
Marchel dan empat pengawal inti agak kewalahan menjaga Alvaro, dia sangat terobsesi kepada Alexa. Di hari kedua Alvaro mulai agak tenang walaupun kesedihannya tidak berkurang.
Perlahan Marchel mulai menasehati Alvaro dengan hati-hati, membujuk dan menawarkan untuk mencari pendamping baru atau pergi ke club besar yang ada di kota .
"Aku tidak ingin apapun, aku hanya ingin Alexa. Aku menyesal tidak membunuh Farida, dia begitu egois dan menguasai hidupku."
"Tuan semua telah terjadi, ini adalah pelajaran buat kita semua. Di saat Alexa disini kau terlalu menghina, mengejek, menzalimi dan tidak pernah percaya padanya, kau terlalu menyakiti hatinya. Biarkan dia pergi dengan tenang, itu nasib yang harus dia terima. Dia diculik atau mungkin sudah dibunuh...." Marchel tidak bisa menahan tangisnya, dia sangat sedih.
"Aku banyak salah padanya, aku manusia tidak berguna, egois..." kata Alvaro sedih.
"Tuan, kita tidak bisa melanjutkan penyelidikan ke perusahan Alfredo karena Alexa tidak ada. Sedangkan data yang tersimpan lenyap. Aku tidak mengerti sejauh ini, selama ini yang membantu kita adalah Alexa."
"Kita mencari orang yang mengerti tentang ini." sahut Alvaro sambil menghapus air matanya dengan tissue.
"Sangat riskan Tuan, uang yang ada ratusan miliar, banyak sekali Tuan, bisa lenyap jika kita menyuruh orang lain."
"Kita coba saja, siapa tahu ada yang jujur. Masalahnya tidak ada uang sama sekali. Mama banyak hutang, aku bingung juga."
"Tookk...tookk...tookk.."
Marchel menyeret kakinya ke pintu, dia membuka pintu dan kaget saat melihat ada nyonya Farida. Marchel cepat keluar dan menarik nyonya Farida ke ruang tamu.
"Ada apa nyonya, Alvaro lagi marah besar jangan nyonya muncul dulu, nanti nyonya dibunuh."
"Marchel tolong aku, Gedeon mau membunuhku jika aku tidak bisa mengembalikan uang lima miliar."
"Maksud nyonya apa aku tidak mengerti, apa yang nyonya lakukan dengan Gedeon, dan siapa Gedeon."
Dengan terbata-bata dan menangis nyonya Farida mengakui bahwa Alexa dijual kepada seseorang yang bernama Gedeon. Alasan Gedeon mencari Kussy, karena Kussy telah membunuh bos mereka.
Belakangan Gedeon marah karena yang dia tangkap bukan Kussy namun Alexa. Nyonya Farida disuruh mengembali kan uangnya dan mau dibunuh.
"Mana uang orang itu nyonya?"
"Sudah habis untuk bayar hutang."
__ADS_1
"Astaga, kalau Tuan Alvaro tahu masalah ini, nyonya pasti dibunuh. Nyonya harusnya terus terang apa yang terjadi, dimana hutang nyonya dan berapa jumlahnya."
"Bagaimana ini Chel...aku takut, di suruh mengembalikan uangnya." keluh nyonya Farida ketakutan.
"Nyonya, aku juga tidak punya uang sebanyak itu, kecuali Alvaro dan Alexa. Tapi Tuan sedang marah dan Alexa mungkin sudah mati, jadi aku tidak tahu caranya kecuali nyonya menyerahkan diri. Nanti aku tolong satu miliar, itu uang tabunganku."
"Trimakasih Chel, semoga dia mau satu miliar dulu. Bulan depan aku minta sama Alvaro."
Nyonya Farida duduk lesu di sofa, air matanya membanjir. Dia terus dibujuk oleh Marchel, akhirnya dia bersedia bertemu dengan Gedeon nanti malam. Tempatnya di sebelah klinik, agak sepi dan gelap, supaya pertemuan ini tidak diketahui Alvaro dan pengawal.
"Tolong jangan dikasitahu Alvaro, aku takut. Nanti aku minta tolong pada kau untuk menemani. Semoga Gedeon mau mengerti dan uangnya bisa dicicil."
Marchel memberi nyonya Farida cek dengan nominal satu miliar, setelah itu dia kembali menuju ruang kerja menemui Alvaro. Tampak Alvaro mulai menuangkan Red Wine dan menyesapnya pelan. Dari kemarin Alvaro minum-minum.
"Siapa tadi?" tanya Alvaro. Matanya memandang kosong jauh kedepan.
"Orang minta uang." Jawab Marchel pendek. Dia ikut mengambil gelas bertangkai dan menuangkan sedikit Red Wine.
"Hemm...mereka pengemis semua."
"Aku menyesal datang ke pulau ini, disamping kehilangan Alexa aku juga harus mengeluarkan uang lebih untuk biaya hidup orang disini. Jika tidak memberi uang mereka tidak bisa makan, karena tidak ada biaya dari perusahan Ady Mema. Malahan yang ada utang menumpuk. Kalau di total bisa lima puluh miliar. Kecuali uang dari perusahan Alfredo, baru bisa menutupi hutang."
"Kalau disini tidak diurus dan di perbaiki, kita nanti bisa lama pulang. Nyonya Farida sudah semakin tua, tidak mungkin dia akan terus hidup, seharusnya kita jual semua aset yang ada, jadi kita fokus dengan satu perusahan Alvaro Derek saja."
"Aku ingin Alexa ada disini, tidak yang lain. Terserah kau bicara apa aku sudah bosan dengan gayamu."
"Tuan sudah mabuk berhenti minum."
"Aku akan berhenti jika Alexa ada di sisiku. Menikah denganku."
Alvaro mulai pusing, Marchel tidak bicara lagi karena tidak berguna Alvaro diajak ngobrol. Biasanya ada Alexa yang bisa diajak timbang rasa. Dia bingung dengan keadaan ini. Kalau di Perusahan Derek banyak ada karyawan yang menangani perusahan, tapi disini hanya ada pengawal yang tersisa.
Matahari sudah condong ke Barat, Alexa masih berkutat di ruang kerjanya Ramos. Banyak penemuan baru yang mencengangkan dari perusahan Ramos. Orang-orang yang terlibat di dalam penggelapan dan korupsi tercatat detail di notes Ramos. Mungkin ini yang disebut tikus berdasi.
Alexa akan membatalkan perjanjian jual beli gedungnya Alfredo dengan Ramos. Supaya tidak terlalu ribet dan bermasalah. Uangnya akan di kembalikan kepada nyonya besar. Itu baru rencana.
__ADS_1
"Nona ditunggu oleh nyonya besar, kata nyonya, nona tidak usah terlalu ngoyo kerja nanti sakit." seorang pelayan datang menghampiri Alexa.
"Sebentar aku datang."
Alexa menutup lap top mematikan lampu dan mengunci pintu. Ketika dia keluar terdengar suara dua orang laki-laki sedang ngobrol di lorong. Alexa kepo memperlambat jalannya. Salah satu laki-laki itu adalah Gedeon.
"Aku sendiri kesana." kata Gedeon.
"Kita naik motor saja supaya cepat, habis dia bayar kita bunuh orangnya. Katakan pada nyonya besar dia tidak bayar, uangnya bisa masuk kantong."
"Ide yang bagus. Kita jalan jam tujuh malam habis makan malam."
"Siap bos..."
Alexa melanjutkan langkah menuju kamarnya. Dia akan mandi capung supaya bisa menyusun rencana. Alexa memakai baju tidur baby doll supaya gampang menaruh senjata. Baju ini bekas baju nyonya besar, dia sendiri tidak ada baju.
"Malam nyonya, saya izin mau keluar sebentar. Pulangnya saya makan." kata Alexa sopan.
"Untuk apa keluar?" tanya nyonya besar curiga.
"Ada yang saya mau beli nyonya."
"Kamu sudah ada uang?"
"Sudah nyonya, saya akan naik taxi tidak usah diantar." kata Alexa.
Setelah Alexa pergi nyonya besar memanggil Scuritynya, pak Roger untuk mengikuti Alexa.
"Roger ikuti Alexa, kita tidak tahu sifat orang, kau naik motor saja." perintah nyonya besar.
"Siap nyonya." jawab Roger sopan.
Alexa naik taxi mau ke apotek dulu, setelah itu baru dia akan ke tempat lain. Dia tahu di ikuti oleh Scuritynya, wajar nyonya besar belum percaya padanya, karena dia orang baru.
"Pak sopir tunggu saya disini, ini ongkosnya." kata Alexa memberi uang.
__ADS_1
"Trimasuh nona."
*****