Cantiknya selir MAFIA

Cantiknya selir MAFIA
KECEWA


__ADS_3

Kepuasan bercinta jika sparring partner adalah orang yang kita suka dan cintai. Saling menyayangi dan mencintai dengan tulus. Begitu juga rasa yang ada di hati Alexa, dia tidak mau mengungkapkan tapi Alvaro tahu Alexa mencintai dirinya.


"Sebentar lagi pagi, apakah kau akan mengecewakan Farida yang sudah menyiapkan segala sesuatu supaya bisa menikahkan kau dengan sepuluh wanita bordilnya?"


"Aku tidak peduli..." sahut Alvaro acuh.


"Kau adalah bos mafia, sebelum berkata pikirkan dulu. Menyetujui sesuatu harus di pertimbangan, jika tidak setuju bilang tidak. Jangan begini caranya. Pulang kau, katakan yang sebenarnya menikah atau tidak."


Alvaro mau membantah tapi urung, teleponnya berdering. Dia turun dari ranjang mengambil ponselnya di nakas dan keluar dari kamar.


"Hallo, masih pagi Chel..."


"Tuan tidak pulang, nyonya Farida pingsan dia baru tahu bahwa tempat bordilnya terbakar."


"Terus mama sudah diajak ke klinik?" tanya Alvaro khawatir.


"Sudah ditangani dokter, tapi nyonya terlihat sedih."


"Tidak apa-apa, mama biasa begitu siapapun akan sedih jika mengalami musibah. Tolong jangan katakan kalau mama punya bisnis ini kepada Alexa. Dimana lokasinya?"


"Ya Tuan, lokasinya di Bamboo hut, jauh dari sini. Aku rasa itu bukan milik pribadi, semacam sewa lahan. Lebih baik musnah daripada ujung- ujungnya bermasalah."


"Mama belum pernah bercerita denganku masalah lokalisasi ini. Semoga tidak ada mafia lain yang ikut nimbrung."


"Semoga saja, apakah Tuan akan pulang dan menikah?"


"Aku tidak pulang dan tidak mau menikah."


"Tapi sepuluh calon istri Tuan sudah berdandan, mereka agaknya sangat antusias untuk melakukan ini."


"Bingung aku, yach...bentar lagi aku pulang." jawab Alvaro menutup ponselnya.


Alvaro kembali ke kamar dan melempar ponselnya ke kasur. Dia kemudian menyusul Alexa ke kamar mandi. Matanya terpesona melihat bentuk tubuh Alexa yang sintal, Sexy sekali. Begitu cantik, nyaris sempurna.


"Alexa tolong jujur padaku, kau cinta padaku atau cuma nafsu?" tiba-tiba Alvaro bertanya mendekati Alexa. Tentu saja Alexa gelagapan sesaat setelah itu dia biasa kembali.

__ADS_1


"Selama ini aku menghindari namanya cinta, berusaha menjadi pribadi yang profesional dalam menjalankan tugas. Aku bisa melewati itu semua dalam kurun waktu sepuluh tahun. Aku hidup karena dendam dan mati setelah dendamku terlampiaskan."


"Tugas apa yang kau emban, tugas balas dendam. Aku heran, ditanya cinta malah ngurusin dendam. Dari pertama bertemu kau selalu bicara aneh. Kita tidak pernah bertemu dan sampai hari ini bicara kau dendam melulu. Pusing aku dengar nya."


"Itu kenyataan, jika kau tidak ingin dengar tidak masalah. Up to you." kata Alexa dengan suara tinggi.


"Brengsek!!" ketus suara Alvaro.


Alexa menyudahi mandinya, bicara dengan Alvaro membuat dia emosi dan kerap bimbang. Dia benci akan perasaannya yang sering merindu kan Alvaro. Selama dia menjalankan misi memberantas keberadaan mafia belum pernah dia memakai perasaan seperti sekarang ini. Dia dingin dengan hati membatu. Apa yang harus dia lakukan?


Alexa keluar dari kamar, dia melihat empat orang pengawal Alvaro di luar. Dia sungguh kasihan melihat pengawal yang hidupnya seratus persen diabaikan kepada mafia. Kapan para pengawal itu bisa bebas dari jeratan mafia. Hidup, matinya di tangan bos. Alexa keluar memanggil ke empat pengawal itu masuk.


"Silahkan duduk." perintah Alexa dan menyuruh mereka duduk di ruang makan.


"Trimakasih nona."


Alexa mengambil kopi cappucino kocok dan membuat burger. Dia terbiasa hidup sendiri, melakukan aktivitas sendiri.


"Ini untuk mengganjel perut dulu, aku sudah memesan sarapan pagi. Kalian jangan sungkan, aku biasa membuat makan dalam keadaan darurat."


Alvaro keluar sudah rapi. Dia heran melihat pengawalnya makan di meja makan. Beraninya mereka tanpa seizinnya tidak hormat.


"Kenapa kau suruh mereka masuk?" tanya Alvaro tidak suka.


"Dia pengawal inti yang kita ajak dari perusahan Alvaro Derek. Aku kagum kepada mereka yang begitu setia mengabdi kepadamu. Waktu ini aku telah membebaskan ratusan orang."


"Ya...tapi jangan diajak masuk."


"Tidak apa-apa, semalaman dia berjaga untuk kita. Untuk kali ini saja kau jangan memarahi pengawalmu aku yang menyuruh mereka masuk."


"Ya sudahlah...." Alvaro kelihatan kurang bersemangat.


Bell pintu berbunyi, seorang waiter membawa sarapan dan langsung menyerahkan Bill. Setelah waiter pergi mereka mulai sarapan. Alvaro dan Alexa membawa sarapannya ke ruang tamu.


"Silahkan sarapan pengawal, Tuan kalian sudah tidak sabar untuk pulang." kata Alexa mengerling ke Alvaro. Sindiran itu membuat Alvaro gerah. Seketika moodnya hilang. Dia meletakkan sendok dengan suara berdenting, kemudian dia menarik kedua lengan bajunya ke atas.

__ADS_1


"Aku akan menikah hari ini, kalian berjaga dengan baik. Hari ini kalian akan berpesta, bebas makan dan minum." suara Alvaro terkesan di paksakan. Dia sengaja membuat Alexa bersedih.


"Selamat Tuan Alvaro, dari hatiku terdalam mengucapkan selamat berbahagia." kata Alexa menelan kepahitan. Dia berusaha tegar dan tersenyum manis.


Ke empat pengawal menunduk sambil menikmati sarapan pagi ini. Mereka tahu betapa Tuannya sangat mencintai Nona Alexa. Pengawal juga bingung kenapa mereka berdua tidak menikah, padahal sudah tidur bareng.


Suara ponsel Alexa berbunyi. Wajah Alvaro memerah dan rahangnya kaku. Dia tidak menyangka kalau Alexa sekarang punya ponsel, mungkin hanya nama Marchel yang ada di ponselnya. bathin Alvaro kesal.


"Hallo ada apa?"


"Apakah kau jadi bercerita tentang kenapa kau hilang?" tanya Marchel di seberang sana.


"Apakah kau menunggu pengantin pria datang. Sebentar lagi dia datang, Alvaro lagi sarapan." ucap Alexa tanpa mengindahkan ucapan Marchel.


"Belum begitu ramai, masalahnya nyonya Farida lagi di klinik, aku tidak tahu apa jadi menikah atau tidak."


"Susah sama mafia, bertingkah seenaknya. Kebiasaan hidup di dunia gelap, jadi tidak pernah dapat pencerahan." sindir Alexa. Marchel hanya tertawa.


"Jika kau punya waktu boleh kesini, aku akan menjamu......"


"BRUUGGSS......" semua makanan di atas meja tamu sudah berserakan. Alvaro menendangnya. Alvaro lari ke kamar membanting pintu. Alexa tersenyum tipis.


"Selesaikan makan kalian, setelah itu kalian boleh pulang. Aku akan menjaga Tuan, sepertinya tenaga kalian di butuhkan di Mansion."


"Baik Nona."


Mereka buru-buru makan, setelah itu mereka pergi. Alexa memanggil cleaning service untuk membersih kan serta mencatat ganti rugi barang yang pecah.


Ketika cleaning service mulai bekerja, Alexa menyingkir duduk di sofa panjang pinggir kolam sambil menonton breaking news tentang terbakarnya komplek lokalisasi bamboo hut. Nama bos mafia Ady Mema dan istrinya Farida mencuat di kolom berita.


Tanpa sadar Alexa menitikkan air mata. Waktu dia kecil mamanya sering bertengkar dengan papanya gara-gara uang. Maklum mamanya terbiasa hidup hedon dan pesta.


Dia tumbuh tanpa keinginan Farida, karena Farida tidak ingin punya anak yang bisa mengekang hidupnya yang liar.


"Apa yang kau tangisi? kau tidak bisa menahan langkahku untuk menikah. Jangan sombong, apa salahnya bilang bahwa kau mencintaiku." Alexa kaget, cepat menghapus air matanya. Alvaro sudah berada di belakangnya.

__ADS_1


****


__ADS_2