
Matahari sudah condong ke Barat, Alexa merapikan tempat tidur yang berantakan. Bau badan Alvaro masih menempel di spray, bantal, selimut dan di kamar ini. Pria itu sukses membuatnya melenguh setiap saat. Dia merasa hatinya semakin hari berpihak kepada Alvaro, sesuatu yang dia takuti dan hindari selama ini.
Alexa buru-buru man'di dan berganti pakaian. Dia mencoba mengintip keluar lewat jendela, perasaannya tidak enak. Dadanya berdebar, dia berusaha menyingkirkan prasangka buruk terhadap Inshira. Waktu dia mengintip lewat gorden jendela, ada Inshira dan seorang pelayan wanita menunjuk ke kamarnya.
"Tookk...tookk...tookk.."
Alexa membuka pintu, Alvaro masuk tanpa permisi. Tangan kekarnya menggapai tubuh Alexa membawa kepelukannya. Bibirnya sudah ******* bibir Alexa. Ahh....rasa madu, manis!!.
"Iss..gak ada bosennya."
"Aku tidak akan pernah bosen dengan orang yang aku cintai."
"Ada apa kesini lagi?" tanya Alexa menatap Alvaro.
"Makan malam, kau harus biasa tampil untuk makan malam. Kini.kau selir kesayangan ku."
"Malas ah.. nasiku bisa gak masuk mulut, jika yang aku ajak makan wanita nyinyir semua."
"Ganti pakaianmu kita akan keluar." paksa Alvaro. Dengan malas Alexa berganti pakaian. Dia memilih gaun malam yang simpel dan sexy.
"Kau cantik sekali sayang." puji Alvaro dengan mata berbinar.
Mereka berdua keluar menuju ruang makan. Sudah ada meja makan oval yang berisi berapa menu makanan di atas meja putar atau dumb waiter.
Beberapa pasangan menatap Alexa yang bergandengan tangan dengan Alvaro. Mereka duduk dan bergosip tentang kehadiran Alexa di samping Alvaro sebagai selir. Mereka lebih condong menganggap remeh dan memandang sebelah mata kepada Alexa. Dari penampilan mereka Alexa mengerti dari mana asal mereka. Rata-rata wanita cantik terlihat glamour dan kaya.
Alvaro duduk berdampingan dengan Alexa, kemudian datang Farida, Inshira dan yang lainnya. Pakaian mereka wah dan berkilauan, hanya Alexa yang berdandan simpel.
"Hemm..siapa yang kau ajak Alvaro, tumben wanitamu berbanding terbalik dengan kami. Biasanya kau mengajak bangsa kita, apakah kau sudah berubah aliran?"
"Aku sudah semakin berumur, kini aku mulai menjauhi gemerlapnya panggung sandiwara yang biasanya kita ciptakan sendiri. Aku sekarang lebih realistis dan berusaha hidup sesuai kodrat, tidak ngoyo mencari uang, aku lebih memikirkan masa depan keluarga."
"Waduhh...Alvaro yang biasa garang seperti macan, mendadak hilang taringnya. Apa ini suatu pertanda bahwa kau bakal meninggalkan kaum mafia?"
"Alvaro lagi kena angin jahat Gladys omongannya ngawur semenjak dekat dengan anak setan, yang sok suci. Sebentar lagi aku nikahin Alvaro, dia akan berubah menjadi macan lagi." celetuk Inshira yang penampilannya gemerlap dan modis.
__ADS_1
"Yang benar Inshira, susah loh nundukin macan kumbang." bisik gadis di sebelahnya.
"Elehh...jangan remeh kan aku. Siapa sih pria yang tidak tunduk pada komolekanku."
"Aku salah satunya pria yang tidak tunduk pada komolekanmu, aku lebih senang mendulang berlian di lumpur daripada memungut kerikil di pinggir jalan." sindir Alvaro.
Mengena banget ucapan Alvaro membuat wajah Inshira memerah. Dia menatap Alexa dengan geram.
"Alexa kau tidak pantas duduk di samping Alvaro, kau hanya seorang selir murahan. Harusnya Inshira duduk disamping calon suaminya." perkataan nyonya Farida membuat semua orang terhenyak. Alexa berusaha tenang, walaupun dalam hatinya terluka.
"Mamaa...jangan ikut campur, Alexa adalah selirku yang aku cintai, jika nanti aku menikah dengan Inshira itu karena keinginan kalian. Jadi Stop merendahkan selirku."
Semua bungkem, Alvaro berdiri, dia menarik tangan Alexa mengajaknya keluar dari Mansion.
"Jangan kau ambil hati omongan Farida, dia selalu nyinyir kepada orang yang dia tidak suka. Biasanya dia selalu baik padaku, tumben dia tidak senang kepada Wanita ku. Mungkin karena kamu orang biasa."
"Semakin dia jahat aku semakin tega membunuhnya."
"Jangan berkata yang tidak-tidak, buang pikiran buruk itu. Dia adalah orang tua yang patut dikasihani, suaminya sedang sekarat dan tidak punya anak. Aku hanya anak tiri dan tidak bisa membuatnya bahagia karena aku memilih kau." kata Alvaro sambil memacu mobilnya. Inshira terdiam.
Satu mobil dan empat pengawal inti ada di belakang mereka. Biasanya Alvaro tidak senang berada di tempat umum karena banyak musuh tapi kali ini dia malah berani muncul padahal musuh mengintainya.
Salah satu pengawal terpaksa minta tolong ke Mansion untuk menambah pengawal baru lagi sepuluh orang.
Alvaro mengajak Alexa masuk ke restoran jepang, mereka memilih lantai dua yang suasana nya agak romantis. Alvaro memilih duduk di pinggir pojok, supaya tidak ada yang mengganggunya. Duduk disini bisa melihat ke bawah, ketempat parkiran dan jalan raya.
Tidak begitu banyak pengunjung malam ini, mungkin harga makanan disini lumayan mahal, karena sangat istimewa penyajiannya.
Alvaro menunda memesan makanan saat pengawal inti datang dengan berpura-pura menjadi pengunjung.
"Tuan, ada seorang pria komplain. Dia menuduh mobil kita menabrak mobilnya. Padahal mobil mereka
tidak lecet sama sekali."
"Pukul pengacau itu, tidak usah takut dengan satu orang."
__ADS_1
"Itu pimpinan gangster Tuan, dia mengajak pengawal juga, ada empat orang kalau tidak salah."
"Biar siapa tidak perlu takut." kata Alvaro lagi.
"Alvaro, kau naik mobil pengawal dan keluar dari restoran, aku yang akan meladeninya. Kalian jangan sampai baku tembak."
"Jangan Alexa, kau pikir diri kau hebat. Aku kenal manusia itu, musuh masyarakat."
"Jangan banyak mulut, pengawal suruh kasi dia uang berapa dia minta, setelah itu kau pulang." kata Alexa mengambil kunci yang di pegang Alvaro."
"Masalahnya dia pimpinan gangster saya mengkhawatirkan diri nona."
"Seperti kau baru kenal aku saja." jawab Alexa datar.
"Apa yang akan kau perbuat, kau tidak selevel mereka. Malah kau akan membuat penyamaran kita terbongkar." protes Alvaro khawatir.
"Pulanglah, aku akan bicara dengan gayaku."
Setelah Alvaro di paksa pergi, Alexa duduk tenang dipojok, lampu agak suram dan tidak ada orang yang akan melihat Alexa.
Alvaro ragu-ragu meninggalkan wanitanya, yang ada kini rasa malu. Yang gembong mafia dirinya bukan Alexa, kalau ada orang tahu dia diatur oleh selirnya dimana ditaruh mukanya. Tapi dia mencoba untuk mengikuti petunjuk Alexa. Mungkin dia bisa pantau dari jarak jauh.
"Alvaro suruh pengawal memberi uang pimpinan gangster itu untuk membayar, satu juta saja. Anggap buang sial."
"Alexa ada-ada saja." gerutu Alvaro membuka dompetnya. Pengawal menuju pimpinan gangster, Alvaro jalan ke parkiran bersama pengawal yang lain. Kebetulan ada dua mobil pengawal Alvaro memilih salah satunya.
Ketika Alvaro dan para pengawal keluar dari tempat parkir, Alexa diatas mengeluarkan Revolvernya dari holster yang diselipkan di pangkal pahanya. Dia mulai membidik pimpinan gangster,
"Dubbzz...dubbzz...dubbzz..."
Lima kali tembakan datang menghantam pimpinan gangster itu dan pengawal yang diajaknya. Tidak ada yang tahu, karena pistol berisi alat peredam. Alexa menyimpan kembali pistolnya dan masih ada satu peluru.
Alexa turun dari lantai dua menuju tempat parkir. Dia naik ke mobil Rubicon anti peluru kepunyaan Ady Mema. Saat dia keluar dari tempat parkir, Orang-orang sudah mulai terlihat panik ketika salah seorang pengunjung menyadari bahwa ada lima orang meninggal.
*****
__ADS_1