
Di mimpiku kau adalah milikku, tapi pada kenyataannya kau milik orang lain. Tentu sangat mempengaruhi jalan pikiranku dan sikapku sehari- hari. Perasaanku galau dan perlahan aku akan mundur teratur berharap mimpi buruk ini cepat berlalu. bisik Alexa dalam hati, dia kini berada di depan kamarnya sedang melamun memikirkan hari-hari yang sudah dia lewati dengan Alvaro.
"Kenapa kau disini, turun yuk. Aku ingin bertanya tentang kesepakatan Ramos, apa bisa ditinjau kembali perjanjianya, sedangkan notarisnya keberatan." kata Marchel membuat lamunan Alexa menguap.
"Kenapa tidak, dia belum tuntas bayar karena belum balik nama. Jika Ramos sudah meninggal bisa istri atau anaknya yang meneruskan."
"Jarang ada mafia mau beristri." kata Marchel tersenyum.
"Aku yakin dia punya anak, kalau tidak ada kita cari buyer baru, uang Ramos bisa dibagikan kepada keluarga dan di donasi kan kepada negara atau ke Panti asuhan."
"Makanya kau turun, kita bahas di ruang kerjaku."
Alexa dan Marchel turun ke bawah, kebetulan ada Farida dan Inshira, mereka memandang Alexa dengan kesal. Ketika Alexa melewati kamar Alvaro, dia melihat Anahita keluar dari kamar pria itu.
"Hallo Marchel mau kemana?" tanya Anahita tersenyum genit.
"Mau bekerja." jawab Marchel datar. Tidak berapa lama Alvaro keluar, dia kaget melihat Alexa. Wajahnya merah, mungkin malu, ntahlah Alexa tidak peduli. Dasar lelaki buaya.
"Marchel, kita jalan." kata Alexa membuang muka, enek lihat wajah tengik Alvaro.
"Marchel kau mau kemana." Alvaro datang mendekat.
"Apa urusan kau buaya, jangan kepo urusan kami." suara Alexa terkesan mengejek.
"Jadi kalian sudah bersatu?"
"Pikir saja sendiri." ucap gadis itu menuju ruang kerjanya Marchel, di belakang ikut Marchel dan Alvaro. Tinggal Anahita melongo sendiri melihat dua pria itu mengikuti Alexa.
"Ngapain kau ikut kesini, aku tidak mau diikuti." Alexa menatap benci kepada Alvaro. Pengawal melihat tingkah Alexa tersenyum.
"Siapa yang ikut kau, aku sedang mengikuti Marchel." Alvaro berkilah.
Marchel membuka pintu ruang kerja, dia malas meladeni bos sekaligus temannya. Dalam hati dia berdoa supaya Alvaro melepaskan Alexa.
"Silahkan masuk Alexa."
"Kenapa masuk kesini, kirain ke kamar kau." ucap Alvaro heran.
"Kita mau kerja bukan indehoy Tuan." jawab Marchel tersenyum.
Alvaro tersenyum tipis, dia ikut duduk disamping Alexa. Marchel kemudian mengambil lap top dan memberikan kepada Alexa.
__ADS_1
"Aku mau pelihatkan semua data tentang perusahan Alfredo setelah aku mulai mengambil bagian lima puluh persen dari judi di Macao." kata Alexa membuka lap top.
"Berapa kau sudah pakai uangku, harusnya kau tetap menjadi selirku. Dan selir berkewajiban memenuhi kebutuhan biologisku. Perjanjian sudah ada, uang sudah masuk ke rekening kau, apalagi masalahnya."
"Masalahnya Farida tidak setuju padaku, aku tidak ingin menikah dan kau play boy."
"Tidak usah menikah, kau selirku. Maksudnya kita hidup bersama seperti suami istri."
"Tapi mama kau pingin cucu dan kau dijodohkan dengan Anahita mantan pacar kau, jadi untuk apa aku jadi selir lagi."
"Kau tidak mengerti tugas kau, selir adalah orang nomor dua di dalam pernikahan aku. Orang yang aku cintai dan aku sayangi." jelas Alvaro mencoba menguraikan status selir dalam perkawinan.
"Kalau begitu kita batalkan perjanjian, aku akan mengembalikan uang kau."
"Berani membatalkan aku akan perkosa kau disini."
"Sadar Tuan, Alexa jangan diganggu aku akan meminta Alexa tidur disini, jadi aku bisa mengawasi dia setiap saat."
"Oke aku tidur disini, aku bisa sambil bekerja." Alexa setuju, disini juga ada single bed. Ruangannya bersih dan wangi. pikir
"Aku juga mau tidur disini." kata Alvaro berdiri. Dia lalu merapatkan sofa panjang ke bed.
"Aku tidak tersiksa semasih ada Alexa." Alvaro kekeh tidak mau pergi.
Alexa melanjutkan pekerjaannya dan membiarkan Alvaro tidur-tiduran di bed, sampai tertidúr. Sedangkan Marchel juga ikut bekerja. Saking asyiknya bekerja sampai tidak sadar sudah jam makan siang.
"Tookk...tookk...tookk..."
Anahita nongol di pintu membawa makanan. Dia tersenyum tipis dan meletakkan makanan di atas meja tanpa komentar apa-apa.
"Ini makanan untuk siapa Anahita?" tanya Marchel memandang wanita itu. Raut wajah Anahita terlihat kusam dan lelah.
"Untuk Tuan, tapi dia tidur."
"Keluarlah nanti aku bilangin sama Tuan. Jika kau lelah istirahatlah."
"Aku disini pelayan tidak seperti selir yang selalu dimanja. Hidup enak, tidak pernah bekerja, disayang Tuan. Aku juga mau seperti dia." celetuk Anahita kesal. Alexa tidak respon mendengar ocehan Anahita.
"Tapi kau calon istri Tuan, kau diajak tidur setiap hari. Kau juga enak."
"Itu palsu supaya nyonya senang saja. Mana Tuan mau mengajak aku tidur, di kamar paling di suruh baca buku atau bersihin WC, itu semua untuk mengelabui nyonya Farida." Alexa mendengar antara kaget dan senang.
__ADS_1
"Maaf aku tidak tahu, mengapa kau tidak mengadu kepada nyonya jika kau belum di unboxing oleh Tuan. Katakan kalau kau ingin cepat menikah."
"Aku tidak mau menikah sebelum aku bisa menyingkirkan duri dalam kulit yang setiap hari membuat aku sesak nafas." Anahita memandang Alexa. Yang dipandang tidak peduli, Alexa tetap asyik bekerja.
"Jangan bermimpi mau mencelakai Alexa, aku yang akan melindunginya jika kau berani berbuat jahat pada nya Tuan akan membunuh kau."
"Anahita kenapa kau disini, keluar kau, jangan mengganggu orang kerja." hardik Alvaro bangun dari tidurnya.
"Permisi Tuan." kata Anahita cepat keluar. Dia kesal sekali dengan Alexa yang sok pintar. Anahita lalu menuju dapur dan menemui Inshira.
"Apakah kau juga benci kepada Alexa? aku ingin nembunuh Alexa." gerutu Anahita kesal setelah berada disamping Inshira.
"Beri minumannya racun atau pitnah dia berselingkuh atau apa saja pasti Tuan mau membuangnya jauh-jauh."
"Bagaimana kalau kita tanyakan kepada nyonya Farida apakah dia punya racun sianida atau arsenik untuk membunuh Alexa."
"Oke..kita cari nyonya."
Mereka keluar mencari Farida, tapi nyonya tumben tidak ada di kamar dan di sekitar ruang keluarga. Mereka Akhirnya keliling mencari sampai ke parkiran. Saat itu Farida sedang ngobrol bersama seorang laki-laki kekar bertatto. Inshira dan Anahita cepat bersembunyi di belakang tembok, mereka masih bisa mendengar percakapan kedua orang itu.
"Saya harap nyonya tidak bohong mengenai keberadaan gadis itu."
"Mana berani saya bohong, saya yakin wanita yang anda maksud adalah Alexa. Gadis itu ada di rumah saya sedang melarikan diri, mungkin dia bersembunyi disini."
"Tapi nama gadis itu Kussy bukan Alexa nyonya."
"Ya..Kussy, saya baru ingat namanya Kussy." sahut nyonya Farida tersenyum licik. Dia berharap bisa membuang Alexa dari rumahnya dengan cara menjualnya.
"Saya harus bayar berapa kepada nyonya."
"Sepuluh miliar, agak mahal karena dia istimewa. Cantik, sexy, manis."
"Kami hanya ingin menyiksanya kemudian membunuhnya." kata orang itu.
"Kalau saya sudah dapat uangnya, baru saya serahkan orangnya." kata Farida.
"Saya akan menelpon nyonya kalau orangnya sudah bisa ditangkap."
"Baik nyonya, tolong secepatnya. Jika nyonya berbohong saya akan membunuh nyonya dan uang saya di kembalikan." kata orang itu tegas.
*****
__ADS_1