Cantiknya selir MAFIA

Cantiknya selir MAFIA
DI VILLA


__ADS_3

Sebulan telah berlalu, Alexa semakin mencintai Alvaro dan begitu juga sebaliknya. Mereka hampir tidak pernah keluar dari Villa. Janji Alexa kepada Wakapolda untuk mencari pembunuh pramugari itu tidak bisa terealisasi. Alexa tidak mengatakan dia hamil, dia hanya menunda masih ada tugas lain, dan Wakapolda bisa memerintahkan Agent lain.


Suatu hari saat Alexa duduk di teras depan, tiba-tiba saja Farida lewat dengan Inshira. Alexa kaget dan dia cepat berdiri menghindar, sayang sekali nyonya Rodrigo yang ada di belakang melihat Alexa.


Dia tiba-tiba berhenti, matanya tajam mengamati Alexa. Terpaksa Alexa berjalan kedepan menyapa nyonya Rodrigo dengan sopan. Dia merasa nyonya Rodrigo lebih manusiawi daripada Farida atau Inshira.


"Selamat sore nyonya."


"Kaukah itu Alexa?" nyonya Rodrigo menyipitkan matanya. Dia berdiri di pembatas depan. Pintu Villa pendek dan terdiri dari pohon hias sebagai pagar. Jadi kalau kita di teras depan atau halaman terlihat jelas.


"Aku Alexa nyonya, anda mau kemana panas-panas begini, tidak pakai payung."


"Mau pulang, Villa kita ada paling ujung, nomer tiga dari sini, nomer dua dari sini Villa Farida. Berarti Villa ini diperuntukkan kau. Pantas paling bagus dan lebih luas." celoteh nyonya Farida membuat dada Alexa tiba-tiba meletup. Dia kesal dan kecewa merasa dibodohi oleh pria itu. Ternyata ini Villa Alvaro. Berarti hotelnya tidak jauh dari sini.


"Nyonya Farida di Villa, kirain sudah beli rumah mewah." Alexa berusaha kelihatan tenang. Dia ingin tahu juga kabar ibunya.


"Rumahnya di sewa bule, jadi dia di tampung disini. Uangnya sudah mau habis, tiap hari judi. Ini baru datang dari Las Vegas. Biasanya bersama Anahita dan berondong. Anahita yang banyak dapat uangnya."


"Ya ampun, tidak pernah berubah padahal sudah tua. Untung ada Alvaro yang menyayanginya."


"Sudah serakah pelit lagi, aku minta uangnya dia tidak pernah kasih. Paling uang kecil yang tidak berarti." gerutu nyonya Rodrigo geram.


"Silahkan mampir nyonya, kita ngobrol-ngobrol ringan." ajak Alexa.


Nyonya Rodrigo masuk dan duduk di teras depan. Kebetulan disini ada meja kursi tempat duduk-duduk. Biasanya sore hari Alexa dan Alvaro duduk disini sambil minum teh. Udara sejuk dan suasananya adem.


"Sudah lama kau disini?" tanya nyonya Rodrigo menatap Alexa.

__ADS_1


"Baru sebulan nyonya. Kami lama di Singapura."


"Pantas perabot belum banyak, di tempat Inshira semua barang modern ada. Alvaro sangat sayang kepada Inshira dan bayinya. Makan dan cemilan sampai menumpuk saking banyaknya. Kalau Alvaro kesana betah banget." kata nyonya Rodrigo memanasi Alexa.


Alexa tidak mengerti apa maunya nyonya Rodrigo berkata begitu, dia hanya tersenyum saja. Tentu saja dalam hatinya ada rasa dongkol, tapi dia tidak mau gegabah menunjukan kemarahannya di depan nyonya ini. Lagi pula dia belum tahu pasti cerita nyonya Rodrigo, benar atau bohong.


"Aku tidak senang banyak perabotan berada disini, disamping itu aku tidak senang masak, aku jarang dirumah."


"Kalau Inshira pintar masak, apa yang dibuat selalu Alvaro suka. Waktu ini Alvaro minta dibikinin kue kacang katanya mau dibawa ke kantor. Aku yakin dibawa kesini."


Yaelah, brengsek Alvaro. gerutu Alexa dalam hati. Ingin sekali dia mencekik pria itu, menendangnya.


"Alvaro memang banyak berubah, dia menjadi lembut dan menerima keadaan. Mungkin nyonya atau yang lain kecewa atas sikapnya, aku sendiri membiarkan dan mendukung supaya dia meninggalkan dunia hitam yang sedari kecil mengukung hidupnya."


"Aku yang biasa hidup dilingkungan mafia sangat kecewa ketika Alvaro koar-koar akan menjual asetnya dan berubah menjadi orang baik-baik. Pertama kami tidak percaya, setelah semua asetnya terjual baru kami marah dalam hati. Pekerjaan bagus ditinggal begitu saja, dan membeli hotel yang belum dia mengerti cara kerjanya. Sangat disayangkan sekali, ntah Alvaro dapat pengaruh buruk darimana sehingga nekat begini."


Alexa sendiri tidak begitu peduli terhadap kecaman nyonya Rodrigo terhadap Alvaro. Baginya nyonya Rodrigo akan selalu mengkritik dan tidak puas. Apalagi Inshira tidak dianggap oleh Alvaro, dia akan terus membela putrinya, itu hal yang wajar biarpun Inshira bersalah.


"Alexa apa kau sudah USG, sudah tahu jenis kelamin bayimu? Waktu ini Inshira diajak periksa ke dokter oleh Alvaro, kita sangat bahagia karena bayinya pewaris tahta yaitu cowok." tanya nyonya Rodrigo bangga.


"Selamat nyonya, aku belum USG, apapun hasilnya aku terima, semoga lahir lancar, sehat dan sempurna. Itu saja yang aku inginkan."


"Apa kau tidak pernah diantar ke RS atau dokter kandungan oleh Alvaro, kasihan dech. Kalau Inshira rutin diantar." kata nyonya Rodrigo heran.


"Semasih bisa mengurus diri sendiri aku malas minta bantuan orang. Apalagi Alvaro orangnya sibuk, aku tidak senang nyusahin orang. Aku biasa hidup mandiri jadi agak kagok kalau diantar kesana kesini, repot."


"Benar, aku baru ingat kau anaknya Farida, dibuang dari kecil. Wajah dan sifat kau sangat berbeda dengan Farida. Apa kau sayang dengan ibu yang membuang kau?"

__ADS_1


"Hem..ternyata Farida tidak malu mengakui aku anaknya. Masalah aku dan ibuku itu masalah pribadi yang pantang aku ceritakan. Jika aku ada komplik dengannya itu karena pandangan hidup kami berbeda. Aku hanya takut sama Tuhan, jika aku tidak membunuhnya itu karena aku takut Tuhan."


"Aku rasa kau patut membunuhnya karena dia jahat. Apa pekerjaan ayah kau dulu sehingga ibu kau bercerai?"


"Seorang kapten polisi pemberantas mafia." jawab Alexa datar.


"Owh pantaslah dibunuh oleh Ady Mema. Apa kau sekarang menjadi reserse yang memata-matai kami?"


"Kurang lebih begitu. Tapi tugasku sudah selesai untuk sementara waktu."


"Mungkin karena kau hamil, jadi kau diberhentikan. Sayang sekali." celetuk nyonya Rodrigo tersenyum penuh arti. Alexa tersenyum tidak ingin mengimbangi omongan wanita itu yang terus menyudutkannya.


"Dari tadi kita bicara saja, aku ambilkan minum dulu. Nyonya mau minum apa atau makan apa?"


"Aku ingin melihat dapur kau, isi apa saja." nyonya Rodrigo berdiri dan mengikuti Alexa ke dalam. Sampai di dapur dia membuka kulkas.


"Isi kulkasnya penuh, rupanya Alvaro pilih kasih. Makanan disini kualitas hotel, tapi perabotan hampir tidak ada. Buat apa makan mewah kalau tidak punya benda-benda mewah."


"Aku tidak senang banyak perabotan dan tidak akan di pakai. Makanan selalu beli. Lagipula aku tidak lama disini, setelah menikah kami pasti pindah."


"Pindah kemana, terus Inshira bagaimana?"


"Inshira tetap disini bersama nyonya karena dalam perjanjian setelah anak lahir Alvaro dan Inshira cerai."


Nyonya Rodrigo terdiam, dia kaget. Dengan wajah merah dia langsung pamit pulang. Alexa kasihan melihat wanita tua itu, tapi dia buang rasa itu, tidak pantas orang-orang seperti mereka dikasi hati. Biarlah mereka hidup sesuai keinginannya.


*****

__ADS_1


__ADS_2