Cantiknya selir MAFIA

Cantiknya selir MAFIA
PECUNDANG


__ADS_3

Menyatakan cinta adalah hal yang sulit dilakukan. Karena kata-kata itu mengandung resiko besar. Pertama dia harus menjadi kekasih saat susah dan senang. Kedua dia rela di nikahin dan dibuat hamil. Ketiga agenda balas dendamnya akan sirna ditelan angin asmara.


Daripada digasak terus tapi tidak dihalalin bukankah lebih rugi dan terkesan murahan? Alexa menepis tangan Alvaro yang mencoba untuk merayap ke gunung kembarnya.


"Aku ingin hari ini di gunakan untuk tidur, aku dua hari tidak tidur. Tapi kalau kau usil aku akan tidur di hotel."


"Tidurlah aku juga mengantuk." kata Alvaro mencium pipi Alexa.


"Nanti bangunin aku kalau tidurku terlalu nyenyak, aku ada kerjaan."


"Kerjaan apa, asal jangan janjian sama Marchel." sahut Alvaro tersenyum.


"Tookk...tookk..tookk."


"Siapa lagi...." kata Alvaro bangun dari ranjang. Dia merasa terganggu. Dengan nggan dia membuka pintu kamar, Alvaro kaget melihat Farida sudah berada di depan pintu.


"Mana perempuan ****** itu." kata Farida masuk ke kamar. Alexa cepat meloncat ketika mendengar suara Farida. Dia berdiri memandang Farida yang datang dengan marah.


"Rupanya kau masih hidup, kenapa kau tidak mati sekalian." kata Farida menarik rambut Alexa dengan kasar. Alexa tidak menyangka kalau Farida mendekati dirinya hanya untuk menjambak rambutnya.


"Lepaskan!!" tepis Alexa kasar, membuat Farida hampir jatuh. Alvaro cepat menyangga tubuh mamanya.


Tiba-tiba Farida menangis sedih di pelukan Alvaro. Alexa memandang Farida heran, kenapa menangis padahal tidak ada luka atau sakit akibat dorongannya.


"Alvaro jika mama mati manusia inilah yang membunuh. Kau tahu dia yang membakar wilayah bamboo hut, dan orang-orang yang bekerja disana. Dia itu ular berbisa, kita akan bangkrut dicuri uangnya semua." kata Farida jelas sekali.


Alexa melihat perubahan wajah pria itu dengan jelas. Matanya menatap tajam seakan mau menguliti Alexa.


"Benarkah itu Alexa?" tanya Alvaro dengan rahang menguras.


"Benar, aku datang membawa dendam. Semua itu ada alasannya. Jika kau ingin tahu lebih jelas tanya pada Farida, wanita terhormat yang tidak bisa membedakan mana manusia dan mana hewan." kata Alexa kesal.


"Jadi kau benar pencuri itu. Pantas kau murahan membiarkan tubuh kau digasak karena kau ingin uang kami, aku tidak menyangka, sifat kau busuk lebih hina dari pelacur!!" Degg!!

__ADS_1


Darah Alexa seolah meloncat ke ubun-ubun mendengar hinaan Alvaro. Sangat gampang Alvaro terhasut oleh mulut manis Farida. Saking keselnya Alexa mengambil Revolver dari pinggangnya dan menodongkan ke dahi Farida.


"Aku ingin sekali mengeluarkan isi otakmu supaya berceceran di lantai." ancam Alexa dengan tangan gemetar.


"Alexa gila kau!! berani mengancam mamaku. Dasar tidak punya otak, pergi kau dari hadapanku. Jangan pernah kau menginjakkan kaki disini lagi. Aku masih bersabar, sekali lagi kau berulah aku membunuhmu."


"Aku akan menunggu kau membunuhku, Alvaro."


"Alvaro tunggu apa lagi laporkan manusia ini ke polisi, dia membakar bamboo hut dan membunuh ratusan orang tidak berdosa." pekik Farida emosi.


"Dia juga menjual perusahan Alfredo dan menyelidiki perusahan Ady Mema, dari penjualan properti tidak ada uangnya. Semua uang dicuri olehnya." kata Alvaro panas hati.


"Tadi dia menghamburkan sepuluh miliar untuk para PSK, itu uang kita yang dia curi." tiba-tiba Inshira ikut nimbrung dan ikut masuk ke kamar.


"Kembalikan uang kami!!" bentak Farida memukul Alexa dengan bantal. Alvaro tersulut marahnya, dia ikut menendang Alexa, hampir saja gadis itu terguling, untung tangan Alexa cepat memegang realing besi ranjang.


"Kalian memang manusia kerak neraka, patut dibasmi di muka bumi. Aku menyesal memberi kalian kesempatan hidup."


"Aku akan laporkan kau ke kantor Polisi." Inshira memekik membuat para pengawal berdatangan.


"Tidak usah sombong kembalikan uang kita." Alvaro berteriak marah.


"Aku tidak ingin banyak bicara karena uang kalian dari hasil penggelapan, perampasan, jadi perlu di Money laundering dulu."


"Banyak alasan bunuh dia..." teriak Farida, pengawal yang tidak tahu duduk persoalan ikut marah.


Pengawal mengangkat senjata mau menembak Alexa.


"STOP!!" teriak Marchel menyeruak masuk kerumunan.


"Kalian tidak mengerti apa-apa, stop bertingkah konyol. Kita sudah dalam keadaan bangkrut dari tiga tahun yang lalu. Jangan suka menyalahkan orang lain kalau belum ada bukti."


"Marchel sudah jelas dia menjual perusahan Alfredo, itu sudah bukti. Kau mau kita mati semua."

__ADS_1


"Tuan Alvaro, semua masih proses, sabar. Jangan cepat mengambil tindakan kalau tidak ingin di penjara. Kita adalah kelompok mafia yang biasa menentang pemerintah, semua yang kita punya ILEGAL."


"Turunkan senjata kalian, kalau dia mati kalian akan mati kelaparan. Jangan mengikuti perintah konyol, pikir untung ruginya." sambung Marchel lagi.


"Alexa mari kita keluar." kata Marchel mengajak Alexa keluar dari Mansion hampir saja Alexa dibunuh. pikir Marchel kesal.


"Trimakasih, aku akan langsung ke Hotel, aku akan memberi bukti setelah semuanya beres."


"Tidak usah dipikirkan. Bagaimana kalau aku mengantarmu?"


"Aku bisa naik taxi." kata Alexa tanpa ekspresi.


Alexa berjalan tegap ke jalan raya, di belakang Marchel sudah memesan taxi untuk Alexa. Hati Marchel ngilu melihat Alexa, kenapa Alvaro kurang tanggap akan keadaan Alexa.


Ya Tuhan, semoga Alexa tabah. bathin Marchel. Dia mengutuk sikap Farida yang tidak manusiawi.


Marchel beranjak pergi setelah Alexa naik ke taxi. Ketika dia sampai di halaman Alvaro menyambutnya dengan tinju. Untung Marchel awas, dia cepat berkelit. Rasa cemburu Alvaro terpancar dari wajahnya. Marchel pura-pura tidak mengerti, dia malas dengan sikap Alvaro yang tengil.


"Tuan, berhenti main-main kita ke ruangan keluarga untuk berdiskusi tentang masalah yang kita hadapi sekarang ini." kata Marchel melangkah ke ruangan keluarga.


Nyonya Farida sebenarnya tidak senang dengan sikap Marchel yang lebih condong membela Alexa dan tidak pernah mau mendengar usulan darinya.


Akhirnya semua mau ke ruang keluarga sampai pengawal ada yang ikut serta. Kesempatan ini di pakai sebaik-baiknya oleh Marchel untuk menjelaskan bagaimana perusahan Ady Mema.


"Maaf Tuan Alvaro, Nyonya Farida, Inshira, Nyonya Rodrigo dan yang ada di ruangan ini. Saya mau memberitahu secara garis besar bahwa perusahaan Tuan Ady Mema sudah bangkrut. Dan tidak bisa di pulihkan kembali. Sedangkan hutang sangat banyak." kata Marchel mulai menjelaskan permasalahan hutang.


"Siapa yang menyuruhmu berkata begini, Alexa?" protes Farida emosi.


"Tidak ada yang menyuruh, ini hasil audit. Tapi setelah semuanya terbakar kerugiannya gampang di total." jelas Marchel.


"Marchel aku belum puas dengan keterangan ini, aku ingin Alexa mengembalikan uang perusahan Alfredo." Farida mendesak Marchel.


"Nyonya Farida dan yang lain, Alexa tidak mungkin mencuri uang perusahan. Kalau dia ingin mencuri tidak mungkin dia bersusah payah membantu menyelesaikan tahap demi tahap permasalahan keuangan kita dari sepuluh tahun yang tahu." kata Marchel panjang lebar.

__ADS_1


****


__ADS_2