
Inshira datang dengan wajah sinis, matanya tajam menatap Alexa. Dia sangat dendam kepada Alexa yang di sayang oleh Alvaro, dulu pria itu sangat mengagumi dirinya, semenjak ada Alexa, Alvaro tidak peduli padanya.
"Apa Alvaro menginap disini semalem?" tanya Inshira dengan wajah masam.
"Alvaro adalah gembong mafia tentu banyak punya simpanan wanita, aku rasa kau rugi memikirkannya. Orang seperti Alvaro mana bisa berselera dengan kau, level nya beda."
"Hahaha...aku kasihan mendengar penilaian kau padaku, ternyata kau iri dan dengki padaku. Tidak lama lagi aku akan menjadi tunangan Alvaro. Kau seperti pungguk merindukan bulan, kasihan banget."
"Selamat Inshira kaulah menjadi pemenangnya, aku tidak mau memperebutkan Alvaro, lagi pula aku tidak mencintainya."
"Syukurlah kau sadar, bahwa kau tidak pantas dengan lingkungan keluarga kami. Tidak gampang orang rendahan seperti kau menjadi orang kaya. Kau tampang pengemis, murahan." ejek Inshira dengan wajah kemenangan.
"Maaf Nona Inshira, Tuan Alvaro melarang semua orang termasuk Nona datang kesini." Seorang pengawal mendekati Inshira. Pengawal itu memberanikan diri mengusir Inshira karena tingkah laku Inshira mengkhawatirkan keselamatan Alexa.
"Aku calon istri Tuan, berani kau mengusir. Cari mati kau!!"
"Saya menjalankan tugas." ucap pengawal tegas.
Inshira terpaksa keluar dari ruangan, dia kesal kepada tingkah Alexa dan pengawal yang mengusirnya. Dia mencari Farida dan menempatkan kekesalsnnya.
"Maa...aku benci sekali kepada Alexa, aku ingin membunuhnya. Dia sangat sombong dan memuakan."
"Makanya kau jangan main-main dengan Alexa, dia itu dewa maut yang akan melenyapkanmu."
"Dewa maut apaan aku tidak percaya, dia itu manusia sombong penuh khayalan. Lihat saja nanti siapa yang duluan akan mati."
"Apa yang akan kau perbuat?"
"Aku akan membuat Alexa mati."
Marchel mempersiapkan pengawal inti untuk mulai berjaga di setiap titik yang sudah di tentukan. Tidak lupa dia minta pertimbangan dari Alvaro dan Alexa.
"Inshira akan curiga kalau aku sering kesini, dia pasti mengira aku berada dibalik semua ini."
"Tidak usah dipikirkan, jalani saja. Aku sekiranya akan membantumu sekiranya."
"Tolonglah, aku akan menyelundupkanmu salah satu menjadi pengawal Alfredo."
__ADS_1
"Boleh, asal kau bisa merahasiakan dari semua orang termasuk Alvaro. aku minta pakaian pengawal dan masker wajah dari latex."
"Beres...." sahut Marchel lalu berdiri.
Dia beranjak pergi, di koridor dia bertemu dengan Farida. Marchel mengangguk tanda hormat, Farida melengos dan berjalan bersama Nyonya Mauren, mamanya Inshira.
Pukul. 17.06 nyonya Farida dan Mauren duduk di meja makan, Alvaro dan Marchel datang mau ikut makan malam. Ada Inshira bersama seorang pria yang diperkenalkan sebagai ajudan dari Mark Lewis papanya Inshira, sekaligus sebagai bodyguard Inshira. Orangnya penuh tatto dan kekar.
"Selamat malam semuanya, namaku Mark Lewis aku ajudan Tuan Gover, senang bisa bertemu kalian." kata laki-laki itu dengan senyuman mengembang.
"Aku Alvaro, aku kira Tuan Mark tidak punya ajudan biasanya.dulu sendiri."
"Aku baru bekerja dan cocok dengan Tuan Gover dan Inshira.
Mereka membahas tentang Ady Mema sambil sarapan. Terlihat wajah Farida seolah bersedih dan mengutuk Alexa yang masuk ke kehidupan Alvaro.
"Aku mengutuk wanita itu yang membuat Ady Mema sakit di ambang maut." kata Farida mulai menghasut mamanya Inshira dan Mark Lewis sang ajudan.
"Biasanya langsung dibunuh, kenapa dikasih kesempatan untuk hidup?"
"Dia tidak bersalah, dia cuma menembak pistolnya Tuan Ady Mema. Mungkin Tuan kaget dan pingsan. Tuan punya riwayat penyakit jantung, diabetes dan kolesterol." Marchel angkat bicara membela Alexa. Dia benci melihat Farida selalu menyalahkan anak kandungan.
"Aku berkata kenyataan Inshira, apa salah. Kalau dibilang aku tergiur dengan Alexa, aku mengakui. Siapa sih yang tidak senang sama Alexa?"
"Kecuali orangnya tidak normal." sahut Alvaro tersenyum.
Kaki Alexa berjalan cepat turun dari tangga darurat, biasanya penghuni disini jarang memakai tangga darurat, mereka selalu memakai lift. Dari lantai bawah menuju Klinik Ady Mema mencapai waktu tiga belas menit.
Alexa berdebar saat melihat Inshira dan laki-laki itu menuju Klinik. Diam-diam Alexa menuju Klinik dan bergabung dengan pengawal yang lain. Matanya awas melihat pengawal satu persatu, ini pengawal Ady Mema tidak ada yang di kenal.
Ketika Inshira masuk kedalam ruangan, Alexa cepat bergerak dan berada di belakang pengawal yang lain.
"Siapa kau?" tanya salah satu dari mereka.
"Pengawal Tuan Mark." Alexa memberi kode dan mengatakan bahwa dirinya adalah pengawal Tuan Mark.
Sampai di dalam hanya Inshira dan Mark Lewis yang dapat izin masuk. Itupun memakai pakaian khusus dari perawat. Alexa mengintip dari lubang Door Viewer untuk memasti kan Mark Lewis atau Inshira tidak membuat ulah di dalam.
__ADS_1
Sekitar tiga menit mereka keluar. Tentu Alexa lega, karena tidak terjadi apa-apa. Tapi tiba-tiba Inshira balik kembali, katanya ponselnya ketinggalan. Tidak ada perawat yang mengantar atau pengawal. Inshira langsung masuk ke dalam.
Alexa cepat-cepat kembali, tapi dia kalah cepat dari Mark Lewis dan Inshira, Alexa melihat Mark Lewis menyuntikan infus dengan suatu cairan. Alexa berusaha membuka pintu, tapi di tahan oleh Inshira dari dalam. Dia mendorong pintu masuk sampai Inshira kewalahan, pintu terbuka. Alexa sempat memukul Inshira, kedua orang itu cepat ranih
Akhirnya Alexa bisa masuk, dia mencari tombol SOS memencet bel itu. Tidak berapa lama perawat datang dan para dokter.
"Dokter Infus nya disuntikan sesuatu oleh orang tadi." kata Alexa.
Setelah memberitahu dokter, Inshira lalu pergi dan menyelinap di antara pengawal untuk mencari tangga darurat.
Alexa menuju sel nya, dua orang pengawal kepercayaan Alvaro menyambutnya dan membuka pintu, Alexa masuk dan langsung menuju kamar mandi.
Dia membuka topeng latexnya dan pakaian, kemudian disembunyikan di antara pakaian kotor.
Alexa keluar dari kamar mandi, dia duduk di lantai sambil mengatur nafas seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Ini orangnya?" Alexa mengangkat wajahnya ketika mendengar suara Mark Lewis.
"Alexa namanya." sahut Inshira.
"Apakah kalian mencariku?" tanya Alexa acuh.
Mark Lewis memandang Alexa dengan cermat, dia ragu terhadap cerita Inshira yang mengatakan bahwa Alexa jahat dan sebagainya.
"Aku Mark Lewis ingin berteman denganmu. Boleh aku duduk disini."
"Silahkan Tuan." sahut Alexa pendek.
"Mark kenapa malah duduk, mari turun, Mama pasti mencari kita."
"Tenang Inshira, aku ingin ngobrol dengan Inshira dulu."
"Mark dia adalah selir Alvaro, kau ngertikan."
"Aku tidak peduli dia siapa, aku ingin berteman. Tidak ada salahnya kalau pertemuan ini menjadi awal dari persahabatan."
"Namamu Alexa, cantik sekali seperti namanya. Tadi aku sempat mau melenyapkan Ady Mema tapi ada seorang cewek yang menyamar. Aku sangat hafal tangannya yang memukul Inshira." kata Mark Lewis menatap Alexa.
__ADS_1
*****