
"Haha...huhu...haha....huhu..." suara mesum itu membuatnya terbangun. Sangat berisik dan menggoda. Alexa membuka matanya dan bertanya dalam hati darimana suara itu, dia turun dari tempat tidur mencari suara itu. Dan...
Alexa cepat mematikan televisi, rupanya Alvaro tadi menonton film semi dan ketiduran di sofa. Dia tidak mau membangunkan Alvaro, takut di uwel-uwel. Badannya masih capek sekali.
Sudah Pukul.11.15 Alexa menuju kamar mandi, dia membuka kran dan memenuhi bathtub. Rasanya lama sekali dia tidak berendam di air hangat. Mumpung Alvaro tidur Alexa akan memuaskan diri.
Badannya sangat segar selesai mandi, pikiran juga fresh. Alexa membuka kulkas dan mengambil air mineral. Perutnya seketika lapar, dia mengambil ponsel mau memesan makanan.
"Ting..tong...ting...tong..."
Iiihhh....suara bell berisik, maunya supaya Alvaro tidak bangun, tapi sekarang pria itu malah membuka pintu utama.
"Letakan di ruang makan, tata yang bagus. Susu dan buah jangan sampai habis." terdengar suara berat Alvaro.
"Baik Tuan, tapi nyonya Inshira tidak mau minum susu lagi, dia memilih es cream untuk camilannya."
"Apapun yang dia minta kasih, yang penting aman bagi bayi dalam kandungannya."
"Tidak masalah Tuan, saya langsung pulang Tuan."
"Ya baiklah."
Ketika Alvaro berbalik mau ke kamar melihat Alexa, gadis itu sudah duduk di kepala ranjang dengan tatapan ingin membunuh.
"Sayank sudah bangun, aku kelamaan tidur. Sudah mandi ya." ucap Alvaro mencoel pipi cabi Alexa.
"Tidak usah mesra!" kata Alexa menepis tangan Alvaro.
"Duhh...salah apa lagi aku. Kau mimpi buruk?"
"Aku yang mimpi buruk bertemu dengan buaya darat seperti kau." pekik Alexa melempar bantal.
Waduhhh...Alvaro cepat-cepat masuk kamar mandi, dia tidak ingin ikut terpancing emosi, yang bisa membuat Alexa kembali kabur. Dia cepat-cepat mandi, baru ingat pintu utama belum dia kunci. Lupa sekali, harusnya dia memakai sidik jarinya.
Setelah rapi Alvaro kembali masuk kamar, dia melihat Alexa masih dalam posisi kaku dan mematung.
"Sayank, kita makan yuk." Alvaro perlahan mendekat. Dadanya berdebar melihat gunung kembar Alexa mengintip sebelah. Putih susu. Coba kalau tidak hamil dia sudah memakai jurus dirudapaksa.
"Aku sudah kenyang makan hati!!"
"Tapi aku tidak ada memesan hati, semua makanan sehat untuk bumil." sahut Alvaro pura-pura bloon, lebih baik begitu. Walaupun dia tahu arah bicara Alexa.
__ADS_1
"Makan saja sendiri, jangan urus aku. Ini bukan bayimu, aku selingkuh dengan orang." ketus Alexa.
"Jujur sekali, berarti aku salah selama ini. Aku kira itu anakku." Alvaro pura-pura sedih.
"Ini anak orang, makanya tinggalkan diriku. Sana kau dengan Inshira brengsek itu. Dasar pecundang!!"
Ooohh...ini penyebabnya. Mungkin tadi Alexa sempat nguping. bathin Alvaro.
"Hemm....aku memang menikah siri dengan Inshira....."
Belum selesai bicara bantal sudah dilempar Alexa, dia teriak menangis histeris. Mungkin sudah dari lama dia menahan marah, baru bisa terealisasi sehingga Alexa histeris begitu.
"Sayank dengarkan dulu ceritaku, tidak seperti yang kau pikirkan. Inshira adalah tunangan Marchel, karena Marchel sudah meninggal jadi aku terpaksa menikah siri dengannya. Tujuannya memberi Inshira status untuk calon bayinya. Supaya Inshira tidak malu karena hamil diluar nikah."
Alvaro cepat-cepat berkata karena Alexa ngamuk tidak karuan. Alvaro tidak kuasa melihat tali piyama Alexa yang sudah terlepas. Kalau dilihat salah, tidak dilihat tambah salah. Daripada bingung Alvaro memeluk Alexa.
"Kenapa kau nikahi hiks...hiks...."
"Itu karena Farida mengancamku, aku membuat syaratnya. Salah satunya tidak ada hubungan intim. Dan kita cerai setelah anak itu lahir." kata Alvaro mengambil tissue basah untuk membersihkan air mata Alexa. Dia bersyukur Alexa cemburu berarti gadis itu mencintainya.
"Apa kau sudah percaya padaku, aku setia sayank. Aku berubah karena cintaku." bisik Alvaro melepaskan piyama Alexa.
"Aku sangat bahagia melihat kau mengandung anakku. Dulu tidak pernah terpikirkan. Tuhan masih sayang padaku." Alvaro terus mengoceh saking bahagianya.
"Berapa kau sudah menghamili orang?" tanya Alexa membuat Alvaro malas menjawab.
"Lebih baik kita hem. hem..yuk daripada membahas yang tidak penting, nanti kau marah lagi."
"Tidak, aku tidak marah suwer."
"Masalahnya aku tidak tahu orang yang aku setubuhi hamil atau tidak, aku selalu pakai pengaman takut penyakit."
"Gimana dengan pelayan kau yang sering kau ajak begituan?"
"Dia minum obat, aku tidak pernah ada rasa dengan mereka."
"Dia siapa, katakan MEREKA karena saking banyaknya!! kesel aku punya suami play boy hiks..hiks..."
Serba salah, dasar perempuan selalu mencari kepastian yang menyakiti dirinya sendiri.
"Aku bawain minum ya."
__ADS_1
"Gak usah!!"
"Itu semua masa lalu sayank, aku banyak dosa. Jika kau marah dan ingin membunuhku, sekarang lah waktunya. Aku sangat mencintai kau dan anak kita."
"Aku telat bertemu kau, coba dulu ketemu sudah dari dulu aku nikahi." kata Alvaro merayu.
"Tidak usah banyak bacot, masa depanku sudah kau rampas. Tahu begitu aku tembak kau sampai babak belur." ketus suara Alexa.
"Kalau kau tembak, tidak akan ada bayi dalam perut kau, ini buah cinta kita. Kita akan membangun keluarga kecil yang bahagia." kata Alvaro.
Tangan Alvaro mulai usil dan Alexa membiarkan suasana hatinya lebur dalam gairah. Alvaro mendaratkan bibirnya di bibir ranum Alexa. Dia sedikit hati-hati karena Alexa hamil. Mereka saling berpelukan. Alvaro menumpahkan segenap rindu dan mengaplikasikan wujud cintanya dengan permainan yang menggebu.
"Aku mencintaimu..." kata Alvaro di sela-sela genjotannya. Dia sangat merindukan kesempatan ini.
"Yank, kita makan dulu aku tidak ingin terus menggempur kau, takut terjadi sesuatu."
"Aku mau ke kamar mandi." kata Alexa manja.
"Mari aku gendong..."
"Jangan sayank, aku jalan saja."
Bahagia itu sangat mahal, setelah menempuh jalan berliku dan cobaan bertubi-tubi, barulah Alvaro bisa mewujudkan mimpinya. Walaupun belum terlaksana tapi Alexa sudah kembali berada disisinya.
Sambil makan Alvaro tidak putus- putusnya bersyukur. Dulu dia sudah sempat putus asa karena sering ditinggal oleh Alexa. Untung dia bersabar, berkat pertolongan Marchel juga dia terus bisa bertemu dengan Alexa.
"Makan yang banyak, karena kau kini makan berdua. Aku akan terus menjaga kau sampai kau bosan melihatku."
"Tidak mungkin bosan sama suami."
"Kau senang tinggal disini? jika senang aku akan beli Villa ini, tapi kalau tidak senang kita pilih Villa lain atau kau lebih senang rumah mewah?"
"Disini saja, bosan rumah mewah malas bersihin."
"Ada pembantu, tinggal suruh pembantu."
"Kalau pembantu berhenti, atau pulang kampung kita capek sendiri. lebih baik disini saja dulu untuk sementara, aku juga masih banyak pikiran." kata Alexa tiba-tiba muram.
Alvaro juga diam, dia tahu Alexa adalah seorang Agent Rahasia Negara yang bertugas untuk membasmi mafia. Dan salah satu nama mafia yang ada dalam agenda Alexa adalah Alvaro.
*****
__ADS_1