
Mencari makanan di Bandara butuh uang lebih karena harganya lebih mahal. Alexa mencari ATM dan mengambil beberapa uang dari chip implant nya.
Dia berpikir mau kemana sekarang kalau dia ke Hotel akan ketemu Ramos. Kalau dia ke rumah Farida akan membuat kegaduhan, Farida akan kaget, bukankah Farida yang menyuruh orang menculiknya.
Atau dia bersembunyi di kamar lain, misalnya di lantai tiga yang kosong. Bukankah banyak kamar kosong. pikir Alexa beranjak menuju Solaria.
Sampai di Solaria Alexa memesan makan dan minum.
Matanya mendadak terpaku ketika melihat di layar televisi bahwa terjadi kebakaran hebat di lokalisasi bamboo hut. Di sinyalir api berasal dari rumah bordilnya Farida menjalar menghanguskan bengkel, Losmen, tempat kost, warung, salon, dan banyak lagi.
Alexa menarik nafas, apakah Farida mengira dia sudah mati terbakar. Sungguh kejam kau ibu!! rintih Alexa dalam hati. Air matanya bergulir jatuh. Sakit hatinya. Setiap dia mau menembak mati Farida, dia merasa tidak sanggup. Betapapun bencinya kepada Farida, tangannya tidak kuasa menarik pelatuk pistol.
Setelah lama berpikir akhirnya Alexa memutuskan untuk menginap di hotel saja. Sebelumnya dia akan membeli ponsel dulu supaya bisa berkomunikasi.
Selesai membayar tagihan di solaria dia berjalan mencari taxi ke tempat parkir Bandara.
"Taxi nona...." Seorang bapak datang menyongsongnya.
"Saya mencari hotel bintang lima di tengah kota."
"Ada nona, saya akan antarkan sampai di tujuan." kata sopir taksi itu sopan.
"Trimakasih pak."
Mobil taksi itu berjalan dengan tenang. Pak sopir terlihat menguap. Sudah malam juga, Alexa juga lelah dan ngantuk.
Pukul 01.45 malam Alexa baru saja sampai di Hotel Fulmanio bintang lima. Hotel ini terlihat sangat mewah dan mahal. Setelah membayar taxi Alexa berjalan menuju lobby hotel ketempat resepsionis.
"Selamat malam nona, trimakasih telah memilih hotel Fulmania untuk beristirahat."
"Aku ingin yang suite."
"Masih ada satu yang kosong, lantai dua." ucap F.O sopan.
"Aku ambil itu." kata Alexa.
Alexa check in. Dia diantar ke kamar suite. Pertama yang di lakukannya setelah berada di ruang tamu kamar suite, adalah merebahkan tubuhnya di sofa panjang. Lega rasanya, dia menarik nafas panjang membuang dengan kasar.
__ADS_1
Dia mengaktifkan ponselnya dan menelpon Marchel.
"Hallo...kaukah ini Alexa, Alvaro hampir gila mencari kau. Pulanglah besok dia harus menikah."
"Buat apa pulang, biar dia menikah. Apakah Tuan Ady Mema sudah di kebumikan?"
"Tuan sudah di kebumikan tadi pagi."
"Owh...aku tidak bisa kesana, malam ini aku lelah sekali mau istirahat, besok kau boleh kesini kalau mau."
"Aku besok kesana, passwordnya berapa dan hotel apa."
Alexa menutup ponselnya setelah memberi penjelasan kepada Marchel, dia bangun dan masuk ke kamar. Satu persatu senjata yang menempel di tubuhnya di simpan dengan aman di atas nakas. Setelah itu dia menuju kamar mandi mengguyur badannya dengan air hangat.
Mandi air hangat membuat badan terasa segar, Alexa memakai piyama yang sudah disediakan oleh pihak hotel. Setelah menguap beberapa kali Alexa tertidur.
Mendapat kabar mengejutkan dari Alexa membuat Marchel melangkah menuju kamar Alvaro. Dia sangat antusias dan senang.
"Tookk..tookk..tookk..."
"Ada apa Chel malam-malam, kau gila apa, aku baru saja bisa tidur." semprot Alvaro kesal sambil membuka pintu.
"Masih hidup, dimana dia?"
"Aku kesana atau kau, kalau kita berdua kesana aku tidak mau. Aku tidak mau mendengar ******* mesum kau dengan Alexa."
"Kita berdua kesana. Aku tidak bakalan begituan, aku masih marah sama Alexa yang tiba-tiba hilang dan Ramos itu siapa."
"Elehh...aku tidak percaya, setelah ketemu kau lupa daratan. Atau kau ngalah saja, Alexa aku yang nikahin aku sangat menyayanginya."
"Ngomong lagi sekali, peluru ini bisa menembus jantung kau."
"Serakah! sudah di kasih sepuluh wanita. Lebih baik kau menikah dengan mereka."
"Kau saja yang ambil sepuluh wanita aku ogah. Kirim alamat Alexa." kata Alvaro setengah berlari ke tempat parkir. Marchel terpaksa balik lagi ke kamarnya dengan kecewa.
Mencari orang ke Hotel bukan perkara mudah karena ada scurity yang menghadang. Terpaksa Alvaro mengeluarkan kartu sakti atas nama Ady Mema yang konon di takuti di provinsi ini. Dan perjalanannya menjadi mulus.
__ADS_1
Akhirnya Alvaro berada di depan kamar suite Alexa. Dengan hati-hati dia membuka pintu pakai password, ketika baru masuk ruangan Alvaro sudah dihadang Bar mini lengkap dengan minuman keras dan ringan di kulkas.
Ada kichen dan peralatan masak, serta meja makan. lalu ruang tamu beserta televisi, sungguh mewah. Dua kamar berjejer, yang satu menghadap kolam renang langsung laut, yang satu langsung bathtub air panas dingin.
Alvaro balik ke mini bar menyambar air mineral yang tersedia di atas kulkas, dan meneguknya habis. Dia tersenyum senang kembali menuju kamar. Perlahan dia membuka pintu masuk ke kamar Alexa. Untung tidak di kunci. Dia kaget tiba-tiba pisau terbang melayang nyaris kepalanya bolong, pisau menempel di pintu.
"Ini aku, stop!!" teriak Alvaro kaget.
"Ketuk pintu kalau masuk." kata Alexa masih rebahan.
"Kau jangan biasa begitu, aku bisa mati. Coba tadi kalau kena."
"Tidak bakalan kena, aku terlatih. Makanya jangan datang mengendap seperti maling dan ketuk pintu."
"Yach ...aku yang salah." kata Alvaro menubruk Alexa. Dia langsung memeluk dan menciumi wajah gadis itu dengan rakus.
"Aku kangen sekali....." kata Alvaro mencium binir Alexa dengan lembut.
"Sudah punya sepuluh istri apa kurang?"
"Aku tidak mau, kata mama besok nikah tapi aku tidak mau pulang. Terserah dia, capek sama mama. Aku maunya sama kau...kau...kau."
"Gombal!! aku merasa kau sudah mencicipi satu persatu wanita itu."
"Sumpah langit dan bumi, aku belum mencoba mereka, aku takut karena kau mengatakan mereka wanita bordil. Ngerilah kalau ada penyakit."
"Ya sudah kalau begitu, kau tidur sajalah, aku sangat lelah dan juga mengantuk."
"Kau tidak rindu padaku, tidak cinta padaku?" tanya Alvaro membuka tali piyama Alexa. Tangannya mulai usil berselancar mencari gundukan yang bisa di remaja. Ahh...Alvaro.
"Tidak....." jawab Alexa pendek.
"Oke...."
Badan Alvaro langsung menindih tubuh Alexa yang sudah terbuka. Alvaro mulai mencium bibir Alexa dengan gairah yang membara. Lalu bibirnya turun menyentuh gunung kembarnya, Alexa menggelinjang geli. Hasratnya ikut berkobar-kobar. Apalagi dia merasa pusaka Alvaro menyeruduk menekan dibawah. Alexa berdesah ketika benda itu memasuki intinya. Alvaro begitu tergesa-gesa menggenjot Alexa tanpa jeda.
"Kau puas...." bisik Alvaro sambil mengatur nafas. Setelah itu Alexa mengambil alih dan menggoyang Alvaro. Sungguh permainan yang lama dan memabukkan. Mereka saling mengisi.
__ADS_1
"Love you sayang....." kata-kata itu terus meluncur dari bibir Alvaro. Betapa dia merasa puas dan sangat mencintai Alexa. Belum pernah dia merasa sebahagia ini.
****