
Perdebatan tidak bisa selesai kalau sudah semua emosi dan tidak mau mengerti. Akhirnya Marchel maju menyuruh pengawal dan pelayan memberesúkan semuanya.
"Aku mau berdamai tapi nikahin Inshira, kalau tidak masalah ini aku akan bawa ke jalur hukum." kata nyonya Rodrigo menatap Alvaro dengan mata merah.
"Tidak bisa, aku sudah punya selir, maafkan aku."
"Aku akan membunuh selirmu." tiba-tiba Inshira menodongkan pistol kepada Alexa. Mereka semua berteriak kaget.
"Inshira jangan menambah masalah, semua bisa dibicarakan dulu."
"Alvaro menikah dengan ku atau selir kau kepalanya pecah." bentak Inshira.
Alexa tidak bisa berkutik karena nyonya Rodrigo juga menodongkan pistolnya.
"Aku akan menikahkan kau asal kau tidak melahirkan anak dariku. Aku tidak mau keturunan Rodrigo." kata Alvaro pasrah.
"Aku setuju, bikin hitam diatas putih." kata Inshira. Yang penting Alvaro mau menikahinya saja sudah bersyukur. Dia bangga bisa menjadi istri sah bos mafia yang kaya raya.
Alvaro menatap Alexa dengan mata berkabut, dia takut kehilangan Alexa apapun dilakukan asal Alexa tetap bersamanya.
"Marchel, tolong buatkan perjanjian pra nikah sesuai yang kau dengar." perintah Alvaro.
"Siap Tuan."
"Kita akan menikah minggu depan, di catatan sipil. Tidak usah ada acara apapun, aku berkabung karena papaku masih sakit." jelas Alvaro tanpa ekspresi.
"Baiklah, aku setuju." jawab Inshira tersenyum penuh kemenangan.
"Aku akan tidur dengan selirku, kau akan aku bebaskan."
"Aku istri sahmu, aku sekamar denganmu, istri kau taruh di kamar lain. Dia tugasnya melayaniku."
"Aku tidak terikat dengan siapapun disini, setelah tugasku selesai aku akan pergi dan tidak kembali lagi."
"Rupanya mental kau kerdil, Alvaro aku ambil langsung kau mengambil sikap putus asa. kalau begitu selesaikan tugas kau dan pergilah untuk selamanya."
Alexa tidak bereaksi ketika Inshira datang dan menarik Alvaro. Ntah apa yang berada di pikirannya Inshira memeluk Alvaro dan tidak sedih sama sekali, padahal papanya baru meninggal.
__ADS_1
"Maaf Alvaro aku akan ke sel." kata Alexa kecewa.
"Alexa tunggu....."
Tapi Alexa sudah keluar dari kamar Alvaro dan berlari menuju sel. Dia menuju kamar mandi, hanya air shower yang bisa membuang rasa sedih di dadanya.
Perasaan cengeng ini yang tidak disukai oleh Alexa. Dia berharap cepat bisa keluar dari sini dan mulai hidup baru jauh dari rasa dendam.
Alexa keluar dari kamar mandi dan duduk bersandar di tembok. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Dia banyak tahu yang bakal terjadi, tapi geraknya terbatas.
Marchel datang membawa kudapan dan secangkir kopi. Mungkin Marchel tahu saat ini dirinya sedang Gabut, sehingga Marchel mau menemaninya.
"Kita pesta berdua." kata Marchel menaruh nampan di lantai.
"Santai sajalah yang penting masih bernafas, dan bisa makan."
"Kau tidak cemburu kalau Alvero menikah dengan Inshira?"
"Perasaan apapun yang sekiranya akan menyakitiku aku lenyapkan. Dengan cara mengambil jarak dan perlahan menjauh. Cinta tidak perlu memiliki, melihat dia bahagia aku akan senang." kata Alexa berfilosofi.
"Semoga kau kuat mendengar dan melihat, sekarang kau harus lebih hati-hati membawa diri."
"Aku ingin mengajakmu ke bawah, aku minta bantuan supaya masalah perusahan Alfredo cepat bisa di tanggulangi."
"Aku akan bantu semampu ku, jika kau tidak puas maafin ya."
Marchel mengajak Alexa turun dan diajak kesebuah kamar luas dan sejuk karena ada AC nya.
"Kau tidak berpikiran buruk atau ingin melecehkan aku?"
"Walaupun aku ingin, tapi kau milik Alvaro. Alvaro adalah teman sejati suka dan duka."
"Aku lega, kau tidak membuat aku harus memotong tanganmu."
"Kita diskusi tentang perusahan Alfredo dari A sampai Z."
"Aku siap, ngomong-ngomong ini kamar siapa?" tanya Alexa menatap Marchel.
__ADS_1
"Kamarmu yang baru." kata Marchel menyuruh Alexa membuka Almari.
Alexa tersenyum karena ada baju pengawal dan baju perempuan. tertata rapi. Dia juga melihat sepatu Sneaker dan topi.
"Ini untuk pakaian pengawal, kau ingin supaya aku jadi pengawalmu atau kau ingin melihat aku mati."
"Astaga, tidak segitunya juga, aku ingin supaya kau membantu ku saat berada di Perusahan Alfredo. Mereka berhubungan dengan orang Afrika, perjudian online dan casino."
"Oke, kita akan ngantor disana dengan lima puluh pengawal Alfredo dan seratus pengawal Ady Mema." kata Alexa bersemangat.
"Ini lap top baru, masih gress, kau boleh memakainya. Kau boleh membuat rancangan strategi perang yang akan kau terapkan disana. Aku juga ingin tahu ide-ide kau yang lain. Mulai hari ini kau tidur disini, aku berada di sebelah."
"Kau tidak pasang CCTV disini kan?!"
"Astaga Alexa aku tidak sejahat itu, aku cuma ingin kau bantu aku, itu saja. Semoga kerja kerasmu bisa membuat perusahan Alvaro bisa di satukan, menjadi satu managemen."
Alexa tersenyum penuh arti, dalam hatinya dia berkata "Aku ingin menghancurkannya seperti puing- puing tanpa makna" jika itu terjadi hatinya akan puas.
Marchel keluar dari kamarnya, Alexa berdiri. Dia melihat Alvaro dan Inshira bergandengan tangan. Darah nya langsung mendidih. Laki-laki itu tadi menolak Inshira, mengatakan yang aneh dan tidak masuk akal, tapi sekarang malah dia gandengan tangan dengan mesra. Buaya tetap saja buaya.
Alexa mulai menempelkan tangan kirinya dan gambar gedung Alfredo, gedung ini menjulang tinggi dan berada di Macao. Ini pusat perjudian, dari sini uang Alfredo mengalir. Ini harus di jual karena banyak orang menjadi korban.
Alexa sudah sering menarik dana pembagian Alvaro 50 persen, dan masuk ke rekening chip nya. Mulai sekarang dia akan menarik dana perusahan Alfredo yang ada di Macao semuanya. Alexa lalu meng hack lima menit data base Alfredo kemudian dia menarik semua dana yang ada secara bertahap. Mereka pasti kalang kabut dan tahu data mereka di hack.
Alexa menghapus kejahatannya di lap top, dia yakin karyawan Alfredo di Macao akan menelpon Alvaro.
Baru saja Alexa merebahkan tubuhnya Alvaro sudah berada di ambang pintu.
"Kau senang kamarnya?" tanya Alvaro seraya menutup pintu.
"Tidak, aku lebih senang berada di sel. Kalau disini mata akan capek melihat keluar, tadi ada orang aneh gandengan tangan apa tidak bisa jalan sendiri." sindir Alexa dengan mulut mengerucut.
"Kau menyindir ku, mungkin kau tidak menyangka bahwa aku melakukan dengan terpaksa supaya hatinya terhibur, aku kasihan karena kehilangan papanya.
Alexa menjebikan bibirnya dia tidak percaya. Alvaro jadi gemes melihat dan menubruk Alexa. Mereka bergumul saling pagut. Rasa cinta yang tulus membuat mereka lebih romantis.
Bibir Alvaro mulai menjalar di leher dan turun mencari gunung kembar. Tangan Alvaro juga berselancar ke segala arah membuat Alexa geli. Alvaro sudah tidak sabar dan membuka semua pakaiannya serta pakaian Alexa.
__ADS_1
Dia kemudian menindih tubuh Alexa Alvaro langsung menembakan rudal scudnya membuat Alexa merem melek. Alvaro terus menggasak tubuh Alexa berkali-kali sampai puas.
*****