Cantiknya selir MAFIA

Cantiknya selir MAFIA
PASCA KEHILANGAN ALEXA


__ADS_3

Hari ketiga semenjak kepergian Alexa, Alvaro menggeliat bangun ketika hidungnya mencium aroma kopi panas. Matanya tertuju kepada sosok Marchel yang duduk sambil mendengarkan lagu melow.


"Ngapain kau chel, tumben dengerin lagu. Alexa gimana kabarnya?"


"Ada kejadian tadi malam, hampir Farida meninggal di tembak orang."


"Ada apa kenapa aku tidak di bangunin."


"Kau sudah mabuk tidak bisa di bangunin." kata Marchel menyesap kopinya.


"Mana kopiku, kepala pening..." kata Alvaro ikut duduk.


"Mandi dulu, nanti aku pesenin kopi lengkap dengan snack nya."


Semenjak Alvaro di tinggal Alexa tubuhnya terlihat semakin kurus dan jangkung. Dia tidak bergairah untuk pergi nge gym , ke Bar atau ke Club. Dia juga tidak ingin ke tempat bordil yang kira-kura bisa menghibur dirinya. Dia malah ingin melupakan Alexa dengan cara mabuk. Rasanya ada kepuasan kalau sudah minum. Dia membuang kesedihannya dengan cara minum.


Marchel sangat prihatin melihat keadaan Alvaro, dia tidak berdaya membuat Alvaro seperti dulu. Dia sendiri merasa kehilangan dan sedih tidak terbatas. Cuma dia membawa kesedihannya dengan menyibukkan diri. Dia ingin mengurangi pengawal, sekitar lima puluh orang, karena upah pengawal tidak terbayarkan.


"Jika ada kau semua pasti baik-baik saja. Sekarang pengawal sudah mulai tidak bisa bayar." tulis Marchel di lap top nya, dia seperti orang gila bicara sendiri.


Lelah mengeluh di depan lap top, Marchel keluar. Hari ini sangat panas, cuacanya tidak bersahabat. Kadang panas membara, kadang mendadak hujan. Mungkin ini yang namanya hujan salah musim. Semua pengawal, dan penghuni rumah tidak berani keluar karena peristiwa yang terjadi tempo hari.


"Ngapain kau di luar?" tanya Alvaro mendekati Marchel yang gelisah.


"Gabut! ingat Alexa."


"Kembali ke ruang kerja, kita sambil minum kopi. Selesai minum kita jalan-jalan keliling kota."


"Ceritaku tadi belum tuntas, aku mau kanjutin sekarang." kata Marchel bersemangat.


"Tentang apa, jangan cerita yang berat, otakku belum refresh."


Marchel akhirnya bercerita dengan gaya bertutur. Bagaimana jahatnya Farida dengan Alexa. Hampir Farida meninggal gara-gara Gedeon yang marah dan mau menembaknya.


Alvaro sesekali menarik nafas ketika nendengar masalah itu. Baru dia merasa kalau Farida egois dan tidak punya rasa empaty.


"Semua uang kau diambil?" tanya Alvaro sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Satu miliar. Kau tahu siapa yang menyelamatkan Farida dari Gedeon?"


"Mana aku tahu, yang disana kau."


"Alexa!!"


"Huhukk...yang benar?"


"Tidak tahu, tapi gaya menyerang lawan dan postur tubuhnya mirip Alexa."


"Siapa tahu Alexa masih hidup, tidak mungkin orang lain yang mau menyelamatkan Farida. Dia gadis yang baik, pengertian, cantik manis mempesona, semuanya yang baik ada di diri Alexa."


"Eleehh...biasanya kau maki-maki Alexa, sekarang merindukannya."


"Itu namanya cinta sejati, sulit di lupakan sampai mati."


"Ayo kita cari dia, aku yakin dia masih hidup." kata Alvaro berdiri, dia tampak bersemangat.


"Kita tidak mungkin keluar, ada banyak temannya Gedeon mencari kita. Mungkin mau balas dendam."


"Tidak apa itu preman kampung, yang penting bisa bertemu Alexa. Kalau mereka mau perang kita ladeni."


"Astaga, sampai parah begitu, terus bagaimana sekarang, kita bisa mati kelaparan. Tidak bisa terus menerus memberi upah dan makan. Coba kau hitung kira-kira berapa duit yang kita harus keluarin bulan ini. Kalau bisa tunggakan pajak juga di total. Betul-betul kiamat!"


"Uang perusahan Alvaro Derek dulu di pakai, masalahnya waktu ini Alexa yang menangani, jadi aku tidak ikut campur. Aku tidak tahu Alexa akan hilang, tahu begini aku yang belajar menangani semuanya."


"Coba lihat di lap top apa saja yang dibuat Alexa, pasti ada rinciannya."


"Kalau ada, aku pasti tidak putus asa begini. Waktu itu Alexa membuat perkiraan yang akan terjadi setelah Ady Mema bangkrut." kata Marchel putus asa.


Dengan malas Marchel membuka lap topnya. Dia tercengang melihat layar lap top yang penuh dengan tulisan. Matanya membulat ketika membaca tulisan di layar lap top yang berisi rincian pendapatan perusahan Alfredo, lengkap dengan saldo terakhir dan pajak yang harus dibayar.


Disitu ditulis perusahan akan di jual ke orang lain karena Ramos tidak melanjutkan pembayaran dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Uang muka atau Down Payment senilai dua miliar akan hangus.


"Horee....kita akan selamat, perusahan Alfredo sudah kembali lagi dan kita bisa menjual ke orang lain." Marchel mengangkat ke dua tangannya. Dia sangat gembira.


Alvaro ikut berdiri dan menghampiri Marchel. Dia bingung melihat tingkah Marchel yang mendadak euphoria.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Alvaro melihat ke lap top. Matanya langsung bersinar melihat kenyataan itu.


"Kapan Alexa membuat ini?" tanya Alvaro seolah mendapat harapan baru untuk menghidupi pengawal.


"Mungkin sudah dulu disimpan oleh Alexa, tapi baru up date. Syukurlah. Ini cuma pernyataan terus mana uangnya?"


"Hahaha....jangan-jangan Alexa menipu supaya kita senang." Alvaro tertawa ngakak.


"Aish...ada lagi lanjutannya. Marchel cepat membaca. Alvaro tidak mau kalah, lap top di putar menghadap kepadanya. Marchel terpaksa berdiri supaya bisa membaca.


Intinya tulisan itu mengharapkan supaya Alvaro bisa memanage pekerjaan yang ada di Mansion. Memangkas upah pengawal, bila perlu pengawal di PHK sebanyak mungkin, karena sudah tidak ada perusahan yang perlu tenaganya.


Yang terakhir uang akan dikirim melalui rekening Alvaro, sebanyak lima miliar, untuk membayar gaji pengawal dan pesangon.


"Ini tulisan lama apa baru?" tanya Alvaro tersenyum garing.


"Tulisan lama, tapi baru muncul." ucap Marchel tidak bersemangat.


Mereka tertawa dengan wajah sedih orang yang mau menyelamatkan penghuni Mansion sudah tiada, ntah sudah mati atau hidup.


"Bagaimana kalau kita cek saldo?" saran Marchel.


"Belum berani keluar karena ada anak buah Ramos dimana-mana."


"Siapa sebenarnya Ramos?" tanya Alvaro ingin tahu, dia penasaran sekali dengan nama itu. Apalagi dikaitkan dengan Alexa, membuat Alvaro meradang.


"Dia hanya anak buah Ramos yang sangat di percaya di keluarganya."


"Mari kita keluar, aku tidak takut dengan mereka." desak Alvaro, dia berharap bisa bertemu dengan Alexa. Alvaro tidak yakin kalau Alexa sudah mati.


"Aku panggil pengawal dulu supaya bersiap, dua puluh pengawal sudah cukup." ucap Marchel keluar.


Alvaro kembali membuka lap top dan membaca dari atas dimana Marchel menulis keluhannya. Alvaro sadar ini adalah balasan Alexa. Dia langsung menulis,


"Alexa sayank, aku mencintaimu, jika kau masih hidup aku tidak mungkin sengsara begini. Perusahan Alfredo tidak jelas dan kini kami akan mati kelaparan karena aku baru tahu akar permasalahannya." tulis Alvaro. Dia Mau tahu apa ada balasan atau tidak.


"Kau adalah sosok yang membuat aku menggila, jiwaku menjadi liar saat kau menggumuliku. Kau telah mengajarkan aku tentang indahnya malam dan manisnya cinta. Jika kini aku berlalu bukan karena aku tidak cinta padamu, tapi karena aku menghargai diriku." ALEXA!!.

__ADS_1


*****


__ADS_2