
Ketika mereka berada di ruang tengah, Farida dan yang lainnya heran kenapa Alexa tidak di tahan.
"Kenapa balik pulang?" Farida tidak terlihat senang. Mereka bertiga saling pandang.
"Karena dia tidak bersalah." kata Alvaro membuat mulut ketiganya ternganga. Puas hati Alvaro membuat ke tiganya kecewa berat.
Padahal Alvaro tadi jelas mendengar bahwa Alexa bilang tukar kepala, berarti Alexa yang membunuh dan membeli orang untuk menggantikan dirinya di penjara. Semacam itulah, ini sering terjadi dalam transaksi narkoba. Biasanya tidak masalah kalau yang dibunuh membuat rakyat menderita, but, who is Alexa??
Alexa berdiri, dia tidak mau duduk bareng dengan kelompok Farida, dia memilih pergi dari sana menuju kamarnya. Mereka kelompok yang tidak patut diajak berteman. bathin Alexa.
Sampai di kamar Alexa mengunci pintu dan membuka holster di paha meletakkan pistol dan pisau di atas nakas. Dia duduk sambil membuka lap top, googling tentang gangster berdasi yang dia bunuh.
Dia melihat seberapa besar naik turunnya grafik dan pengaruh saham dalam perdagangan lintas negara. Tapi belum terdeteksi, mungkin Black market tidak terpengaruh dengan hilangnya gangster satu ini.
Alexa menutup lap top nya dan menghapus riwayat pencariannya. Dia membersihkan badannya dan tidur. Namun dia gelisah, diam-diam dia ingin melihat Ady Mema di Klinik.
Pukul 01.45 dini hari, Alexa keluar lewat jendela belakang. Suasana sepi, saatnya orang tidur nyenyak. Alexa berjingkat menuju Klinik. Ada dua orang penjaga sedang duduk sambil menguap. Tidak seperti sarang mafia yang sering dia satroni, disini penjagaannya agak kendor dan strategi perangnya lemah. Bisa jadi karena Ady Mema diujung maut, sehingga figur seorang pemimpin hilang di otak mereka. Sedangkan Alvaro
Kenapa orang berjaga sedikit? orang sekaliber Ady Mema dijaga hanya dua orang. Alexa mendekati penjaga yang satu dengan dengan harapan dapat penjelasan.
"Aku hampir ketiduran, apa mereka sudah selesai di dalam?"
Alexa memberi isyarat supaya menunggu, dia lalu masuk ke dalam dengan berjingkat. Tapi dia tidak bisa masuk ke Sal Ady Mema karena di kunci dari dalam.
Alexa mengintip dari door viewer. Ternyata tidak ada pasien disana, tapi nanti dulu seseorang yang tidak begitu mirip, menggantikan Ady Mema. Orang itu diangkat dari peti dan sekarang terbaring dengan beberapa jarum menusuk badannya. Apa artinya ini?
Alexa menjauh dan bersembunyi di ruangan lain yang gelap. Kemana Ady Mema? apakah Alvaro yang punya ide untuk menakuti lawan atau ini pekerjaan Farida?
Terdengar suara ribut seseorang dan pertengkaran, tapi kemudian diam. Sepi. Alexa lalu keluar dan kembali mengintip, rupanya sudah semua pergi. Tinggal orang itu saja.
Alexa kembali ke kamarnya dengan cepat, dia tidak menyadari sepasang mata mengikuti gerak geriknya. Sampai dikamar alrm jam tangannya bergetar, berarti ada orang yang mendekati kamarnya.
Dia cepat mengambil pistolnya dan mematikan lampu. Alexa berdiri dibalik pintu saat orang itu masuk dengan kunci ganda. Dia mungkin ingin langsung membunuh Alexa, baru masuk kamar, dia langsung membrondong tempat tidur.
"Dubbzz..." Alexa menembak dari belakang. Orangnya roboh, Alexa berjingkat di balik sofa karena mendengar suara di luar.
"Langsung masukin karung supaya Tuan tidak tahu dia sudah mati." kata salah satu dari mereka. Pintu dibuka mereka masuk, sebelum sempat menutup pintu,
__ADS_1
"Dubbzz...Dubbzz..." kembali pistol Alexa merenggut nyawa. Tiga orang roboh di jam dua dini hari. Alexa memencet intercom untuk Marchel dan Alvaro. Dia menyalakan lampu, ternyata tiga orang ini pengawal.
"Ada apa ini?" tanya mereka hampir
berbarengan.
"Mereka ingin membunuhku." kata Alexa menunjuk bantal, selimut yang bolong.
"Siapa ini pelakunya." tanya Marchel dengan geram.
"Kau hubungi Inshira tutup mulut pakai tissue, katakan Alexa sudah mati. Kau lihat nanti reaksinya." kata Alexa menarik tubuh pengawal dan menutup pintu.
Marchel memencet intercom ke kamar Inshira, tidak menunggu lama Inshira sudah mengangkat.
"Nona....."
"Gimana sudah beres?" tanya Inshira senang. Dia terdengar terkekeh.
"Beres!" jawab Marchel. Setelah itu mereka sembunyi dibalik sofa dan lampu kamar dimatikan, hanya lampu tidur menyala.
Tidak berapa lama pintu perlahan terbuka. Pertama terlihat Inshira, Farida dan nyonya Rodrigo. Mereka terlihat bingung.
"Astaga, mama kaget. Kau ngapain disitu?"
"Nungguin mama membunuh Alexa." kata Alvaro menatap Farida.
"Tapi itu bukan ide mama, Inshira yang punya ide."
"Farida, ini juga idemu, jangan nyalahin Inshira saja." bentak nyonya Rodrigo mendorong nyonya Farida.
"Mauren, kau juga biang keroknya, kita semua andil." Nyonya Farida saling dorong.
"Kalian ini mau apa, sudah tua berantem. Kita semua ingin Alexa mati, mengerti." teriak Inshira kesal.
"Berarti kalian otak pembunuhan, aku akan melaporkan semuanya ke polisi." Marchel berkata serius sambil memandang mereka bertiga.
"Marchel jangan kau banyak tingkah, kau melaporkan istri ady Mema, kau mau dibunuh Alvaro?"
__ADS_1
"Mama Stop bertingkah aneh-aneh, Alexa adalah selirku, sepanjang ini dia banyak membantu kita, dia tidak cerita. Mama kalau dikasitahu juga tidak akan mengerti, yang jelas stop berpikiran buruk kalau masih ingin hidup." Alvaro berkata menohok.
"Nyonya Farida sepandai-pandainya menutup bangkai pasti akan tercium baunya. Ketahuilah gemerlapnya dunia hitam akan kalah dengan setitik sinar mentari. Jangan bangga merasa kaya kalau modal menjadi kaya, dengan cara melenyapkan keluarga." sindir Marchel membuat nyonya Farida keluar dari kamar. Dia gerah mendengar perkataan Marchel yang menusuk hatinya.
Inshira dan Nyonya Rodrigo juga ikut keluar dengan muka merah karena ketahuan belangnya.
Alvaro memencet intercom serta memanggil pengawal dan pelayan untuk membersihkan mayat yang ada di kamar.
"Kita minum, aku merasa mual." kata Marchel menuju mini bar yang berada di samping kolam renang.
"Aku sebenarnya sudah ngantuk, banyak hal yang terjadi hari ini yang membuat aku mau muntah."
"Jangan-jangan kau hamil." seloroh Alvaro sambil menarik Alexa ke pelukannya.
"Iss...amit-amit jangan dulu deh, aku mau hamil kalau punya suami baik, tanggung jawab, bekerja halal, tidak ganteng juga tidak apa-apa yang penting nyaman."
"Aku banget itu Alexa, aku pangeran gangster yang sudah ada di depan mata kau."
"Jangan mimpi Chel, cinta Alexa hanya untukku." protes Alvaro.
Marchel menuju kulkas mengambil sebotol Martini. Alexa mengambil sloki bukan gelas berkaki.
"Kalian boleh minum satu sloki tidak boleh nambah. Musuh ada dalam selimut tidak boleh lengah, kita hanya membasahi tenggorokan." ucap Alexa tegas.
"Alexa benar, kita kembali ke kamar, ini sudah pagi." kata Alvaro menarik Alexa kepelukannya.
"Alexa sampai dikamar kau tidurlah jangan mau meladeni buaya." kata Marchel cemburu.
"Siap bos, bila perlu aku tendang Tuan ke laut biar tahu rasa." sahut Alexa.
Alvaro mengajak Alexa masuk ke kamarnya, dia tidak peduli dengan Farida yang melarang memasukkan Alexa.
"Aku akan langsung tidur." kata Alexa melempar tubuhnya ke atas tempat tidur.
"Kau yakin akan melewatkan sorga dunia, aku akan mengajak kau terbang ke awang-awang."
"Aku ngantuk!"
__ADS_1
*****