Cantiknya selir MAFIA

Cantiknya selir MAFIA
MENGHILANG


__ADS_3

Tujuan utama Alexa pergi ke Hotel adalah istirahat dan tidur. Dia sangat mengantuk, otaknya lelah di jejali teka teki di setiap perusahan milik keluarga Alvaro. Terbayang wajah Farida di pelupuk matanya, wajah itu begitu dingin menatapnya. Hatinya tersayat jika mengingat perlakuan Farida terhadap kakaknya.


Selesai mandi Alexa ingin langsung tidur. Baru merebahkan tubuhnya ada bunyi bel. Dia tertegun, merasa aneh saja, biasanya tidak pernah terlacak jika dia mau beristirahat. Alvaro kah yang datang?


Alexa bangun dan mengintip dari lubang kunci, dia kaget melihat pak Ramos. Seorang konglomerat yang telah membeli gedungnya Alfredo. Buat apa dia datang, semua sudah di proses tinggal


"Sore..." sapaan lembut terlontar dari bibir Ramos ketika pintu dibuka.


"Sore Tuan Ramos, apakah anda mencari saya?" tanya Alexa basa basi. Dia sebenarnya tidak senang menerima tamu di dalam kamar.


"Apakah saya boleh bertemu, ada banyak hal yang harus saya sampaikan mengenai perusahan Alfredo."


"Tunggu saya di bar atau di restoran, saya tabu menerima tamu asing di dalam kamar."


"Owh..tidak apa, saya menghormati privasi nona."


"Trimakasih atas pengertiannya." kata Alexa menutup pintu.


Ramos menggelengkan Kepala melihat tingkah Alexa. Ternyata ada wanita yang tidak peduli dengan ke tampanannya dan kekayaannya. Biasanya orang takut melihatnya, kalau wanita mengejarnya minta di nikahin, pokoknya Tuan Ramos laris.


Ramos dan ajudan serta pengawal duduk di sofa tunggu di luar kamar Alexa. Ramos merasa martabatnya merosot turun dihadapan ajudan dan dua pengawalnya.


Ajudannya langsung menelpon receptionist hotel untuk reservasi Bar saat Ramos mau mengajak Alexa ke Bar. Tidak berapa lama telepon diangkat dan terdengar sapaan sopan.


"Terimakasih sudah menelepon, Jumaera Bar. ada yang bisa saya bantu?" terdengar suara wanita dengan nada lembut.


Ajudan : Saya ingin membuat reservasi Bar."


"Baik, apakah reservasinya untuk malam ini?"


"Ajudan : Ya, sekarang. Kami sudah ada di hotel. Saya minta bar di kosongkan dari pukul 19.00 sampai selesai."


"Baik, saya siapkan Bar dalam keadaan clean untuk malam ini. Jika bersedia silahkan beritahu nama anda."


Tidak menunggu lama Alexa keluar dengan pakaian touring, jaket kulit dan celana panjang kulit warna biru dongker metalic.


"Aku kira kamu memakai gaun." kata Ramos saat Alexa berada di hadapannya.


"Aku bekas karyawan Alfredo, di kantor aku memakai pakaian pengawal kalau pulang aku ganti baju ini. Aku tidak pernah memakai gaun, untuk apa?" kata Alexa bohong.


"Untuk berdansa..." jawab Ramos tersenyum. Gadis ini polos sekali. bathin Ramos memperhatikan Alexa dari samping. Mana ada orang ke bar memakai pakaian begitu.

__ADS_1


"Malam ini aku lelah dan ngantuk, apa boleh besok kita bicara, aku tidak fokus sama sekali."


"Kalau begitu kita duduk-duduk saja dan minum sedikit, besok kita baru bicara serius."


"Oke lah, maaf Tuan Ramos."


"Tidak apa-apa, ada hari esok."


Mereka menuju ke bar di lantai dua. Alexa yang kelelahan dari kemarin tidak fokus, dia mulai menguap. Sampai di bar Alexa merasa aneh karena sepi dan ada meja yang dihias serta minuman campagne dengan dua gelas bertangkai.


"Ada reservasi bar ya?" tanya Alexa mengerjapkan matanya.


Dia berhenti melangkah, tapi Ramos menggandeng tangannya masuk. Lampu warna warni dan live music menyambut kedatangan Alexa.


Ramos menarik kursi dan mempersilahkan Alexa duduk.


"Apakah Tuan mengosongkan bar?" tanya Alexa ingin tahu.


"Untukmu apapun akan aku lakukan. Jangankan bar, hotel ini aku bisa beli untukmu."


"Aku percaya." sahut Alexa acuh. Dia bosan dengan gombalan cowok. Apalagi laki-laki model Ramos yang jelas kelihatan hidung belang.


"Tidak, aku sudah punya suami." jawab Alexa pendek. Mulut Ramos bungkam, matanya tajam menatap Alexa.


"Kau bercanda, aku tahu itu..." kata Ramos tertawa. Tangannya memberi kode bartender supaya membuka minuman.


"Kau makan atau langsung minum. Apa kau pernah minum?"


"Aku tidak pernah minum, tapi kalau rasanya enak aku akan minum, aku mau makan sedikit." kata Alexa acuh. Dia menarik piring steak mulai mengambil garpu dan pisau.


"Apa enak?" tanya Ramos tersenyum dia sangat terpukau melihat kecantikan Alexa.


"Saat kita lapar semua makanan akan terasa enak. Apalagi makanan orang kaya pasti enak semua."


"Kau senang dengan steak?" tanya Ramos menyerahkan segelas minuman.


"Tuan Ramos jangan menatap aku terus menerus, kau makanlah dan minum, supaya kita cepat mabuk dan pulang."


"Oke...kita bersulang..." kata Ramos mengangkat gelas. Gelas beradu, Alexa ingat teman- teman yang bertugas. Rasa sepi menyergap diri nya. Apalagi penyanyi live musicnya mengalunkan lagu sentimentil. Dada Alexa terasa nyeri, merasa hidup sendiri tanpa orang tua dan saudara.


"Kau hebat!!" kata Ramos ketika Alexa sekali teguk menuntaskan minumannya.

__ADS_1


"Minuman ini sangat enak, Jika aku mabuk suruh pelayan bawa aku ke kamar hotel." kata Alexa karena dia yakin tidak akan mabuk.


"Aku yang akan membawamu ke kamar hotel. Minumlah lagi."


"Aku mau ke toilet dulu." kata Alexa berdiri. Kepalanya sedikit pening.


"Apa aku antar?" Ramos ikut berdiri tapi Alexa menolaknya. Ajudan Ramos juga mau mengantar, Alexa tetap nenolak.


Seperti biasa kalau sudah banyak minum Alexa memuntahkan minuman nya supaya dia tidak mabuk.


Saat keluar dari toilet tidak sengaja Alexa menabrak dua orang pria.


"Maaf aku ......" tanpa Alexa sadari laki-laki itu dengan cepat membius hidung Alexa membuat Alexa tidak sadarkan diri.


Ramos yang menunggu Alexa merasa gelisah dia menyuruh ajudan melihat. Dua orang pengawal dan ajudan menuju toilet. tidak berapa lama mereka kembali dengan tangan kosong.


"Tuan, kosong semua." wajah Ramos pucat mendengar laporan itu. Dia memberi kode kepada bartender supaya datang.


"Maaf apa anda memanggil saya."


"Aku mau melihat CCTV kenapa wanitaku hilang di toilet." kata Ramos dengan wajah memerah. Bartender kaget dan langsung menghubungi managernya.


"Maaf kami Tuan atas ketidak nyamanan ini." kata bartender sopan.


Ramos berdiri, mereka menuju ke ruangan Scurity untuk memantau kemana larinya Alexa. Saat mereka melihat Alexa diculik dada Ramos berdebar kencang.


"Kenapa di hotel secanggih ini bisa ada penjahat. Aku komplain." kata Ramos marah-marah.


"Maaf Tuan, saya akan mengantar Tuan ke ruangan HRD."


"Aku ingin bicara langsung dengan Jenderal Manager hotel. Ini masalah kriminal ada penculikan di hotel."


"Kami sudah tangani semoga cepat di temukan, kami tidak mau masalah ini di blow up karena Tuan orang penting di masyarakat." Ramos baru sadar dirinya sudah punya istri dan tiga anak, jika banyak yang tahu bisa berabe.


"Oke, tidak apa-apa. Tolong di telusuri kemana larinya gadis itu dan siapa yang melarikannya."


"Siap Tuan"



*****

__ADS_1


__ADS_2