Cantiknya selir MAFIA

Cantiknya selir MAFIA
DITANGKAP POLISI


__ADS_3

Dua mobil pengawal yang berada di pinggir jalan menunggu mobil Rubicon. Mata Alvaro terus melihat ke tempat parkir, karena jarak mereka menunggu agak jauh, Alvaro tidak begitu melihat apa yang terjadi. Alvaro cuma melihat mobil Rubicon keluar dari tempat parkir dan ngebut dengan kecepatan tinggi melewatinya.


Alvaro salfok melihat mobilnya yang sudah hilang dari hadapannya. Mereka berusaha mengejar, Alvaro yakin Alexa kesasar, karena ini kota Ady Mema.


"Jangan-jangan itu bukan Inshira, dia tidak mungkin bisa naik mobil. Walaupun bisa tapi tidak mungkin mampu ngebut seperti jet." kata Alvaro memegang dadanya.


"Mobil Tuan kan canggih, mungkin saja Nona Alexa memencet tombol merah, jadi mobilnya ngebut. Kita tunggu berita duka saja Tuan."


"Stres aku mikirin, kenapa aku menurut dengan wanita asing yang tidak tahu apa-apa. Alexa sok tahu. Dia pikir naik Bemo apa?!" gerutu Alvaro menyesal.


"Tuan terlalu lemah, gembong mafia mosok lebay di depan nona Alexa. Dulu Tuan sangat garang."


"Diam kau, aku masih garang. Aku pura-pura lemah di depan Alexa saja. Aku mencintainya."


"Kebut dikit, mobil ini terasa lambat bergerak." keluh Alvaro mengerutkan keningnya.


"Tuan ini sudah kenceng banget, kalau tambah gas, kita bisa bye-,bye dunia. Sabar Tuan, semua berdoa semoga yang menaiki Rubicon adalah Nona Alexa, bukan penjahat."


"Ya benar, jangan-jangan yang tadi itu penjahat. Aku semakin pusing!!" teriak Alvaro menepuk jidatnya.


"Sabar Tuan ini sudah dekat."


Mobil masuk ke parkiran dengan mulus. Mereka cepat keluar untuk mencari mobil Rubicon.


"Tuan itu mobilnya..."


Karena gelap, mereka memeriksa sepintas saja, mobil tidak ada yang lecet dan masih mulus. Alvaro cepat ke kamar Alexa, dia heran melihat Alexa sudah tidur dengan pintu tanpa di kunci.


Alvaro memperhatikan selirnya dengan tatapan aneh, saat ini dia mulai curiga.


"Tookk..tookk..tookk.."


Alvaro membuka pintu, Marchel nyelonong masuk. Matanya menatap Alexa yang tidur pulak.


"Ada polisi mencari Alexa, aku tahan di parkiran. Dari CCTV polisi melihat Alexa naik mobil Rubicon di restoran Jepang. Disana terjadi pembunuhan, pimpinan gangster Black Poison beserta empat anak buahnya meninggal tertembak di kepalanya. Di perkirakan tembakan datang dari lantai dua."

__ADS_1


Alvaro kaget dia cepat keluar dari kamar menemui polisi. Marchel ikut di belakangnya, disana ternyata sudah ada Inshira, Farida dan tamu yang lain. Mereka ternyata mau pulang.


"Ini Alexa, orangnya ada di dalam, kami akan ajak kesini." kata Inshira bergegas masuk ke dalam. Dia sangat bersemangat dalam hal ini.


"Kalian ngapain disini, mengganggu saja. Pergi..." Alvaro setengah berteriak melihat


"Maaf pak Alvaro, kami petugas. Kami datang untuk menjemput nona yang ada di foto ini. Ini foto mobil dari CCTV."


"Pak petugas ini orangnya, tidak usah repot-repot mencari." Inshira datang menarik Alexa.


"Inshira, kau....." bentak Alvaro.


"Maaf Nona, kami petugas. Saya akan membawa anda ke kantor Polisi untuk dimintai keterangan karena di restoran tempat nona berada terjadi pembunuhan."


"Baik pak, saya ikut." kata Alexa.


"Masukin dia ke penjara pak sampai membusuk." Inshira melontarkan kebencian yang membuat tamu lain tertawa.


"Inshira, kendalikan mulut kau.." bentak Alvaro lagi. Inshira terpaksa berhenti mengoceh, dia menjebikan bibirnya mengejek Alvaro.


Tumben Farida terdiam melihat Alexa di gelandang polisi, biasanya dia mencaci maki. Rupanya dia ingat suaminya yang mantan kapten polisi yang di tembak Alfredo saat suaminya bertugas menggagalkan transaksi narkotika di jalan Harmoni.


Alvaro dan Marchel satu mobil, yang menyetir Marchel. Sedangkan di belakang sepuluh pengawal dalam dua mobil mengikuti, mereka dua mobil bersenjata lengkap, seperti mau perang.


Sampai di kantor polisi Alexa di bawa masuk, ada beberapa saksi lain yang ikut di tanya. Alvaro dan Marchel ikut menunggu dengan gelisah, duduk di ruang tunggu.


Pukul. 23.45 Alexa baru di tanya, dia pindah ke kursi di depan. Dua orang Polisi mulai menanyakan Alexa dengan sikap tegas. Marchel dan Alvaro mendekat dan duduk tidak jauh dari Alexa.


"Nona, sebelum penyidikan lebih lanjut, saya sebagai petugas jaga akan mencatat identitasnya, tolong di jawab dengan jujur, jangan bertele-tele."


"Maaf pak polisi, saya ingin bicara dengan komandan disini."


"Tidak bisa nona, tidak akan ada yang bisa membantu, biarpun itu kapolsek. Sekarang transparan nona semua harus jelas." kata polisi itu tegas.


"Kami para polisi bekerja dengan jujur mengabdi kepada negara dan bangsa." sambung polisi itu lagi.

__ADS_1


Alexa tidak berkata apa-apa, dia hanya menempelkan tangan kirinya ke lap top, biodatanya sudah berada di layar lap top. Raut wajah polisi itu memucat. Matanya membulat ketika membaca indentitas Alexa, sesekali mata polisi itu menatap Alexa.


"Laksanakan kapten, atau kau minta di mutasi ke Uganda." ancam Alexa.


"Siap Nona, maafkan saya tuker kepala saja." polisi itu berdiri dan memberi hormat. Alexa tidak menyangka dia langsung menyuruh polisi itu duduk.


"Duduk kau, kirim data itu ke atasan Cq. ke seluruh instansi terkait."


"Siap Nona."


Marchel dan Alvaro saling pandang, mereka heran kenapa sikap polisi tiba-tiba berubah, ada apa dengan Alexa.


"Nona trimakasih, kalau anda punya waktu komandan kami mengundang Nona ke kantor, kami menunggu."


"Kapan-kapan kapten." jawab Alexa berdiri.


"Siap Nona."


Alexa mengajak Alvaro dan Marchel keluar. Kedua orang itu menatap Alexa penuh tanda tanya.


"Kita pulang." kata Alexa tanpa ekspresi. Alvaro dan Marchel mengikuti tanpa bicara sepatah katapun. Mereka meragukan kredibilitasnya Alexa, yang mereka ajak mata-mata polisi atau siapa?


"Marchel mana kuncinya?" tanya Alexa dengan tangan meminta.


"Tapi..tapi..." Marchel ragu memberi kunci kepada Alexa, dia menoleh kepada kepada Alvaro. Pria itu hanya mengangguk.


"Kalau kau tidak paham menyetir over ke aku, masalahnya mobil ini banyak tombolnya." kata Marchel menyerahkan kuncinya.


"Oke, kita pulang."


Alexa naik ke mobil memakai sabuk pengaman. Alexa mengenakan gaun yang pahanya terbelah, Alvaro dan Marchel sangat jelas melihat pistol dan pisau terbang menyembul di holster, Mereka menyimpulkan bahwa yang membunuh pimpinan gangster itu Alexa.


Tidak sepatah katapun keluar dari bibir mereka bertiga. Alexa memacu mobilnya dengan arah berbeda, dia tidak ingin lewat restoran Jepang lagi. Walaupun dia tidak pernah ke kota ini tapi Google Maps menunjukan arah ke rumah Alvaro.


Karena ada Alvaro dan Marchel membuat Alexa memacu mobilnya sedikit sedang, tapi masih membuat Marchel dan Alvaro was-was saling pandang.

__ADS_1


Mobil masuk ke Mansion Ady Mema Alexa langsung menuju parkiran. Mereka bertiga turun. Ternyata di ruang tengah masih terlihat Farida dan Inshira, nyonya Rodrigo dan pelayan.


*****


__ADS_2