
Alvaro duduk termenung, matanya kosong memandang ke ufuk Barat. Sebentar lagi bumi akan gelap, rasa sepi menggelayut di sanubarinya, ada duka yang menghadang. Alvaro mengusap wajahnya dengan lelah.
"Ntah apa aku cari dalam hidup ini. Selama ini aku adalah robot yang di pandu oleh papaku dan mama Farida. Kini papa terbujur di brankar dengan beberapa slang terhubung ke badannya." kata Alvaro tanpa ekspresi.
"Kita doakan semoga dia cepat sembuh. Aku kaget mendengar berita duka yang beruntun ini. Tidak menyangka saja." ucap Marchel yang baru datang menyusul.
Mereka duduk bertiga di sel tempat Alexa di kurung. Mereka lesehan di lantai bersandar di dinding. Gadis itu ikut duduk hanya sebagai pendengar apa yang terjadi. Dia juga tidak menyangka Honduras meninggal secepat itu. Bagaimana kalau tadi dia yang makan nasi pemberian Margareta?
"Ini pelajaran untuk kalian berdua betapa sedihnya kalau ditinggal oleh orang tua kita. Aku pernah berada di titik ini. Untungnya aku tabah. Aku yakin, puluhan orang tua yang tidak bersalah, pernah kalian bantai dengan beberapa alasan, jika kalian terluka itu artinya kalian masih normal." ujar Alexa pelan.
"Jika aku tidak mengajak kau kesini tidak akan ada masalah ini."
"Aku yakin karma buruk sedang berjalan. Dendam ku kepada kalian tetap membara, jika tidak sekarang pasti nanti aku membunuhnya. Sejujur nya aku katakan, bahwa aku ingin langsung menembak nya, tapi aku tidak tega melihat kau dan Farida." kata Alexa berjeda, dia ingin melihat reaksi Alvaro dan menunggu tanggapannya. Alvaro tidak menoleh rahang nya terlihat keras, matanya memerah.
"Waktu itu kalau aku tidak cepat menembak pistolnya, aku yakin Inshira atau kau akan kena, karena tangannya tremor, pistol mengarah ke kalian berdua." sambung Alexa.
"Aku akan membunuhmu jika papa sampai meninggal." ancam Alvaro.
"Alvaro kenapa aku dendam kepada Ady Mema, apa kau tidak ingin tahu? sepuluh tahun aku menunggu saat ini, apa kau tidak ingin tahu siapa yang membunuh papaku? kau kira dirimu hebat, kau adalah pecundang dan sampah!!" teriak Alexa marah, dia berdiri dan menendang jeruji sel.
"Kau juga murahan, kenapa kau memilih Honduras bukannya aku?"
"Karena aku memilih lelaki dewasa yang tidak ringan tangan kepada pasangannya, lelaki yang bisa melindungi ku siang dan malam." kilah Alexa.
"Sudah.. sudah...kalian kerjanya berantem melulu, kalau sudah bosan lebih baik pisah." Marchel menengahi.
"Aku akan menghukumnya tidak makan, tidak minum sampai dia tidak sempat melihat Matahari esok pagi."
"Aku tidak peduli, persertan dengan kau. Pergi dari sini, aku muak melihat kau." Alexa tidak bisa menahan marah dan sakit hatinya.
Mendengar isak tangis Alexa, Alvaro terdiam. Marchel berdiri memeluk gadis itu, tangannya menepuk pelan punggung Alexa.
"Sabarlah, semua akan baik-baik saja. Kau selalu emosi menghadapi Alvaro......"
__ADS_1
"BRUUGGSS...."
Belum selesai Marchel bicara kaki Alvaro sudah menendang bokong Marchel. Badan Marchel dan Alexa melayang menimpa kasur busa yang berada di lantai.
"Lagi kalian pelukan, pistol ini akan melayang ke jidat kalian. Marchel!!, turun kau suruh pelayan bawa peralatan mandi kesini."
"Baik Tuan." jawab Marchel memandang Alexa.
Sepeninggal Marchel mereka saling tidak bertegur sapa. Alexa bangun menyalakan lampu, kemudian duduk kembali.
"Alvaro, Inshira nyariin kau keliling, kita makan bersama. Ngapain kau disini bersama tawanan."
"Owh..rupanya kalian disini, sayang, ayo kita makan bersama." Inshira menarik tangan Alvaro.
"Kalian makan duluan, aku masih bicara dengan selirku." Alvaro menepis tangan Inshira.
"Apakah kau bicara tentang pernikahan kita. Kau tidak usah repot-repot karena dia tidak penting bagiku."
"Aku yakin ibumu keturunan pelakor, murahan, makanya anaknya tidak bisa melihat cowok nganggur. Tiap ada cowok langsung diajak tidur." ejek Inshira dengan sinis. Wajah Farida terlihat pucat, langsung kena mental mendengar hinaan Inshira.
"Tebakanmu benar, ibuku adalah pelakor yang tega meninggalkan anaknya demi bajingan. Dia tega melihat anaknya di perkosa, dibunuh didepan matanya."
"Ada sebab ada akibat, setiap orang punya alasan untuk berbuat sesuatu demi kepentingan hidupnya."
"Benar ucapanmu Farida, aku punya kepentingan untuk membalaskan dendam ku demi orang-orang yang aku cintai."
"Kau hanya perempuan kampung yang tidak punya power, kau akan balas dendam kemana, khayalan kau terlalu tinggi. Makanya sekolah supaya otak kau jalan."
"Alvaro, Inshira kita turun makan, ini sudah telat. Kita sambil membahas pertunangan kalian. Tidak usah kita ladenin orang seperti itu, harusnya dia berterimakasih kita sudah ķai kesempatan untuk hidup." kata Farida menarik tangan Alvaro dan Inshira.
Alexa tidak begitu terpengaruh oleh sikap mereka, merendahkan orang memang sudah biasa bagi manusia yang hidup dari hasil membunuh. Dia semakin benci melihat Farida yang malu berpihak padanya dan malu mengakui siapa dirinya.
Buat apa mencintai orang yang tidak mencintai kita, lebih baik berdiam diri daripada tambah sakit. Alexa harus bisa melawan rasa cemburu jika Alvaro bertunangan dengan Inshira atau dengan siapapun.
__ADS_1
Mereka orang yang tidak pantas dijadikan tempat berlindung, lagi pula Alexa sendiri tidak boleh menikah dan punya anak karena masih ikatan dinas.
Farida berjalan dengan gontai, langkah kakinya mengikuti irama otaknya yang semakin hari semakin menumpul. Dia tidak smart seperti dulu, banyak masalah yang harus dia tuntaskan, salah satunya adalah keberadaan Alexa.
Alexa adalah kesayangan Alvaro, dia datang diajak Alvaro tuk minta restu menikah, jika Alexa tiba-tiba Farida bunuh dengan racun tikus, takutnya Alexa tahu seperti kejadian Hondura tapi jika menyuruh pengawal lebih berbahaya lagi, karena Alvaro adalah bos mafia disini, hanya perintahnya yang ditaati.
Farida bingung untuk melenyapkan Alexa. Dia tidak ingin masa lalunya terungkap di depan keluarga Ady Mema. Semenjak Ady Mema dapat musibah, mereka kerap datang untuk menjenguk suaminya di klinik. Mereka sudah tahu Ady Mema tidak mungkin bisa di selamatkan.
"Alvaro, Inshira kalian makanlah dulu mama tinggalkan kalian berdua."
"Ya maa....." jawab Inshira. Dia menyuruh pelayan menyiapkan makan malam.
"Tunggu aku disini, aku mau cari Marchel." Alvaro berdiri, tanpa menunggu jawaban Inshira dia pergi.
"Oke, jangan lama-lama." sahut Inshira mengambang karena Alvaro sudah hilang.
Alvaro buru-buru mencari Marchel dia menemukan Marchel bersama pengawal yang lain.
"Chel, kau beri makan Alexa, aku lupa dia belum makan."
"Kasi burger saja, nanti dilihat oleh nyonya Farida malah ribut jadinya." pungkas Marchel.
"Terserah kau mau kasi apa yang penting dia makan."
"Siap Tuan." sahut Marchel beranjak dari hadapan Alvaro.
Marchel pergi ke coffee shop yang ada di sebelah mini bar. Karena jam makan malam pelayan biasa tidak ada, mereka pasti makan, lagian coffee shop kalau malam agak sepi.
Marchel mengambil burger, dan roti bakar, pastry bakery dan air mineral dia bungkus pakai koran. Dia naik ke lift lantai tiga. Ruang sel Alexa ada di ujung. Jarang orang ke lantai tiga paling pelayan atau ada tamu yang menginap, lebih banyak di pakai sel penyekapan.
Kaki Marchel mendadak berhenti melangkah karena dia mendengar suara nyonya Farida sambil menangis.
,*****
__ADS_1