
Alexa baru merasa lega setelah meninggalkan pulau Bronx, dimana selama berada di pulau itu jiwa untuk balas dendam selalu muncul. Terasa tersiksa antara dendam dan cinta. Mungkin Agent 57 tidak puas dengan keputusan Alexa yang cepat pulang.
"Kenapa kita tidak berantas semua mafia?" tanya Agent 57 songong.
"Kita hanya mencari pentolannya yang paling berbahaya. Tidak akan bisa memberantas kejahatan, tapi setidaknya kita menguranginya."
"Kenapa kau tidak membunuh Alvaro, bukankah dia berbahaya. Apakah karena kau mencintainya sehingga kau lempas dari tugas utama. Kau tidak profesional dan cenderung egois."
Alexa tidak langsung menjawabnya, Agent 57 adalah Agent baru yang merintis dari akademi dan belum punya jam terbang sampai di luar negeri. Alexa adalah perwira tinggi yang mendapat latihan fisik dan mental, terpilih dari militer. Mereka berbeda pengalaman dan skill.
"Alvaro adalah targetku, itu tidak boleh digugat. Aku punya tanggung jawabnya. jika aku salah bertindak aku kena sanksi. Kau tidak usah khawatir terhadap tindakanku. Urus tugas kau, jangan campur adukan dengan tugasku." kata Alexa merasa tersinggung.
"Sebagai Agent negara kau harus sabar terhadap pertanyaan anak buah, tidak menyulitkan."
"Aku minta maaf jika kau menilai aku salah. Sampai di kantor ada yang akan mengadili aku, tenang saja." kata Alexa pindah duduk menjauh dari Agent 57.
Mereka saat ini berada di private jet menuju ke kantor Agent Rahasia Negara. Mata Alexa memandang jauh ke awan. Alexa menarik nafas dalam dan menghembuskannya.
Alexa berusaha membuang sedih yang mengaduk jiwa. Dia tidak akan lagi larut di dalam kesedihan ini, dan berusaha yakin jika esok hari akan menjadi lebih cerah.
Dia selalu berharap sinar mentari akan selalu tersenyum menyapa pada pagi hari. Dalam relung hatinya yang terdalam tersembul perasaan melankolis yang menari-nari di atas jiwanya yang merana.
Alexa menghapus air matanya yang bergulir menyentuh pipinya. Rasa rindu yang datang membuat Alexa kecewa dengan dirinya yang sulit menaklukkan jiwanya.
"Sebentar lagi kita akan mendarat, tolong sabuk pengamannya di pasang. Agent number six do you hear me?" perintah Co pilot menatap Alexa tegas.
"Siap kapten." kata Alexa dengan sikap tegas.
__ADS_1
Alexa akan di jemput di Bandara lewat jalan khusus yang biasa di pergunakan oleh Presiden, selebriti, orang-orang penting lainnya. Mereka akan dijemput dengan mobil anti peluru Knight XV. Mobil baru sumbangan dari pemerintah.
Ketika pesawat mendarat Alexa dan Agent 57 turun dan menuju mobil jemputan. Ada rasa pedih ketika dia mengingat Alvaro. Sepanjang jalan Alexa termenung lesu. Agent 57 yakin kalau Alexa pasti mengingat pacarnya. Dia akan melapor kepada Dansus tentang pengkhianatan Alexa karena tidak membunuh Alvaro.
Nun jauh di pulau Bronx, Alvaro bergegas menuju rumah sakit. Dia merasa ketakutan jika Marchel meninggal. Pengawal inti yang baru datang membuat Alvaro agak tenang sedikit. Dia paling takut jika sendirian tanpa ada orang yang bisa diajak bicara.
"Kalian cukup menunggu disini." kata seorang suster melarang mereka masuk ke dalam.
Alvaro duduk bersama empat pengawal inti yang selalu dia bawa. Disini dia seperti baru sadar bahwa hidup hanya sebentar. Tersenyum getir saat merasakan kepedihan di hati.
Jika kesuksesan dan kegagalannya selama ini sama-sama bagian dalam hidupnya. Keduanya hanyalah sementara. Dulu dia merasa harta, tahta dan kesuksesan hanya dapat terjadi melalui kerja keras dan tidak pernah menyerah.
Tapi sekarang di saat dokter datang dan menyampaikan bahwa Marchel tidak bisa di tolong, Alvaro merasa semua harta, tahta, serta rasa sombongnya sirna. Badan Alvaro seketika lemas, dadanya berdebar.
"Tuan, kita harus pulang." kata pengawalnya hormat.
Inshira yang dekat dengan Marchel sangat terpukul, dia malah pingsan kala melihat jazad Marchel. Tidak ada yang menyangka, kepergian Marchel berdampak buat Alvaro.
"Setelah Marchel di kebumikan kita semua akan kembali ke pulau. Kalian boleh disini atau ikut." kata Alvaro dengan wajah sembab.
"Kami semua ikut." kata mereka.
"Alvaro, terus uang gedungnya mana kita belum ke notaris."
"Orang yang mau beli gedung ini sudah mati. Kita akan mencari orang baru untuk membeli." jelas Alvaro tidak enak hati pada pelayat lain.
"Keadaan sedang susah begini, masih saja kau bikin ulah. Kita sedang berduka, tunjukkan empaty kau kepada khalayak ramai." nyonya Rodrigo ikut nimbrung menasehati nyonya Farida.
__ADS_1
"Elehh...kau lagi, ikutan saja. Kalau tidak kencang menagih uang, Alvaro mana mengerti, uang bisa hilang. Alvaro tidak tahu kebutuhan kita sebagai ibu rumah tangga." kata Farida tandas.
"Baru habis pemakamam, sekarang kita masih sedih. Walaupun aku tidak begitu kenal tapi sepak terjang Marchel sangat membantu kita." gumam nyonya Rodrigo.
Matahari bersinar sangat terang, Alvaro bersandar di sofa panjang. Dia merenung apa yang bisa dia kerjakan setelah Marchel meninggal tanpa Marchel dirinya tidak mampu berpikir dan bekerja, selama ini otak Marchel selslu dia pakai.
"Alvaro, tante memang tidak pintar seperti Alexa atau Marchel, selama ini tante peduli pada kau yang telah baik pada tante dan Inshira. Tante tergantung pada kau, karena hanya kau yang bisa memberi tante makan dengan Inshira."
"Maksud tante apa?" suara Alvaro terdengar jutek. Dia malas berbicara dengan siapapun.
"Coba kamu pikirkan dan lihatlah, selama ini apa yang Tuan Ady Mema dapat dari membunuh banyak orang hanya dapat julukan mafia nomer satu. Kini harta ludes terbakar tanpa sisa, sampai kita bingung dimana mencari uang, hutang menumpuk. Ini cermin untuk kehidupanmu, buat apa kita berbuat dosa kalau akhirnya berujung sedih. Lebih baik lepaskan predikat mafia dan mulai hidup wajar seperti orang lain." jelas nyonya Rodrigo pelan.
Alvaro terdiam, sudah lama Alvaro ingin melepaskan dunia hitam, semenjak dia tahu Alexa hamil. Tapi kini Alexa pergi, untuk apa semua kebaikan itu?.
"Apakah kau ingin seperti Ady Mema atau paman Rodrigo, yang terbunuh sia-sia, pikirkanlah. Jika kau mati punah keturunan Ady Mema."
"Mumpung kau masih muda, mulai sekarang buang identitas mafia, bekerja dengan jujur. Kembali ke jalan Tuhan, niscaya Tuhan akan melindungi kita." sambung nyonya Rodrigo.
"Tapi Alexa sudah pergi tante, dia tidak peduli deritaku. Buat apa berbuat baik kalau orang yang aku cintai pergi." keluh Alvaro.
"Justru itulah yang membuat kau harus kembali ke jalan Tuhan. Bisa saja Alexa menjauhi kau karena kau mafia sedangkan dia dari keluarga baik-baik."
"Apakah setelah aku menjadi orang baik Alexa mau menikah denganku?"
"Pasti mau Alvaro, tidak usah di jelasin lagi, dia pasti akan mau dengan kau."
"Kita akan pulang ke pulau setelah semuanya beres. Aku akan merubah kebiasaanku yang buruk." ucap Alvaro serius.
__ADS_1
*****