Cantiknya selir MAFIA

Cantiknya selir MAFIA
TEMBAKAN JITU


__ADS_3

Dari tangga darurat mereka melihat beberapa orang bertatto membawa senjata di dalam lift kaca. Alexa terpaksa berbuat mesra terhadap Alvaro untuk mengelabui anak buah Ramos. Alexa yakin yang datang anak buah Ramos karena pakaian dan tattonya mereka sama.


Tangannya melingkar di pinggang Alvaro begitupun sebaliknya. Alexa yakin mereka akan mengejar alat sadap itu, bisa jadi bunga itu juga berisi bom atau asap beracun. Ada juga gunanya Alvaro datang, untung dia datang tepat waktu, kalau Alvaro tidak datang, saat ini Alexa sudah menjadi abu.


Sampai di lobby Alexa langsung ke mobil Alvaro, tidak perlu check out, dia akan melapor kepada Dansus supaya biayanya di transfer ke Hotel. Ketika Alvaro dihadang oleh seorang laki-laki bertatto mirip anak buah Ramos Alexa mengambil kunci yang di pegang Alvaro. Dia naik menghidupi mobil.


"Hallo..." laki-laki itu mengetuk kaca mobil. Alexa menurunkan kaca mobil dan "Dubbzz" sebuah tembakan jarak dekat dari Revolver yang isi peredam mengoyak jantung pria itu. Alvaro bergegas naik ke mobil.


Alvaro sudah biasa menemui masalah begini, jadi dia tidak kaget dengan sikap Alexa yang waspada dan main tembak.


"Jangan ngebut." kata Alvaro setelah berada di mobil. Alexa menjawab dengan anggukan. Namun setelah lewat dari penjagaan Scurity, mobil anti peluru SUV itu melesat seolah terbang. Alexa mengukur jarak ketika ada mobil Cherokee mengejar mobilnya.


"Hati-hati yank, kita dikejar." kata Alvaro mengambil pistol dari tas ransel.


"Tidak mempan pistol, kau ikuti perintahku. Aku akan mengambil jarak tembak." ucap Alexa berusaha mencari lajur kanan


"Aku siap." kata Alvaro melihat ke tombol yang berjejer dibawah dashboard. Mobil mulai di tembaki dari belakang.


Alexa melaju dengan zig zag. Dia kemudian mengambil jalan by pass dan memperlambat laju mobil. Setelah mobil di belakang berjarak 500 meter, Alexa memberi perintah Alvaro.


"Tekan N3" mobil tiba-tiba seperti terselubung dari belakang.


"Pencet tombol merah." sebuah torpedo melesat dan "DOOAARRRR"


Mobil belakang zig zag, jadi kurang tepat. Kembali Alexa memerintah, dan "DOOAARRRR" Mobil belakang terpengaruh jauh ke belakang.


Memang agak sulit menembak ke depan dan peralatan kalau tidak canggih kurang berguna. Lebih gampang menembak ke belakang apalagi mobil Ady Mema senjatanya canggih dan mahal. Maklumlah gembong mafia.


Alexa tidak berani mengambil resiko pergi ke Hotel lain, dia mengikuti saran Alvaro supaya pergi ke tempat Alvaro. Maksudnya ke Mansion.


"Aku tidak senang ke rumah kau, Farida, Inshira dan yang lainnya tidak senang padaku." kata Alexa memperlambat laju mobilnya.


"Jangan bertele-tele kau harus pulang ke Mansion."


"Kalau aku kesana sama dengan masuk kesarang buaya. Aku akan mati cepat atau lambat."


"Mana mungkin kau mati, aku melihat kau semakin hari semakin pintar dalam perang. Tapi tetap kau kalah denganku."

__ADS_1


"Kau laki-laki memang sepatutnya kau menang. Aku tadi cuma ngawur saja kalau kena bersyukur kalau tidak kena kita hancur. Hidup di dunia ku ada dua pilihan kau mati atau aku yang mati."


"Sekarang aku jarang turun ke lapangan, kalau dulu aku seringkali membunuh orang tanpa ampun."


"Dan memperkosa anak gadisnya." celetuk Alexa.


"Kau cemburu?"


"Ngapain cemburu sama penjahat, kalau kau idolaku baru aku cemburu. Kita ini musuh ingat itu, suatu saat nanti aku atau kau pasti mati."


"Ngomong yang lain saja, aku tidak senang kau bicara mati dan dendam lebih baik bicara masa depan kita."


Alexa terdiam, apa dia punya masa depan? rasanya hidupnya akan ikut musnah jika pelatuk pistol nya menembus jantung Farida. Tujuan hidupnya hanya itu, ntah sudah berapa kali dia hampir mati karena kelaparan dan sakit, dengan sekuat tenaga dia berusaha tetap hidup untuk musuhnya.


Alexa memberikan mobilnya ke Mansion. Tidak ada pilihan lain kecuali pulang ke rumah Alvaro dan kembali bertemu orang-orang yang membuat tensinya naik.


"Apakah aku ada kamar disini?" tanya Alexa mematikan mesin mobilnya.


"Kita berbagi tempat tidur dan mulai saling menyayangi dan berusaha hidup normal seperti orang lain pada umumnya."


"Kita belum menikah aku tidak ingin menjadi mainan. Aku punya harga diri dan etika hidup." kata Alexa turun dari mobil.


Alexa hanya mengangguk tidak menjawab, dia mengambil langkah ke samping, tidak mau mengikuti Alvaro. Dari samping dia akan mengikuti tangga darurat yang tidak pernah di pakai karena semua memakai lift. Alexa lebih senang lewat tangga darurat karena sepi dan bisa melihat ke segala penjuru.


Sampai di lantai empat orang ramai karena disini kantor. Sedangkan kamar yang tidak di pakai ada di belakang kantor paling ujung. Sudah ada pelayan membersihkan kamar, mengganti spray dan lain-lain.


"Selamat siang nona, saya lagi membersihkan kamar nona. Nanti pelayan nona adalah saya, Tuan sudah menunjuk saya. Jika ada orang lain mengaku jangan percaya."


"Nama kau siapa?" tanya Alexa duduk di kursi depan kamar.


"Anahita Qurtis."


"Aku akan mengingat, jika ada yang mengganggumu kasitahu aku."


"Aku pelayan baru nona. Nyonya Farida yang mengajak aku kemari."


"Yang memilih kau jadi pelayanku Tuan apa nyonya Farida,?"

__ADS_1


"Tuan nona."


"Tuan sudah mengenal kau rupanya, kalian sebelumnya pernah ketemu?"


"Aku adalah pacar Tuan." Degg!! dada Alexa seolah dihantam batu besar. Mendadak senyumnya lenyap dibawa angin.


"Hemm...sejak kapan kau pacaran sama orang itu?" sebel menyebut namanya. Setan!


"Nona cemburu?" tanya Anahita memandang Alexa.


Ternyata cantik juga wanita ini, tapi sudah berumur. Mungkin pacar Alvaro zaman dulu. pikir Alexa memalingkan wajahnya.


"Cemburu, hahaha...tidak, aku dan Alvaro tidak pacaran. Kami rekan kerja."


"Benarkah, berarti aku tidak punya saingan. Aku dari dulu mencintainya, kami biasa tidur bersama. Setelah dia pindah dari pulau ini akhirnya kami bubar. Tiba-tiba nyonya Farida mencariku ke rumah, mengajakku kesini lagi. Kita bertemu, tapi dia malah menyuruhku membantu Inshira di dapur menjadi pelayan."


"Sangat romantis...." jawab Alexa sekenanya. Hatinya bergemuruh di makan cemburu.


"Memang romantis nona, masa itu aku harapkan bisa kembali lagi." kata Anahita tanpa dosa.


"Anahita, apakah aku boleh masuk?"


"Silahkan nona ini sudah selesai."


Alexa masuk ke kamar, bau kamar agak sedikit amis, apek menjadi satu.


"Anahita, apakah kau mengepel sudah bersih kenapa baunya kurang sedap?" tanya Alexa keluar lagi.


"Sudah bersih nona, saya sudah mengepel yang bersih."


"Ada apa ini, kenapa Anahita?" Alvaro sudah muncul disitu.


"Tuan, nona Alexa cerewet sekali dan memaksa saya mengepel lagi, padahal sudah saya pel berkali-kali." tiba-tida Anahita mengadu tidak benar.


"Alexa hargai orang kerja, dia sudah mau membersihkan kamar kau. Bukannya berterimakasih malah menyiksa orang." kata Alvaro.


Alexa menarik tangan Alvaro diajak ke dalam kamar.

__ADS_1


"Bauin kamar ini supaya jangan asal bela. Mungkin kau tidak merasa bau karena kau doyan tidur dengannya. Jadi kau tidak bisa membedakan amis dan wangi." ketus suara Alexa.


*****


__ADS_2