnya di klinik tempat Ady Mema dirawat. Terus Farida dan Inshira...."
"Maaf aku potong, Farida mamaku seluruh kekayaannya untukku, jangan khawatir."
"Alvaro, biarkan Alexa menjelaskan semuanya. Namanya manusia kita tidak tahu isi otaknya Farida. Dulu mungkin Farida merasa kau adalah tumpuan hatinya, tapi setelah sang suami di ambang maut, dia bisa saja mencari lelaki lain yang bisa melindunginya."
__ADS_1
Alvaro menyeruput kopinya, dia slow respon. Matanya menatap Alexa dan Marchel sambil menguap.
"Marchel, Alvaro tidak bisa diajak berunding, dia seperti sakaw...."
"Aku tidak menyentuh narkotika badanku lelah karena di terjang Alexa semaleman." canda Alvaro dengan tertawa.
Alexa dan Marchel melanjutkan pembahasannya tanpa menghirau kan Alvaro. Mereka membahas tentang penyerangan fisik dan material yang kemungkinan akan terjadi di perusahan Alfredo.
Kebetulan perusahan Alfredo letaknya masih satu wilayah dengan perusahan Ady Mema. Tentu sangat menguntungkan.
Pertama yang harus di kerjakan adalah mengumpulkan senjata yang berada di gudang bawah tanah di tempat Alfredo dan memindahan kesini. Setelah itu membagi dua pengawal, dan memberi perintah apa yang harus mereka kerjakan.
"Alexa bisakah kau membantu kami, aku melihat kau punya strategi perang."
"Aku tawanan, tidak mungkin aku membantu kalian, yang perlu kalian perhatikan adalah penyusup. Kau pasti tahu gelagat penyusup, antara dua ratus pengawal pasti ada penyusup."
"Marchel, kau yang urus itu, aku akan memberitahu orang rumah."
"Alvaro, ini rahasia kita bertiga, tidak ada yang boleh tahu supaya mereka tetap melaksanakan idenya, kau jangan kasitahu orang rumah, Farida dan yang lainnya tidak boleh tahu." jelas Alexa menurunkan intonasi suaranya.
"Untuk sementara aku mengatur bersama empat pengawal inti."
Kesepakatan di peroleh, Marchel dan Alvaro turun menuju ruang makan. Ada Farida dan Inshira sedang duduk sambil berbincang. Mereka seolah sibuk merencanakan pertunangan yang bakal dilakukan minggu ini.
"Alvaro kau tidur dimana, mama tidak melihat kau di kamar."
"Pagi maa...biasalah, aku bersama Wanita ku." jawab Alvaro pendek.
"Kami sudah memilih waktu pertunanganmu, minggu depan ini."
"Mama, untuk apa pertunangan aku tidak sreg, dulu sama Margareta karena ada hubungan bisnis. Aku masih ......"
"Maaf nyonya Farida, Tuan dalam keadaan kurang sehat, tolong kasi kesempatan istirahat." Marchel cepat memotong ucapan Alvaro supaya jangan sampai lepas kontrol kalau bicara.
"Kalian sarapan dulu setelah itu baru boleh istirahat." Farida tampak curiga, tapi dia tidak menampilkan wajah curiga atau kecewa. Dia tetap tersenyum karena banyak yang harus dia tuntaskan sebelum Ady Mema meninggal.
__ADS_1
"Inshira mau menyapa tidak jadi, gelagat Alvaro kurang menyenang kan dan terkesan sombong. Dia berpikir bahwa perubahan sikap Alvaro karena Alexa, diam-diam dia ingin membunuh Alexa.
****