Cantiknya selir MAFIA

Cantiknya selir MAFIA
TIPU MUSLIHAT


__ADS_3

Alvaro memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, dia ingin cepat sampai di rumah dan istirahat. Dia baru merasa capek. Marchel yang duduk disampingnya duduk tepekur ntah apa yang dipikirannya.


Pukul. 11.45 Alvaro akhirnya sampai di Mansion, dia langsung menuju kamar, tapi Farida mencegatnya, dia mengajak Alvaro menuju Klinik.


"Alvaro, kata dokter papa sudah sadar, mama ingin mengajakmu pergi ke klinik." kata Farida tersenyum sumbringah.


"Apa itu benar, mari kita ke klinik." Alvaro langsung keluar kamar. Dia berjalan dengan langkah lebar bersama Farida. Harapannya supaya papanya benar-benar sadar dan bisa diajak bicara.


Sampai di klinik sudah ada 10 calon istri Alvaro dan Inshira serta Nyonya Rodrigo sedang menunggu. Farida dan Alvaro datang dengan tergesa- gesa. Alvaro sampai sepet matanya melihat wanita pilihan mamanya yang berseliweran di mana-mana. Sungguh membuat Alvaro gerah melihatnya.


Mereka tidak jelek juga, standar, tapi terlihat lebay dan murahan. Dulu Alexa tidak begitu. Wanita-wanita ini menyebalkan. Pengawal juga ada di mana-mana mereka berjaga dengan ketat. Seorang suster keluar mengajak Alvaro dan Farida masuk ke dalam sal.


Tempat tidur Ady Mema sekarang di kurung dengan tirai keliling mungkin maksudnya supaya orang lain tidak bisa melihat kecuali orang yang berkepentingan.


"Tuan duduk disini, tunggu sampai beliau bangun." kata suster itu ramah.


Alvaro duduk dengan gelisah, Farida dan Inshira mulai menyiapkan rekaman, untuk merekam omongan Ady Mema.


"Silahkan Tuan." kata perawat mempersilahkan Alvero duduk di samping tempat tidur Ady Mema.


Alvaro kaget melihat seluruh kepala dan wajah papanya di perban. Sisa mata dan bibir yang bebas dari perban. Papanya menatap Alvaro dengan tajam.


"Papaa....apa kau melihat dan mendengar suaraku?" kata Alvaro sedih, papanya mengangguk.


"Ini pesan terakhir dari papa, jika papa meninggal tolong nikahi sepuluh gadis yang disiapkan oleh mamamu. Itu semua demi penerus keturunan keluarga. Begitu juga harta, bagikan kepada mereka. Papa tidak akan lama." selesai berkata begitu papanya langsung menutup mata, lehernya terkulai lemah.


"Papaa...." Alvaro menjerit.


"Tenang Tuan, tolong yang lainnya keluar dulu, pasien dalam keadaan kritis."


Mereka semua keluar, Alvaro keluar memeluk mamanya, dia sangat terharu.

__ADS_1


"Alvaro, kau harus bersyukur bisa bicara dengan papamu. Sekarang kita pulang untuk mempersiapkan segala sesuatunya." kata Farida tersenyum puas. Alvaro merasa aneh melihat Farida tidak bersedih sama sekali malah Farida terkesan enjoy.


Marchel datang bersama empat pengawal inti. Mereka ikut duduk di ruang keluarga. Wajah Farida terlihat bersinar, sesekali dia menebar senyum liciknya. Marchel yang tahu Farida ibunya Alexa, memperhatikan setiap kata yang di ucapkan wanita itu. Dia sudah tidak resfek kepada Farida, Inshira dan Nyonya Rodrigo.


"Selamat siang semuanya, dengan sangat menyesal saya sampaikan kepada Nyonya Farida dan Tuan Alvaro, kami dari team kedokteran menyatakan bahwa Tuan Ady Mema tidak bisa kami selamatkan. Kami mohon petunjuk lebih lanjut."


"Trimakasih dokter atas kerja samanya, untuk sementara kami akan berdiskusi dulu, karena masih ada saudara dan kerabat yang perlu diminta sarannya."


"Mama apa tidak sebaiknya papa dikebumikan dahulu, sebelum acara nikah dilaksanakan?"


"Kau menikah dihadapan jazad papa sebelum di kebumikan, kau juga bertanya kepada notaris, katakan kita mau bagi waris."


"Bagi waris bisa saja setelah acara selesai, itu masalah sepele yang penting papa di utamakan."


"Nanti kita rapatkan lagi, hari ini cukuplah, mama mau memberitahu semua kerabat." kata Farida.


Marchel mengajak Alvaro ke ruang kerja Ady Mema, dia menarik kursi untuk Alvaro.


"Silahkan duduk Tuan, kita tunggu pendapat dari Alexa, sepertinya dia tahu sesuatu dari klinik." kata Marchel.


"Tuan Alvaro, saya merasa aneh kalau Tuan besar tiba-tiba sadar dari koma dan memberi pesan, setelah itu mati. Tidak masuk akal. Tuan besar koma, bukan pingsan. Saya merasa ada yang janggal."


"Sulit ngomong sama orang yang banyak pertimbangan. Aku adalah anaknya jadi tahu itu papaku. Untuk apa dia menipu, dia cuma menyuruh aku membagikan warisan, jika tidak disuruhpun aku akan bagikan kepada anak-anakku kelak." kata Alvaro kesal.


"Saya hanya mengingatkan supaya Tuan Alvaro lebih hati-hati kepada lingkungan Tuan sekarang."


"Aku tidak sependapat dengan kau, jika kau ingin mendengar omongan Alexa silahkan. Aku benci padanya." kata Alvaro tajam.


Marchel tidak menjawab, dia pergi dengan perasaan tidak menentu. Dia masuk ke kamarnya dan mengambil ponselnya.


"Hallo....." suara Alexa terdengar lelah saat Marchel meneleponnya.

__ADS_1


"Apa kau tidak pulang, Ady Mema barusan meninggal setelah memberi pesan-pesan yang tidak masuk akal."


"Aku sudah membaca dari sosmed, aku tidak peduli itu hak Farida dan Alvaro."


"Kau tidak cemburu melihat Alvaro dengan sepuluh cewek cantik yang akan mengelilingi singgasananya."


"Cemburu itu pasti, tapi perasaan itu aku bisa kesampingkan demi tujuan utama yang ada di pundakku."


"Siapa kau sebenarnya Alexa, aku ingin membantu kau. Apa tujuan kau berada di tengah kami. Sepanjang ini aku tahu hanya sedikit."


"Marchel, kau tidak usah tahu diriku, yang perlu kau tahu sekarang adalah keadaan Ady Mema. Kau harus ke klinik cari dokter dari luar untuk otopsi, karena aku pernah melihat yang ada di bed adalah orang lain, bukan Ady Mema."


"Astaga, ini pasti rekayasa Farida dengan dokter di klinik. Berarti bapak yang kemarin itu bisa saja masih hidup."


"Aku yakin pasti hidup, jika Alvaro sulit diajak kerja sama kau ambil Inshira, saat ini wanita itu pasti lagi marah, karena Alvaro akan menikah dengan sepuluh gadis cantik. Jika kau iming-imingi uang pasti dia akan meleleh."


"Ya sudah, kalau begitu aku akan coba mendekatinya." jawab Marchel menutup ponselnya.


Ketika Marchel kembali ke ruang tengah sudah banyak pengawal yang turun mengambil pekerjaan. Marchel menghampiri Inshira yang duduk bersama sepuluh wanita calon istri Alvaro.


"Inshira kita ngobrol di bar." kata Marchel terpaksa ramah.


"Aku lebih senang kalau kau mengajakku ke tempat tidur. Aku bosan minum, kalau kau mau aku akan ladeni."


"Oke, kau ke kamarku." kata Marchel menggandeng Inshira naik lift ke lantai dua.


Sampai di kamarnya Marchel, Inshira langsung memeluk pria itu dengan ciuman membabi buta.


"Sabar Inshira, aku tidak mau grasa grusu, hubungan ini aku lakukan jika kau mau membantuku di dalam memecahkan masalah kematian Ady Mema."


"Masalah apa, apa kaù ingin tahu siapa yang memindahkan Tuan besar ke peti mati?"

__ADS_1


"Kamilah, karena Alvaro tidak pernah peduli dengan papanya." kata Inshira memeluk Marchel.


****


__ADS_2