Cantiknya selir MAFIA

Cantiknya selir MAFIA
SERANGAN MUSUH


__ADS_3

"Alexa...aku tahu kau masih hidup, aku tahu kau mencintaiku. Tenang sayank aku akan mencarimu." tulis Alvaro sangat senang.


"Kau tidak akan menemukan ku karena aku sudah mati." balas Alexa.


"Alexa, kau bicara yang tidak-tidak, kau tidak boleh mati. Kau harus hidup dan menikah denganku." tulis Alvaro.


"Terimakasih kau telah memberikan semangat hidup buatku. Terkadang aku menyesal bertemu dengan kau, sejatinya aku ingin hidup sendiri tanpa ada orang lain yang meracuni hidupku." balas Alexa.


"Kalau sudah jodoh kemanapun kau lari pasti aku akan menemukan dirimu. Aku berharap semoga kau berpikir dua kali untuk menghindar darik. Ini kota mafia dimana-mana terdapat gerombolan penjahat." tulis Alvaro.


"Kaulah yang harus hati-hati karena Farida banyak hutang. Dia berhutang atas nama perusahaan Ady Mema hampir seratus miliar. Dan uang itu masuk ke rekening Alfredo. Selama ini Farida berhutang untuk Alfredo demi meningkatkan perusahan pria tua itu." balas Alexa.


"Kalau begitu perusahan Alfredo dijual untuk membayar hutang dan untuk makan." tulis Alvaro.


"Kau jangan pergi dari Mansion kalau tidak penting. Ada orang yang menginginkan kehancuran kalian." tulis Alexa.


"Aku tidak takut, suruh mereka datang, akan aku sate satu persatu." balas Alvaro sambil bercanda.


Tidak ada balasan lagi, Alexa lenyap begitu saja. Alexa benar, Alvaro bisa


mengalahkan gangster mafia, tapi tidak mungkin bisa mengalahkan takdir, dimana dia harus menyerah kepada Sang Pencipta.


Marchel masuk lengkap dengan senjata di tangan. Dia mengajak dua puluh orang pengawal inti yang sudah biasa diajak berburu dalam tembak menembak musuh.


"Tuan, aku mengajak dua puluh pengawal bersenjata lengkap, dan anjing pelacak."


"Sudah cukup, mereka belum tentu akan menyerang kita. Waspada saja, kita membawa tiga mobil. Aku akan mampir ke bank mengambil uang untuk membayar upah pengawal."


"Nanti mau PHK beberapa pengawal supaya tidak berat membayar. Kita tidak butuh pengawal lagi karena semua perusahan sudah bangkrut."

__ADS_1


Alvaro dan Marchel menuju tempat parkir, pengawal sudah berada di mobil masing-masing. Mobil keluar dengan mulus, Alvaro melihat ada beberapa laki-laki bertatto yang duduk-duduk di depan klinik serta di sepanjang jalan itu.


"Mungkin itu anak buah Ramos, ada sekitar sepuluh orang. Untuk apa mereka berada di sekitar sini?" tanya Alvaro heran.


"Jika mereka mencurigai kita yang membunuh Ramos pasti mereka menyerang ke dalam atau ke klinik, tentunya tempat yang paling dekat." jawab Marchel was-was, dia takut kalau orang-orang itu masuk ke Mansion saat dirinya dan Alvaro berada di luar. Semoga saja tidak.


Marchel dan Alvaro duduk di bangku ke dua berdampingan, mereka sibuk berdebat tentang perusahan Alfredo yang akan dijual. Banyak masalah yang mereka lalui ketika berada di pulau ini. Sekarang baru mereka rasakan kalau Alexa sangat berguna.


Alvaro dan Marchel kalau disuruh melawan musuh pasti bisa, tapi kalau disuruh kerjaan Administrasi atau menjual gedung Alfredo agak susah. Tidak bisa diandalkan, mereka tidak punya skiil Marketing.


Nyonya Rodrigo, Inshira atau Farida tidak bisa diandalkan, mungkin dulu Farida cerdas, bergaung, setelah Ady Mema dan perusahan bangkrut dia down, terlihat tua tak berdaya. Uang sangat mempengaruhi hidup Farida.


"Kemana ini Tuan." kata pak sopir sopan.


"Bank Anu...." jawab Alvaro yang sibuk melihat kanan kiri berharap ada Alexa di antara keramaian orang. Sepanjang jalan dia tidak melihat sosok gadis itu.


"Kau malah chatingan, lihat kanan kiri siapa tahu ada Alexa."


"Kalian meninggalkan Mansion?" tulis Alexa kesal.


"Mana bisa Alvaro di suruh diam di Mansion, dia keluar mencari kau setelah baca chatt kau di lap top. Padahal banyak pria kekar yang mencurigai berada di sekitar klinik."


"Sekarang kalian mau kemana lagi?" tanya Alexa sambil mengambil Revolvernya dan amunisi. Dia harus datang ke Mansion, jaga-jaga saja, siapa tahu pria-pria kekar itu membuat ulah. Dia menutup laptop dan bersiap mau pergi.


Alexa memakai jaket Uniqlo supaya kepalanya ikut tertutup dan masker mulut serta kaca mata hitam. Dia seharusnya memakai topeng latex supaya tidak ada yang mengenal dirinya.


Alexa keluar dari ruang kerja Ramos dan mencari nyonya besar di kamar. Walaupun dia baru bekerja disini, nyonya besar sedikit percaya. Dia bekerja penuh semangat dan jujur. Urusan administrasi dan aset Ramos yang tidak diketahui nyonya besar, kini sudah terungkap satu persatu.


Kepuasan nyonya besar atas kerja Alexa membuat Pak Gofron, notaris pak Ramos merasa tersisih. Itulah penyebabnya Alexa sering ditekan supaya bisa di ajak kerja sama di dalam memanipulasi harta Ramos. Harta Ramos lumayan banyak, baik harta bergerak dan tidak bergerak

__ADS_1


"Tookk....tookk...tookk."


"Permisi nyonya besar, saya mau keluar untuk menemui pembeli mobil Cherokeenya, rencananya mobil ini saya bawa. dulut." ucap Alexa sopan.


"Silahkan, kau urus sampai selesai, nanti ibu kasi bonus. Hati-hatilah di jalan banyak gangster yang mencari sensasi."


"Trimakasih nyonya, saya jalan dulu. Rencananya mobil, motor saya mau jual terlebih dahulu."


"Ibu tidak mau berhubungan dengan notarisnya Ramos, dia pasti banyak menipu. Coba nanti di audit supaya tahu uang masuk dan keluar."


"Siap nyonya."


Mobil Cherokee itu melaju dengan kecepatan tinggi. Alexa diam-diam di ikuti dari belakang oleh suruhan nyonya besar. Dia merasa itu hal yang wajar, tidak mungkin nyonya besar percaya begitu saja kepada dirinya sebagai karyawan baru, apa lagi minta naik mobil sendiri. Tapi suruhan nyonya besar ketinggalan jauh di lampu merah.


Alexa menuju ke klinik Ady Mema, dari jauh dia melihat ada perkelahian di depan klinik. Alexa menepikan mobilnya didepan CK. Dia setengah berlari ke klinik Ady Mema.


Terdengar beberapa kali teriakan, Alexa ikut berbaur dan menembak anak buah Ramos yang semakin beringas. Alexa cepat berlari ke Mansion, perkiraannya benar, ada lima orang laki-laki mencari Farida.


"Farida keluar kau. Nyawa dibayar dengan nyawa. Kau membunuh Ramos, sekarang kau harus mati." teriak seorang pria tinggi besar sambil menendang pintu.


Alexa berlari kencang dan langsung menembak orang itu. Dua orang roboh. Temannya berbalik serta menembak Alexa. Gadis itu masuk ke dapur menuju pintu belakang.


Terdengar Teriakan pelayan dan Farida, serta para wanita lainnya. Alexa memecah kaca jendela dan melompat masuk. Melihat ada yang masuk mereka malah berteriak.


"Kalian jangan menangis, jangan ribut. Masuk ke kamar ini." kata Alexa menyuruh mereka masuk ke kamar sebelah. Dia melirik wajah Farida yang terlihat tua dan sembab.


"Alexa kaukah ini, tolong aku." Inshira menyadarkan mereka kalau yang ada di depan mereka adalah Alexa.


"Masuk kamar kalau mau selamat." kata Alexa mendorong mereka masuk.

__ADS_1


******


__ADS_2