
Gelombang air laut datang semakin meninggi, seolah ingin menerjang pembatas kolam air asin dengan lautan luas. Pandangan mata Alexa tertuju kepada laki-laki petugas pembersih kolam, dia begitu teliti menyerok satu persatu sampah yang masuk ke kolam.
"Alvaro, aku tidak ingin menghalangi langkah kau atau mencoba bersedih atas keputusan kau untuk menikah. Aku menjalani hidup ini sesuai porsi yang aku dapat. Jika kau berhasil meniduriku itu karena nasib buruk dan ketidak berdayaanku menolak dan mempertahankan mahkotaku. Jadi aku tidak menangis dan akan tetap tegar untuk apapun." kata Alexa tenang. Dia harus kuat dan bisa membangun benci di hatinya.
"Sombong sekali kau Alexa, kau akan merana dengan kesombongan kau dan suatu hari nanti kau akan meminta supaya aku mencintaimu."
"Semoga aku tegar." jawab Alexa mantap dan acuh.
"Jangan pernah kau datang ke Mansion ku dan mengemis cinta."
Itu kata-kata terakhir dari Alvaro untuk Alexa. Dengan langkah gontai dan hati luka Alvaro pergi dari hotel itu. Dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ada air mata jatuh di sudut matanya. Dia merasakan hidup sebatang kara. Bahagia itu sulit dia gapai.
Sampai di Mansion Alvaro diam beberapa saat di mobil, dia sedih. Perlahan dia turun dari mobil setelah agak tenang. Alvaro disambut oleh deretan pengawai dan pelayan yang berbaju rapi. Bukannya senang, hatinya tersayat mengingat apa yang akan terjadi.
Marchel datang membisikan supaya Alvaro langsung ke kamar rias.
"Bagaimana keadaan mama?"
"Sudah membaik." jawab Marchel sambil memeriksa ponselnya yang terus menerus berdering.
Sampai di dalam ternyata sudah ada Inshira yang lagi menunggu Alvaro.
"Baru dibicarakan sudah datang. Aku sampai kriting menunggumu." kata Inshira tertawa getir.
"Inshira tolong kau bantu di depan mama kau kewalahan menerima tamu. Siapa tahu ada kerabat yang datang."
"Tidak ada kerabat Marchel, semua sudah hangus terbakar. Aku acungi jempol musuh Ady Mema yang satu ini. Dari dulu tidak ada yang bisa mengusik wilayah itu. Gubernur pun kewalahan. Mungkin sudah finish, apa boleh buat." kata Inshira membuat Marchel dan Alvaro ingin tahu lebih jauh.
"Sebenarnya apa yang ada di wilayah bamboo hut itu, papaku dan mama tidak pernah cerita wilayah itu." ucap Alvaro.
"Yaelah Alvaro, itu gudang uang papa kau. Disana ada pabrik miras, kebun ganja, lokalisasi terbesar, judi dan banyak lagi. Sekarang semua hangus menjadi abu sampai ke orang-orang nya."
Alvaro bergidik, dia tidak tahu dan tidak menyangka kalau sebanyak itu kerugiannya, pantas mamanya pingsan.
"Kata orang sepuluh wanita itu dari tempat bordil benarkah itu?" tanya Alvaro lagi.
__ADS_1
"Benar sekali dan mereka sekarang menjadi yatim piatu karena keluarga mereka ikut terbakar. Jadi sebaiknya kau beri pekerjaan atau kau nikahin."
"Untuk apa dinikahin kalau aku tidak mau menyentuhnya."
"Mana aku tahu, menurut ku lebih baik disuruh menjadi pelayan atau kau modalin semua wanita itu supaya bisa mandiri. Daripada kau nikahin tapi dilelerin, yang dapat enaknya Marchel."
"Marchel, omongan Inshira aku kira benar. Kalau dipikir buat apa wanita itu disini. Aku sekarang tidak seperti dulu lagi. Tobat aku mainin wanita."
"Hemm...tidak perlu dipikir Tuan, usulan Inshira memang benar." kata Marchel menyetujui.
"Tunggu apa lagi suruh mereka pergi atau mau jadi pelayan."
"Tenang Tuan aku tanyain dulu, kita juga memberitahu secara transparan pernikahan yang gagal."
"Sebagai ajudan kau umumkan kalau pernikahan ini tidak akan pernah dilakukan karena banyak faktor." kata Alvaro memerintah Marchel.
Mereka lalu berbincang tentang wilayah bamboo hut yang berisi penjahat semua. Kemudian disambung dengan pernikahan yang tidak jadi dilaksanakan.
Ketika wacana itu di dengungkan para wanita dan tamu kecewa berat. Mereka ngedumel tidak karuan. Untuk mengobati kekecewaan para tamu, semua souvenir dibagi rata.
"Sepuluh wanita itu meminta uang satu miliar perorang. Aku tahu kau membawa uang Alfredo." telpon Marchel membuat Alexa bersiap datang.
"Tenang semua, kalian gila apa menuntut satu miliar perorang, emang kalian rugi apa?!" Marchel menghardik dengan kesal.
"Nyonya Farida membeli kami dari orang tua kami, tapi hutang tidak pernah bayar. Dan kami banting tulang melayani tamu hidung belang tiap saat. Biar sakit atau datang bulan kami tetap digoyang, tidak ada libur."
"Tenang-tenang, kalian tahu nyonya Farida dalam keadaan stres karena wilayahnya kebakaran. Jadi kami tidak bisa membayar sebanyak itu, kami hanya bisa membayar seratus juta perorang."
"Aku perawan ting-ting saat diambil, dan aku tidak mau dibayar segitu."
"Kalian mati atau terima ganti rugi seratus juta perorang." gertak Alvaro menodongkan pistol.
Semua terdiam, mereka ketakutan tidak karuan. Dada mereka berdebar kencang. Tapi kesenyapan itu cuma sesaat, wajah mereka menoleh ke depan dimana sosok Alexa muncul di antara kerumunan orang.
"Selamat pagi menjelang siang semuanya. Aku sebenarnya malas datang kesini, tapi Marchel tadi menghubungi ku. Aku datang tidak lama hanya ingin memberi ganti rugi kepada para wanita yang telah direnggut paksa masa depannya." kata Alexa berjeda, dia menunggu respon Alvaro.
__ADS_1
"Jangan ikut campur masalah rumah tangga kami. Aku bisa mengatasi." protes Alvaro tidak senang atas kedatangan Alexa.
"Kami masih tawar menawar Alexa, kita dalam krisis keuangan, dimana cari uang sepuluh miliar. Tuntutan mereka mustahil."
"Sebelum aku melanjutkan, izinkan aku secara pribadi minta maaf atas kelakuan Farida kepada kalian. Aku mengerti penderitaan kalian, untuk itu aku akan membayar kalian sesuai tuntutan kalian. Hanya saja aku sarankan supaya kalian memakai uang ini sebaik mungkin."
"Wooowww...." suara itu berdengung sempurna. Alexa merogoh kantong jaket nya dan mengeluarkan sepuluh lembar cek.
"Uang siapa itu?" tanya Alvaro mendekat. Dia ketar ketir kalau uang Alfredo di pakai.
"Jangan khawatir Tuan Alvaro, uang ini miliku. Milikmu aman." kata Alexa sinis.
Para wanita semua senang, Alexa melirik para pengawal yang seketika menjadi pelindung. Mereka saling pasang aksi.
"Aku akan pergi, trimakasih atas perhatian kalian."
"Trimakasih Nona, semoga rejeki nona lancar."
Alexa berbalik melangkah pergi, tapi tangan Alvaro cepat menarik tangan Alexa dan membawanya ke kamarnya. "Kleekk" pintu di kunci. Alvaro mendorong Alexa ke ranjang.
"Pergi atau mati." ancam Alvaro.
"Melawan dan kau mati." jawab Alexa tidak mau kalah.
Alvaro menubruk Alexa memeluknya erat. Dia ingin Alexa tetap berada disampingnya.
"Tolong jangan pergi aku hanya ingin memelukmu sampai kita ketiduran."
"Katanya tidak boleh kesini."
"Aku mencintaimu." kata Alvaro menjepit Alexa.
Alvaro ******* bibir Alexa dengan lembut dan mesra. Dia sangat mengasihi wanita ini sepenuh hati.
****
__ADS_1