
Robestus Sarage sangat senang bisa mewujudkan mimpinya bisa membeli gedung Ady Mema, musuh bebuyutannya. Dendamnya berurat berakar sampai ketulang sumsum.
Keluarga Robestus dulu dibantai oleh Ady Mema dan dia ditawan di gedung itu. Hampir dia terbunuh untung ada pengawal yang kasihan dan melepaskannya, sayang sekali pengawal yang menolongnya di bunuh oleh Ady Mema.
Semenjak peristiwa itu Robestus benci kepada Ady Mema, dia berjanji menjadi mafia sehebat Ady Mema. Dia bersumpah akan membunuh keluarga Ady Mema dan menguasai gedung serta pengawalnyĆ .
Robestus memacu mobilnya menuju losmen bronx 100x, hatinya senang dan berbunga-bunga mengingat gadis yang akan menemaninya hari ini. Gadis itu cantik, sexy, aduhai.
Mobil berhenti di tempat parkir. Ajudan membuka pintu mobil, dan mempersilahkan Robestus turun dari mobil.
"Silahkan turun Tuan semoga nona cantik ada di dalam."
Ibarat seorang pangeran negeri dongeng, Robestus turun dari mobil, dia berjalan perlahan menemui nona Alexa. Badannya yang tinggi kekar dengan badan hitam dan rambutnya yang panjang membuat Robestus kelihatan seperti penyanyi Reggae.
Ketika Robestus datang Alexa sudah tahu, dia pura-pura tidak melihat Alexa malah asyik bercanda di lobby losmen dengan Paulus.
"Nama kau secantik wajah kau, apa boleh bertukar nomer Twitter?" kata Paulus dengan suara beratnya.
"Aku tidak punya Twitter, Facebook, Instagram, Whatsapp dan alat komunikasi apapun." jawab Alexa.
"Itu tidak mungkin bisnisman pasti punya sosial media."
"Aku bukan pembisnis, aku adalah seorang pembunuh hahaha...."
"Kau menyindirku sayank......"
"Dooaarrrr....Dooaarrrr...Dooaarrrr..." Robestus membrondong Paulus dengan tembakan maut. Orang yang berada di Losmen dan sekitarnya berteriak sebentar, setelah itu diam dan beraktivitas seperti biasa. Mungkin karena saking seringnya terjadi pembunuhan.
"Ampun...tolong......." Alexa isteris dan memeluk Robestus. Dengan gaya koboy Robestus memeluk juga Alexa dan meniup ujung senjatanya yang mengepulkan asap, kemudian memasukan senjatanya ke holster dipinggangnya.
"Tenang sayank, ini permainan kecil. Jangan takut sayank." bisik pria itu mesra.
"Ambil ini, buang mayat tak berguna itu ke kandang buaya. kalian sudah membantuku, ini upahnya." kata pria itu sombong.
Beberapa orang datang siap-siap membersihkan lantai. Robestus merogoh kocek nya dan melempar satu gepok uang kecil kehadapan orang-orang itu.
Agent number fifty-seven atau 57 mengintip gerak gerik Robestus dan bersiap menembak jika Robestus melakukan hal yang aneh. Robestus memang sangat mencurigakan.
__ADS_1
Alexa terus bersandiwara supaya Robestus semakin luluh hatinya.
"Sayank, kau boleh pilih mau pergi kemana. Aku punya Hotel, Village dan Bungalow, yang mana kau pilih." kata Robestus tidak terpengaruh dengan darah berceceran di lantai.
"Aku pilih kapal pesiar. Aku ingin honeymoon disana." sahut Alexa menghindar dari ciuman Robestus.
"Itu gampang sayank, aku bisa membeli kapal pesiar sekarang juga, tapi kita tidak punya nakhoda atau crew lainnya."
"Pacarku adalah bekas nakhoda kapal pesiar, dia mengerti semuanya jadi kita ajak dia dan ajudanmu. Kita berempat saja, aku tidak ingin banyak orang, malu. Nanti aku yang masak di kapal." rayu Alexa membuat Robestus mengiyakan.
Sebenarnya ajudan Robestus tidak setuju, tapi Robestus tidak peduli, dia sudah tidak waras ketika dengan sengaja Alexa duduk dipangkuan Robestus. Pusaka Robestus melejit langsung bereaksi.
"Ayank...aku bergairah." bisik pria itu menciumi punggung Alexa.
"Sabar....aku akan menggoyangmu di kapal." sahut Alexa genit.
"Mari kita ke bank." ajak Robestus.
Alexa mengajak Agent 57 ikut ke Bank. Senjata disembunyikan dalam bantal sofa. Alexa hanya membawa pistol berbentuk lipstik, alat kejut listrik berbentuk gantungan kunci. Agent 57 juga membawa senjata rahasia berbentuk rokok dan pistol berbentuk korek api.
Ajudan Robestus membawa mobil, di sampingnya ada Agent 57. Alexa di belakang bersama Robestus.
"Belum, aku ingin beli kebab dan minum saja."
"Kau tahu sayank, aku tadi membeli gedungnya Adi Mema. Tidak lama lagi Farida dan seluruh manusia yang ada di gedung itu akan mati, aku akan mempersembahkan nyawa mereka di altar. Tuntas sudah dendam kesumatku selama ini." kata Robestus dengan wajah sinis. Alexa kaget, dadanya berdebar.
"Selamat sayank, ternyata kau kaya raya. Aku yakin setelah kau bosan denganku kau pasti berpaling dengan cewek lain."
"Aku akan setia padamu, berapa cewek sudah mengejarku, aku tidak mau. Mereka tidak levelku."
"Aku tersanjung sayank...." kata Alexa mesra. Saat Robestus ingin mendaratkan ciuman nya, Agent 57 pura-pura batuk. Robestus langsung tidak jadi. Alexa lega.
Sampai di Bank Alexa dan Robestus bergandengan tangan, ajudan dan Agent 57 jalan belakangan. Saat masuk kedalam ruangan emerald, Alexa kaget melihat Alvaro dan Marchel duduk berdua. Ruangan ini khusus untuk nasabah miliaran.
Alexa cepat-cepat memeluk Robestus. Dan Robestus tambah erat memeluk Alexa.
"Sayank, ini orang yang aku beli gedungnya." celetuk Robestus tiba-tiba.
__ADS_1
"Oh ya...kau hebat sayank." sahut Alexa pura-pura tidak kenal. Alvaro dan Marchel wajahnya merah padam dan tangannya mengepal ingin membunuh Robestus.
"Mereka pasti mau mencairkan cek yang aku kasih tadi. Sekarang mereka bangkrut karena Ady Mema sudah mati hahaha..."
"Mana mungkin bangkrut, aku pernah dengar kalau Ady Mema itu seorang Mafia yang paling sadis dan namanya termasyur. Dia kaya raya mempunyai wilayah Bronx."
"Hahaha....aku lebih termasyur. Ady Mema sudah miskin utangnya ada dimana-mana. Daerah Bronx adalah punyaku bukan punyanya."
"Aku percaya Ady Mema masih kaya raya, di media sosial semua bicara tentang Ady Mema."
"Sayank itu bohong, lihat saja raut wajah anak dan ajudannya, sudah pada kucel. Mereka miskin, dia itu mengemis padaku."
"Tapi anaknya Ady Mema ganteng, boleh dong aku kenalan."
"Sayank ...kita belum bulan madu, kau belum merasakan rudalku, jika sekali kau merasakan, tidak akan ada cowok lain dihati kau."
"Aku langsung mencintaimu." kata Alexa mengerling kepada Alvaro.
"Nona apa kau percaya dia perkasa, kalau aku sudah pasti perkasa. Sekali sodok aku bisa membuat kau melendung." kata Alvaro dengan suara tinggi. Dia sudah tidak tahan diam dari tadi.
"Hahaha.... bacot kau kurang di amplas. Lihat level kalau ngomong, jangan samakan kau dengan aku. Kau pengemis aku jutawan."
"Ajudan bereskan sampah ini!!" tunjuk Robestus. Cepat sekali ajudannya mengambil pistol dan "Dooaarrrr...." dia menembak Marchel.
"Aagghhhh....." suara Marchel menggema.
"Dubbzz...Dubbzz.." dua kali terdengar tembakan dari Alexa untuk Robestus dan ajudannya.
Sedangkan Robestus dan Ajudannya tergeletak bersimbah darah. Alexa tahu Marchel tidak terbunuh. Dia setengah berlari keluar sebelum Agent 57 menembak Alvaro. Alexa juga menghindar dari pegawai Bank.
Alexa buru-buru mencari taxi. Dia harus pergi jauh. Urusan dengan Robestus sudah usai.
"Agent number six, apa masalahnya sehingga kau membuat runcing di sini, bukankah kita akan membunuh Robestus di kapal. Kalau begini cara kerja kau, semua mafia akan mengepung kita."
"Jangan ajarin aku, aku tidak mau terbunuh karena Robestus sangat licik. Buka saja jam tangan kau, penyadap yang kita taruh di kamar losmen mengirim gambar. Anak buah Robestus menggeledah kamar kita dan menemukan senjata rahasia Agent. Kalau tidak cepat dibunuh kita akan terbunuh."
Agent 57 menjadi maklum, dia tadi curiga kalau Alexa sengaja untuk melindungi Alvaro, padahal tadi dia mau menembak Alvaro.
__ADS_1
Alexa menghubungi Dansus supaya mengirim private jet untuk datang menjemputnya. Walaupun agak kecewa Agent 57 mengikuti printah Alexa.
*****